Catatan No. XXV: “Hiking”

1379 Words
Sebulan setelah Nida dan kawan-kawan bersekolah di St. Mary… Nida, Orchid, Celine, dan Yuki berdiri di penghujung dermaga. Semua orang berpakaian alam liar lengkap dengan peralatan kemah. Puluhan murid lain berkumpul di tempat itu. Nida mengerutkan alisnya, menunjukkan rasa malas “Berkemah di gunung yah? Ada juga acara macam beginian.” Sekolah ini memiliki tradisi tahunan yang mewajibkan tiap murid untuk tidur di alam terbuka. “Rebahan di atas rumput, memandangi bintang rasanya terdengar menyenangkan.” Celine membayangkan semacam romantisisme alam liar. “Kau yakin bakal menyenangkan?” Yuki memotong angan-angan Celine, “Sepertinya lokasi camping terletak cukup dekat dengan lokasi [itu].” Raut wajah Celine seketika berubah serius. Telunjuk Yuki mengarah pada sebuah gunung berbatu di seberang danau. Sejak awal tiba di sini, keduanya sudah merasakan beberapa kali erupsi Manna dari arah sana. Sebagai sesama penyihir, tubuh mereka memang memiliki semacam radar untuk bisa merasakan arah kedatangan energi supranatural tersebut. Keduanya tiba pada suatu kesimpulan, “Ada orang yang mampu menggunakan Manna di sana.” Dugaan sementara; Mungkin ada cabang lain dari WCS yang sedang mempersiapkan sesuatu, atau ada penyihir lain yang belum diketahui keberadaannya. Mereka tak boleh lengah. Seseorang kemudian berseru dari kejauhan, “Halo teman-teman.” Maria muncul dari balik balkon kapal Fery. Benar dugaan Yuki. Tujuan mereka terletak di seberang danau, di bawah kaki gunung berbatu itu. Bagian puncak gunung terlihat diselimuti awan. Rasa curiga di benak Yuki semakin menajam. ............ Beberapa jam berlalu, kini mereka tiba di seberang danau. Nida agak heran ketika mendapati Tyan, Arby, dan Adiw ternyata sudah berdiri di penghujung dermaga tujuan. Mereka sudah menanti kedatangan sang presiden. Mungkin segalanya sudah dipersiapkan dengan matang, dari logistik, sampai ke teknis pengamanan. Gunung Parang terlihat kecil jika dilihat dari sekolah. Namun kini ukurannya terasa menjulang tinggi. Puncaknya terlihat seakan menembus lapisan langit. Yuki menyibukkan diri dengan membantu Nida menurunkan peralatan berkemah. Namun sesuatu menarik perhatiannya. Trio elit—Tyan, Arby, dan Adiw—terlihat sedang mengerumuni Maria. Mereka mendiskusikan sesuatu. “[Kotak]?” Yuki membeo pada apa yang ia dengar. Pria itu menyimak secara hati-hati walau dari kejauhan. Telinga agak meruncing panjang itu bukan sekadar pajangan. Bangsa Elf seperti dia memiliki kemampuan khusus sejak lahir di bidang pengindraan. Rumah penduduk tersusun rapi di sepanjang pesisir danau, jalanan besar dari bebatuan memanjang condong ke arah sebelah kanan. Di sana, rute mendaki sudah ditetapkan sejak awal, jadi kecil kemungkinan bagi peserta untuk tersesat dalam pendakian. “Kita sampai,” Maria terlihat bersemangat, lengannya menaruh tas berukuran besar. Para murid lainnya ikut serta menyusuri jalan setapak menaiki bebatuan. Beberapa panitia terlihat turut mengawasi. Namun Maria berbelok ke arah kiri, memisahkan diri dari jalur pendakian yang sudah ditetapkan. “Mau ke mana?” tanya Nida. “Khusus buat teman-temanku dari Exiastgardsun, kita semua akan pergi ke sana.” Gadis itu menjawab penuh semangat, lengannya menunjuk ke sisi lain pegunungan. Sisi yang menghadap danau, dengan permukaan terjal terhampar bebatuan. Hutan