Beberapa jam kemudian di kelas 10-A..
Celine, dan Yuki berdiri di depan kelas. Hendak memperkenalkan diri sebagai murid baru pindahan dari Jakarta.
“Namaku Celine, salam kenal.” Gadis itu membungkukkan badannya meniru sikap ala orang Jepang.
“Aku Yuki,” sambung pria itu tanpa ekspresi, ucapannya senantiasa datar tanpa intonasi.
“Wow! Cewek itu manis sekali! Dia tipeku tuh!” tukas salah satu siswa.
“Akh! Memangnya dia mau ama loe? Cowok yang bertampang dingin itu kayaknya pacarnya deh,” balas siswa lainnya.
“Kyaa! Pangeran! Ada pangeran, cakep amat!” seru salah satu murid.
Sementara itu di kelas 10-B
Nida dan Orchid berjejer rapi di depan kelas.
Lagi-lagi Nida kembali dikejutkan atas kemunculan Orchid yang selalu saja secara tiba-tiba.
“Aku kira kau ada bersama ilmuwan?”
“Iya, lab dan bengkelnya kan ada di sini,” jawab Orchid enteng.
Sang guru kemudian mempersilakan keduanya untuk memperkenalkan diri.
“Yo! salam kenal semuanya..” Nida memberi salam seraya mengangkat lengan kanan.
Orchid memperkenalkan dirinya dengan suara lantang, “Nyahahaha, aku Orchid..!”
Para murid berbisik-bisik mengomentari murid baru di hadapan mereka, “Kalo gak salah, katanya Nida itu sudah 20 tahun? Mereka gak naik kelas atau apa?”
“Aku juga mau 20 tahun lho,” ucap Maria, tepat di belakang dua siswi tadi.
“Eeeh,” mereka berubah panik. “Bu-bukan itu. Kalau Kak Maria kan cuti sekolah karena sibuk membela Negara.”
“Dia juga sama,” balas Maria. Sorot matanya diarahkan kepada Nida.
“Nida boleh duduk di sana.” Telunjuk wali kelas tertuju pada kursi kosong tepat di samping kiri Maria.
“Wow, kursi khas seorang Main Character,” komentar Orchid.
Nida berjalan menuju kursi tepat di samping jendela. Kakinya kemudian terantuk pada kaki meja. Pria itu kehilangan keseimbangan.
“Nida, awas!” Maria berusaha mencegah. Ia sontak memiringkan tubuhnya untuk meraih tubuh Nida.
Lengan Nida secara refleks bergerak cepat, berusaha menjangkau apa pun.
Naas, lengan pria itu malah mendarat di tempat yang salah. Seraya wajahnya menubruk lantai, jemari kiri dia terbenam dalam pada tonjolan di d**a Maria.
Tak ada jerit panik dari Maria, dia bukan seorang perempuan tsundere yang refleks menendang lawan jenisnya. Gadis itu paham, Nida sungguh tak sengaja.
Akan tetapi, Orchid seketika berubah siaga. Ia merasakan hawa ancaman dari beberapa murid lain di sekeliling. Lengan mereka terlihat meraih pistol yang tersembunyi di bawah meja, di dalam kantong, atau bahkan di balik rok seragam sekolah.
“Nyahahaha, rupanya kita bukan satu-satunya pegawai di sini,” cetus Orchid.
Setengah populasi kelas ini mungkin diisi oleh para bodyguard yang menyamar. Entah Maria sendiri sadar akan hal itu atau tidak.
.........
Pelajaran pertama berakhir begitu saja. Nida keluar dari kelas lengkap dengan raut wajah kosong seperti orang kelaparan. Tak terasa hawa kehidupan di sana. Suram, begitu kental dengan aura kematian. Persis seperti pegawai kantoran yang baru dipecat.
“Yuki, gimana pelajaran pertamamu?” tanya Nida.
“Dia itu jenius! Bisa menjawab semua pertanyaan sampai gurunya sendiri marah-marah,” jelas Celine penuh semangat.
“Itu kan cuma pengetahuan umum para penyihir,” jawab Yuki ketus. Dia memang penyihir bersenjatakan pistol kembar.
“Tapi Nida hebat lho, untuk pelajaran Bahasa Inggris dan Jepang dia bisa dengan fasih berbicara dengan guru.” Maria mengucap menambahkan.
Nida tak berkomentar apa pun. Untuk pelajaran Bahasa ia sebenarnya berbuat curang. Sihir penerjemah yang diajarkan Yuki dahulu rupanya cukup berguna dalam situasi yang tak ia duga.
Saat ini Nida bisa merasakan tatapan sinis dari Yuki dan Celine. Mereka berdua tidak mengucap apa pun selain berdehem mencipta batuk dibuat-buat.
Siang hari menjelang waktu istirahat. Semua orang menikmati makan siang di kafetaria. Letaknya berada di taman sekolah samping danau. Duduk sambil menikmati pemandangan danau, bercanda serta beranda gurau, berusaha melupakan segala permasalahan walau hanya sejenak.
“Lama aku tak merasakan hal seperti ini,” ucap Maria lirih. Sorot mata sendu itu menyiratkan rasa kesepian.
Sesuatu menggelitik pikiran Nida, “Kupikir Tyan dan Arby itu teman dekatmu.”
