“Jadi dia itu bukan makhluk jahat?” Celine berusaha meyakinkan. Kakinya ia istirahatkan dengan duduk di atas batang pohon tumbang.
“Ia malah berniat baik untuk membantu agar kita bisa keluar dari sini,” ucap Yuki.
“Tahu dari mana?”
“Dia sendiri yang memberi tahu,” jawabnya cepat. Yuki terlihat melipat kaki, bersila di hadapan pocong yang sedang duduk lesehan. Mereka berdua asyik bercengkerama menggunakan bahasa Sunda.
Nida tertegun seraya mengomentari, “Mereka akrab sekali..”
Masing-masing beristirahat seraya memperhatikan Yuki yang sibuk mendengarkan curahan hati sang pocong. Hantu berbentuk pepesan manusia itu sesekali mengangguk dengan linangan air mata. Entah apa yang mereka bicarakan.
“Tempat ini disebut angker karena keberadaan bola pijar yang dulu pernah jatuh ke bumi. Benda bercahaya itu mendarat di atas gunung yang hendak kalian tuju. Sejak saat itu, muncul makhluk-makhluk baru yang lebih kejam dan sadis dari bangsa kami.”
Yuki dengan fasih menerjemahkan segala perkataan sang pocong. Pria itu berhasil mendapatkan beberapa info menarik.
“Makhluk halus?” tanya Nida. Ia mulai terbiasa dengan keberadaan sang pocong.
“Tak hanya para hewan dan manusia, kami yang tak memiliki raga kasar pun ikut terusir oleh keberadaan makhluk baru itu. Banyak dari kami yang gugur akibat berperang,” lanjut Yuki menerjemahkan. Tak hanya perkataan, gerak badan sang pocong pun bahkan ikut ia tiru. Membuatnya terlihat seperti robot peniru.
“Makhluk halus ternyata bisa mati juga ya?” kata Nida heran.
Sejenak Adiw mengalihkan perhatiannya pada Maria. Gadis itu terlihat antusias mendengarkan penjelasan sang Pocong. Maria sepertinya belum memahami, bahwasanya tiap kali dia mengerahkan kemampuan sihir dahsyat, sesungguhnya ada banyak nyawa makhluk halus di alam gaib musnah terkonsumsi. Mereka dijadikan energi sihir, utamanya di lokasi sekitar tempat Maria merapal mantra.
Pun begitu, segala informasi yang didapat oleh Adiw ketika menyamar sebagai anggota WCS, malah dijadikan rahasia negara. Atas arahan Tyan dan wakil presiden, Maria dianggap lebih baik tidak mengetahuinya sama sekali. Mereka khawatir itu akan mencipta semacam perasaan bersalah. Negeri ini tak ingin mendapati sang pahlawan menurun performanya, andai kekuatan gadis itu kembali dibutuhkan dalam kejadian konflik bersenjata.
Lalu senada dengan Adiw, Celine terlihat merenggut memikirkan sesuatu.
Sepengetahuan Celine, makhluk halus hidup di dunia terpisah dengan para manusia dan makhluk hidup lainnya. Kalau tak salah di dunia bernama alam Gaib.
Ambil Merkayangan sebagai contoh. Tempat itu adalah nama suatu daerah di alam gaib. Meski secara letak koordinat berada di Benua Amerika, tapi sejatinya Merkayangan dan dunia manusia adalah dua semesta yang terpisah.
Gundukan pasir seberat 50 ton di dunia itu, mungkin berisikan tanah kosong di alam manusia, meski secara teknis si pasir ada di lokasi yang sama.
Namun Celine berani menjamin, tempatnya saat ini berpijak masih berada di dimensi fisik. Buktinya, ia masih bisa melihat St. Marry di seberang danau. Jadi ini bukanlah alam metafisik.
Adiw pernah menjelaskan bahwa sejatinya bangsa Jin hidup dalam tingkat vibrasi yang berbeda. Mereka hanyalah energi murni, tidak memiliki raga fisik.
Lantas kenapa Pocong di hadapan dia kini terlihat begitu nyata? Rerumputan tempat makhluk itu terduduk juga bengkok, selayaknya benda solid memiliki bobot masa. Kenapa para makhluk gaib ini muncul di dunia fisik? Tubuh mereka seakan termaterialisir secara sempurna ke dalam semesta manusia.
Tak hanya sang pocong, Celine bahkan bisa menangkap keberadaan ratusan makhluk gaib lain yang mengintip dari balik hutan di kejauhan.
“Ada apa ini?” Apakah semesta gaib di lokasi ini telah berasimilasi dengan dunia fisik? Mode detektifnya aktif tanpa ia sadari. Gadis itu bertopang dagu mengikuti kebiasaan Yuki. Mungkin itu jadi alasan kenapa Maria tak bisa menggunakan sihir. Karena di tempat ini, seluruh penghuni alam gaib tertarik masuk ke dalam semesta fisik.
Sementara itu, sang pocong masih memberikan penjelasan Panjang lebar.
“Pimpinan mereka gemar membawa manusia betina untuk dikonsumsi.”
“Di-di konsumsi!? Maksudmu dimakan!?” Nida terperanjat kaget.
“Bukan.. Tapi dijadikan sebagai bahan peranakan.”
“Peranakan?” semua orang bertanya berbarengan, satu kata itu terasa menggelitik benak pikiran.
“Ya.. mereka akan langsung dikawini oleh sang pemimpin agar kelak bisa melahirkan keturunan. Teman kalian yang perempuan juga sudah ada yang dibawa ke sana.”
“Kurang ajar! Akan kubunuh makhluk m***m itu!” Nida berteriak penuh amarah, ia memukul kepalan tangannya sendiri. Meski secara pribadi, sulit baginya membayangkan bagaimana Orchid disetubuhi.
“Ngomong-ngomong, tiga orang hitam-hitam itu ke mana?” cetus Celine.
Semua orang langsung terdiam.
“Eh iya, betul.” Maria berubah panik.
“Sepertinya kita terpisah ketika melarikan diri dari makhluk (??) ini,” Celine berucap sambil menunjuk pocong.
Suara daun bergoyang terdengar dari arah hutan. Semua orang seketika bersiaga penuh.
Alih-alih mendapatkan kemunculan musuh, di sana muncul Arby dari balik semak belukar. Langkahnya terlihat gontai, kelelahan hendak pingsan. Semua orang sontak menghampiri pria itu.
“Cewek sialan..” Napasnya semakin lemas. Ia pun tumbang tak lama kemudian.
“Cewek?” Nida dibuat penasaran.
Di belakangnya terdapat Tyan dan Adiw dengan tubuh dipenuhi luka. Lengan Adiw bahkan terlihat tertekuk ke arah yang berlawanan. Sementara itu Tyan terlihat menyeret kakinya yang gontai dengan patah tulang terbuka.
“Celine!” Nida memerintahkan penyembuh di timnya untuk segera beraksi.
Gadis itu mengangguk tanda mengerti. Segera saja ia raih tubuh Adiw. Tak lupa ia merapal sihir untuk menyembuhkan luka dari dua orang lainnya.
….
Sementara itu, di sebuah gua di puncak gunung...
“Jadi kau belum berhasil menangkap gadis satunya lagi?”
Seseorang duduk di sebuah kursi singgasana, suaranya terdengar dalam nan parau. Perawakannya tinggi besar, mengenakan jubah berkerah tinggi seperti bangsawan di abad pertengahan.
“Maafkan aku ayah. Akan aku lakukan secepat mungkin.” Seorang perempuan menunduk ala ninja di hadapan pria tadi.
“Sebaiknya cepat! Atau kau tak akan mendapatkan jatah Minggu ini,” bentaknya tak sabar. Berdiri dari singgasana lalu berjalan mendekat. Lengan berisikan kulit pucat itu memegangi dagu sang gadis.
Gadis tadi menjawab dengan suara ketakutan, “Ba.. baik..”
“Bagus! Sekarang pergi dan rebut kembali perempuan lain untuk menjadi pengantinku! KUHAHAHAHA!!”
Di belakangnya— tampak Orchid tengah tergeletak tak sadarkan diri. Tubuh gadis itu menempel pada tumbuhan merambat. Sulur dari akar-akar itu melilit tangan dan kaki.