di kaki gunung itu terlihat menyeramkan, dikelilingi kabut tebal, menghalangi sinar matahari hingga gagal mencapai permukaan. Tebingnya curam penuh dengan bebatuan tajam. Tak ada rumah penduduk atau siapa pun di sana. Tempat itu sepertinya angker tak berpenghuni. “Ngapain kita ke sana?” tanya Nida. “Berpetualang.” “Haaaa~...???” semua orang melongo. “Ah ayolah, kalian kan kuat.. jadi gak ada masalah dong kalo di jalan ada apa-apa. Aku yakin kemunculan beruang atau harimau bukanlah sebuah ancaman.” Tak ada seorang pun yang membantah. Sosok Maria entah kenapa terasa kekanak-kanakan, terlebih ketika ia menginginkan sesuatu. Almarhum Fia di Exiastgardsun juga sama persis seperti ini. Sifatnya kali ini membuat lidah Nida terasa kelu. Pria itu agak menunduk, berusaha menyembunyikan wajah pucat berisikan tatapan gamang. Ia senantiasa menahan nyeri di d**a acap kali melihat Maria melakukan sesuatu mirip yang dengan tunangannya. “Berpetualang? Anda itu kan pimpinan di sini, kenapa bisa bertindak seenaknya menyalahi prosedur?” Yuki sama sekali tak menahan diri untuk mengomentari. Ucapannya itu terdengar kasar. Maria terlihat ciut, ia melangkahkan kaki mendekati Nida, lalu berlindung di balik punggungnya, “Aku jarang sekali bersenang-senang, setidaknya tanpa pengawalan t***k bengek administrasi dan birokrasi negara. Aku tak senang dengan keberadaan mereka.” Celine paham apa maksud Maria. Sepanjang mata ia menyelidik ke sekitar, ia senantiasa mendapati keberadaan pria bersetelan hitam—sejenis dengan Tyan—bersiaga di kejauhan. Mereka memang bertugas melindungi Maria. Akan tetapi, hal itu ternyata mencipta dampak psikologis seperti perasaan dikekang. “Kau yakin?” Nida berusaha meyakinkan. Pria itu menatap dalam langsung menuju mata Maria, seakan meminta konfirmasi. Gadis berambut itu mengangguk mantap, selayaknya anak kecil yang memaksa untuk menaiki wahana. Sang raja Exiastgardsun lantas mengembus napas sejenak. “Tanpa ada ekstra pengawalan?” Arby ikut meyakinkan. Maria mengangguk disertai senyum. Seratus meter mereka memisahkan diri dari kerumunan dan memasuki hutan belantara. Detik itu Yuki tersadar, mereka benar-benar sendirian. Para penembak runduk di kejauhan tak lagi memosisikan diri di tempat tertinggi. Tak ada perlindungan dari jarak jauh andai terjadi suatu ancaman. Tim pengintai juga tak terlihat keberadaannya dalam membuka jalan tanpa sepengetahuan. Yuki mencium adanya masalah dalam rute yang diambil. Pikirannya melanglang buana, membayangkan kemungkinan terburuk. Segala sesuatu memang selalu terlihat mencurigakan di matanya. …. Beberapa jam berlalu begitu saja… Semua orang tiba di lembah penuh dengan pepohonan. Tempat itu gelap ditutupi mendung sepanjang hari. Kubangan lumpur di kejauhan—mengintip dari sela-sela pepohonan–terlihat jelas berisikan air hitam bergelembung. Di dalamnya terdapat seonggok kerangka hewan membusuk. Ukurannya besar, dihiasi beragam gigi tajam dan tulang ekor yang panjang. Tulang rusuknya bahkan berukuran sebesar bus sekolah. Sekilas kerangka itu terlihat seperti fosil dinosaurus? Segala sesuatu di hutan ini benar-benar asing. Suasananya seperti sedang berada di planet lain. Pepohonannya besar dan menjulang tinggi. Langit terlihat gelap dirundung mendung. Suhu udara juga dingin menusuk. Kabut tipis menutupi sela-sela kayu. Yuki bersumpah, sesekali ia menangkap