Maria menjawabnya dengan sebuah gelengan. “Entahlah, seingatku kami sudah berteman sedari kecil. Bermain bersama, tumbuh tak terpisahkan. Entah kenapa, kini tercipta semacam jarak di antara kita.”
Berteman sejak kecil, katanya.
Entah kenapa batin Nida serasa tertohok. Ia tak seharusnya memancing topik ini.
........
Esok harinya,
“Wooow…” seisi kelas dibuat terkesiap. Tercengang menyaksikan Yuki mengerjakan soal matematika kelas 3 SMA. Papan tulis tampak dipenuhi rumus aritmetika dan aljabar. Angka beserta tulisan padat mengisi, bahkan lingkaran sihir pun tak lupa ia gambar.
Tak seorang pun memahami rumus-rumus itu, sekilas terlihat seperti huruf bangsa Sumeria kuno. Entah apa yang Yuki pikirkan.
“Jadi, apa kau masih meragukanku?” Yuki mengarahkan pandangan tajam, menusuk mata guru matematika dibarengi dengan suara datar. Tatapan matanya persis seperti vampir haus darah.
“Hii… hiiiiiy…!!!” Guru di hadapannya mundur ketakutan, kabur keluar ruangan dengan langkah terbirit-b***t, “Tidak mungkin! Bahkan aku aja gak ngerti sama sekali!” serunya histeris, seraya melarikan diri seolah sedang dikejar hantu.
Seisi kelas bertepuk tangan atas kehebatan Yuki.
Dan begitulah, setiap guru yang datang ke kelas 10-A pasti akan bertekuk lutut atas kegeniusannya. Suatu hal yang membuat para guru menaruh dendam secara sembunyi.
Dalam tempo beberapa hari saja, Yuki menjadi terkenal selayaknya artis. Mereka begitu dihormati, hingga rela mendirikan fansclub untuk Yuki. Grup itu berisikan perempuan yang tergila-gila pada mereka berdua.
**************
Sementara semua orang sibuk bersekolah. Nida berjalan sendirian di belakang gedung administrasi. Tiap langkah diayunkan menaiki tangga menuju puncak bukit. Mengendap pelan melewati lorong dari tumbuhan, menuju rumah kediaman Maria.
Nida memutar Lockpick dengan perlahan, benda itu berhasil membuka pintu yang terkunci.
“Gak ada orang,” gumamnya pelan, seraya memeriksa seisi rumah.
Nida ingin membuktikan seluruh kecurigaannya.
Ia harus memeriksa segala sesuatu tentang Maria, termasuk memasuki ruangan pribadinya.
Perlahan Nida membuka pintu ruangan; ranjang kecil, meja rias, lemari beserta cermin besar tergantung di dinding. Tipikal ruangan pribadi seorang gadis pada umumnya.
Tak ada yang aneh. Nida kemudian memeriksa lemari baju. Di sana ada pakaian Maria lengkap dengan bra dan celana dalam. Wanginya sangat khas seorang gadis perawan.
Nida memeriksa benda itu, pikirannya malah melamun membayangkan hal kotor. Dia bahkan harus menampar pipi sendiri demi meredam hasrat yang mengacung tak terkendali.
Pikirannya harus fokus akan tujuan awal. Tindakan ini sangat berisiko, terlebih jika pemilik rumah pulang kemari. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu jika ia mendapati Nida tengah mengendus celana dalamnya.
Sesuatu tampak menarik perhatian, sebuah bingkai foto kecil tergeletak di meja rias. Di dalamnya tersimpan foto sepasang murid SMA dengan baju khas St. Mary. Di sebelah kiri ada gadis berambut biru— yang tak lain adalah Maria.
Pria di sebelah Maria memiliki rambut cokelat Panjang, disisir ke kanan hingga menutupi mata. Alis matanya tipis, dan membentuk sudut di kedua ujung, persis seperti bentuk checklist yang dibalik.
“Ini … aku?” Nida seolah tak percaya. Pria di samping Maria sangat mirip dengan dirinya. Apa mungkin itu memang dia? Tapi ia tak ingat pernah berfoto dengan Maria di sekolah ini.
Ditelisik lebih jauh, penampilan semua orang di sana terlihat lebih muda dari Maria yang sekarang. Di sana juga terdapat Arby, Tyan, dan beberapa orang lain yang tidak ia kenal.
Alis Nida mengerut, menajamkan mata seraya memeriksa lebih jeli. Ada yang aneh dengan iris mata Maria. Gadis berambut biru itu terlihat memiliki mata hijau terang. Bukan biru safir seperti yang ia tahu.
Mereka mirip, tapi entah kenapa raut wajah itu terlihat berbeda. Sorot matanya tidak terlihat seperti Maria yang senantiasa sayu. Gadis dalam foto itu memiliki tepian bulu mata menusuk tajam— seperti Yuki.
Sesuatu terdengar dari belakang, terdengar seperti suara daun pintu mengeret terbuka.
Nida sontak berbalik, jantungnya serasa meledak, wajahnya berubah pucat pasi.
Ia ketahuan, Maria berdiri di sana. Matanya membelalak tak percaya.
“Len…”
Gadis berucap lirih. Lengannya menjatuhkan Ipod dalam genggaman.
Nida tersadar akan sesuatu, mata gadis itu terlihat berwarna hijau. Pandangan matanya juga terasa dingin menusuk. Persis seperti yang ada di foto.
Dia bukan Maria yang tadi pagi bercengkerama dengan dirinya.