sekelebat bayangan hitam di antara semak belukar. Bulu kuduk terasa berdiri dengan sendirinya. Suasana di sana entah kenapa terasa mencekam. Nida dan yang lain berjalan tanpa arah, menembus semak belukar di lautan pepohonan. “Pohon ini terasa familier.” Lengan Yuki meraba permukaan pohon. Di sana ada bekas goresan pisau yang ia ukir beberapa waktu lalu. Mereka tersesat. “Ki-kita ada di mana~!?” seru Celine panik. Jemarinya erat mencengkeram kerah lengan Nida. “Mana aku tahu,” balas Nida berusaha menyembunyikan panik. “Alat navigasi kita sepertinya rusak.” Tyan melapor dengan wajah datar. Memperhatikan kompas di genggaman tangan dengan ujung jarumnya berputar tak menentu. Nida bersumpah, sedari tadi ia menjadikan gunung di kejauhan sebagai patokan dalam menentukan arah. Danau ada di sebelah kiri dari tebing berbatu itu. Kenapa mereka masih bisa dibuat berjalan memutar-mutar? Arby termenung memeriksa radio, telepon genggam, dan peralatan komunikasi lainnya, “Bahkan sampai sinyal radio pun lenyap?” “Mungkin daerah ini dipenuhi kandungan logam.” Adiw berucap seraya memastikan Maria agar tak terjatuh. Gadis itu tampak sangat kelelahan. Logam tidak bisa menjelaskan segala anomali tersebut. Yuki merasa ada yang tidak beres dengan betapa tenangnya tiga orang berpakaian jas hitam itu. “Semuanya, maafkan aku. Gara-gara aku.. kalian semua menjadi kesusahan seperti ini.” Maria meminta maaf sambil tertunduk malu. Celine di lain pihak, terlihat sama letihnya dengan Maria, “Manna di sini tipis sekali. Bahkan lebih langka dari tempat sebelumnya.” Sama halnya dengan gadis itu. Yuki juga merasa tubuhnya nyaris tak bisa menyerap apa pun. Rasanya tak sebanding dengan Manna yang dikeluarkan, “Untuk memperkuat langkah kaki saja aku harus berpikir dua kali.” “Kak Maria tidak bisa sihir berjenis teleportasi?” Celine mulai merengek. “Bisa, tapi tidak di tempat ini.” “Kenapa?” “Alasan yang sama dengan kenapa sekarang kamu nyaris dibuat lumpuh.” “Kukira sihirmu tidak menggunakan Manna.” Yuki mengucap sarkastik. “Aku tahu, itu sebabnya ini membingungkan.” Maria menatap kedua lengannya tak percaya. Pandangan Yuki tiada henti menyapu alam sekitar. Sejak memasuki hutan ini, dia sudah mendapatkan firasat tak mengenakkan. Mulutnya lantas bergerak menyimpulkan, “Seisi hutan ini penuh dengan ribuan jiwa penasaran. Keberadaan mereka mungkin memberikan efek samping mirip dengan kota Villian.” Kota tempat Nida tinggal menjadi pengecualian terhadap berbagai teknologi berbasis Manna. Itu sebabnya, para penyihir nyaris dibuat lumpuh tak berdaya. Sihir apa pun tak akan berhasil dirapal di sana. Daya tampung Manna semua orang berkurang drastis hingga tersisa satu persen saja. Kota itu menjadi tempat berkumpulnya Fayth Annunaki, atau jiwa dari para leluhur. “Tunggu dulu, tadi Yuki bilang arwah penasaran?” ucap Nida tak tenang. Celine dengan cepat menimpali, “Hanya sekadar arwah, mereka tak akan mengganggumu. Kau pikir kastel kita itu tidak ada penunggunya? Mereka ada banyak, tahu.” Gadis itu terlihat memberanikan diri, meski sesungguhnya kejadian di Merkayangan cukup membuatnya traumatis. Nida dan Orchid berdiri bersebelahan, mereka saling melempar pandang sejenak, “Iya juga sih, arwah itu kan beda dengan hantu.” Keduanya memagut bersamaan, berusaha mengusir pikiran buruk di kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD