Catatan No. XXIV : “Candle Light Dinner”

1259 Words
Rumah seluas lima puluh meter persegi ini terlihat latam penuh dengan tumbuhan hias nan merambat di dinding. Bel di beranda ia tekan perlahan. Tak butuh waktu lama bagi daun pintu untuk terbuka seraya menyibak keberadaan Maria dalam busana non formal. Rambut panjang itu diikat, menyibak keberadaan leher mulus menggoda. Kemeja putih berbalut celemek membuatnya terlihat manis sekali. Ia masih saja mengenakan rok mini rapel demi memamerkan paha berbalut stoking pantyhose yang indah. “Ah, kau sudah datang.” Sempat Nida meneguk ludahnya sendiri, “Boleh aku masuk?” Maria membukakan pintunya lebar-lebar. Ia mempersilakan Nida duduk di kursi ruang tamu, seraya gadis itu menuangkan jus jeruk pada gelas berukuran sedang. “Tak usah repot-repot,” ucap Nida basa-basi. “Sebentar ya,” Maria beranjak pergi menuju dapur. Nida terduduk kaku seperti seorang anak kecil yang menurut. Ia edarkan pandangannya ke sekitar, memeriksa daun pintu menuju kamar Maria. Di tempat itu, beberapa waktu lalu ia dipergoki oleh sang pemilik rumah. Siapa kembaran Maria dengan iris mata berwarna hijau itu? Apakah itu Maria sendiri? Apa saat itu ia tengah mabuk hingga tak bisa mengingat apa pun? Bisa saja itu menjelaskan alasan kenapa ia seolah tak mengingatnya sama sekali. Mungkin ada baiknya Nida tak mengungkit hal itu di pertemuan ini. Ia tak ingin merusak mood yang hendak dibangun. Maria kembali muncul membawa sebakul nasi goreng. Gadis itu mengenakan sarung tangan silikon tebal anti panas,  “Ummm… mau makan di luar? Mumpung malam sedang cerah.” “Ide bagus.” Nida kemudian membantu gadis itu mempersiapkan peralatan lain. Di halaman rumah Maria, terdapat taman kecil beratapkan tumbuhan merambat. Set meja dan kursi bahkan tersedia di sana. Pencahayaan cukup temaram, asalnya dari lampu bohlam di sudut tumbuhan merambat. Maria bahkan membawa lilin merah beralaskan cangkir. Di tempat itu, hanya ada mereka berdua. Sebagai seorang pria, sulit bagi Nida untuk bisa peka pada nuansa romantis. Akan tetapi, khusus pada situasi ini, ia harus mengakui bahwa segala sesuatu yang ia alami saat ini, adalah puncak dari romantisisme antar seorang pria dan wanita. Candle light dinner? Check Berduaan di tempat sepi? Check Apa lagi yang diharapkan Nida? Sesungguhnya pria itu paham, bahwasanya Maria mungkin menyiapkan segala sesuatu bukan tanpa alasan. Tapi ke mana harga diri dan keberanian dirinya itu? Batinnya berteriak gemas, ingin untuk segera menyatakan cinta pada gadis berambut biru itu. Pun begitu, Nida menahan diri untuk tak mengambil langkah apa pun. Ia tak bisa terus menerus menganggap bahwa Maria adalah Fia. Cinta di hatinya mungkin hanyalah palsu, dikuasai oleh masa lalu. Pria itu tak ingin menjalin hubungan serius hanya atas dasar perasaan semu. Oleh karenanya, mungkin ada baiknya ia menggores batas imajiner sampai di sini saja. Tak boleh ia menginisiasi langkah apa pun dalam meningkatkan status hubungan di antara keduanya. Nanti saja—, ada waktunya. Ia perlu menguasai diri dari segala hal tentang tunangannya. “Wah, enak.” Nida melahap sesendok nasi goreng di hadapannya. “Iya kan? Ini aku diajari Arby beberapa waktu lalu. Katanya ini resep turun temurun dari keluarga mendiang Dian.” “Mendiang?” “Ah, maafkan aku.” Maria buru-buru sadar, ia nyaris saja membawa pembicaraan ke arah suram. “Tidak apa-apa. Ceritakan kepadaku. Aku ingin mengenalmu lebih dalam.” Nida meletakkan sendoknya, bersiap menjadi pendengar yang baik. Butuh beberapa waktu bagi Maria untuk menimang-nimang, hingga akhirnya ia bersedia untuk sedikit lebih terbuka, “Tiga tahun lalu… Dian menjadi salah satu korban dalam perjuangan kami menyelamatkan dunia.” “Aku turut berduka,” ucap Nida. Ini ternyata berkaitan dengan masa lalunya yang kurang mengenakkan. “Maaf aku sudah mengungkit hal itu lagi.” “Tidak apa-apa,” Maria berusaha mengukir senyum, “Aku tak ingin menangisi kepergian sahabat-sahabatku. Dulu aku sudah berjanji, agar senantiasa hanya menggali kenangan indah saja tentang mereka.” “Begitu…” Nida sedikit mengambil pelajaran dari sikap optimis Maria. “Lalu Dian sendiri. Dia siapanya Arby?” Mengingat pewaris resep ini nyatanya adalah Arby, dan bukan Maria. “Kau mungkin tidak akan memercayainya,” Maria menatap serius, seperti hendak membocorkan sebuah rahasia. Wajahnya bahkan sedikit menjulur, seperti hendak berbisik pelan, “Dian dan Arby itu sebenarnya dua tubuh dalam satu kesadaran. Arby sebagai lelaki, dan Dian sebagai perempuan.” “Satu tubuh dua kesadaran?” “Bukan,” Maria mengoreksi. “Dua tubuh...” Telunjuk kanan dan kiri ia acungkan, “… satu kesadaran.” Dua jemari itu saling menganyam. “Bagaimana bisa?” Nida kebingungan. “Aslinya, nama asli mereka adalah Ardian. Tapi ketika menginjak SMA, Ardian berubah menjadi perempuan akibat menyentuh sebuah artefak gaib bernama [Kotak].” “[Kotak]?” Nida membeo. “Ceritanya Panjang, tapi singkatnya, versi lelaki dari Ardian berhasil dibangkitkan kembali. Akhirnya, ada dua versi dari Ardian, satu lelaki dan satu perempuan. Mereka ternyata berbagi kesadaran satu sama lain. Satu jiwa mengendalikan dua raga.” “Keren,” komentar Nida. “Iya kan?” Maria terlihat berbinar-binar. Ia terlihat seperti sedang membicarakan seorang superstar. “Tapi semenjak kepergian Dian, Ardi kemudian mengubah namanya menjadi Arby. Sikapnya juga berubah, dari yang dahulu sering mencipta lelucon m***m, sekarang jadi pendiam dan tak banyak bicara.” “Sebelas dua belas dengan Tyan,” potong Nida. Maria mengangguk. Kekejian perang memang telah mengubah semua orang. Masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri. Baik Nida dan Maria kemudian mengembus napas secara berbarengan. Mungkin ada baiknya tidak membicarakan hal-hal yang bisa membangkitkan depresi.  “Kau biasa tidur jam berapa?” Nida berusaha membuka topik. Maria mengecek telepon genggam untuk memeriksa waktu, “Sekitar jam sepuluh.” Sejenak Nida menerawang batas cakrawala berisikan gelapnya malam. Danau di kejauhan terlihat ramai dipenuhi oleh gemerlap lampu dari para pengusaha keramba ikan. “Malam masih muda.” “Habis ini mau ngapain?” Maria menyodorkan segelas minuman bersoda. “Entahlah, tapi aku suka suasana di sini.” Nyanyian kecil kemudian terdengar melantun merdu. Maria mengayun-ayun kakinya di atas sebuah kursi bundar yang agak tinggi. Terkadang ia terlihat seperti anak kecil suci tanpa dosa. Persis seperti Fia. Keduanya tengah menikmati pemandangan yang sama. “Aneh…” Maria mengucap pelan. Sorot matanya masih menerawang jauh. “Ini kali pertama aku tak merasa canggung pada seseorang. Padahal belum lama kita saling kenal.” Nida bisa mengartikan ucapan itu dengan seribu makna. Namun untuk saat ini, ia tak ingin mengambil risiko apa-apa. “Aku juga.” “Merasa nyaman?” pancing Maria. Gadis itu jauh lebih berani dari pada lelaki di hadapannya. “… mungkin?” jawab Nida ambigu. Tentu saja ia merasa sedang bernostalgia. Gadis di hadapannya saat ini merupakan salinan sempurna akan tunangannya yang sudah tiada. “Apa karena kemiripanku dengan tunanganmu yang bernama Fia?” Gadis itu seakan bisa menebak apa isi benak Nida. “Kenapa kau bisa berkesimpulan demikian?” Nida masih berusaha mengelak. “Tatapanmu itu, Nida.” Ucapan Maria terdengar Lirih. Iris mata biru itu seakan menelisik langsung ke dalam jiwa lawan bicaranya, “Itu bukan sorot mata yang akan dilayangkan pada sosok yang baru ia kenal.” “Apa aku boleh mengembalikan ucapan itu kepadamu?” Nida bukan orang bodoh. Ia bisa merasakan hal yang sama dari Maria. Tatapan teduh di wajah gadis itu jelas menyiratkan sejuta kenangan indah, serta pedih tak tergambarkan. “Apa aku juga mirip dengan seseorang di masa lalumu?” Nida kembali menekankan. Napas Maria kian terasa berat. “Mungkin.” Bibirnya terasa kelu, “ … mungkin ada baiknya kau tidak tahu.” “—Aku tidak akan memaksa,” ucap Nida. Kenyang dengan nasi goreng, pria itu lantas memosisikan diri untuk duduk di samping Maria. Ada meja bar kecil yang tak terpakai. Tangan keduanya terlihat bersandar di sana. Saling berdekatan, hingga akhirnya bersentuh satu sama lain. Lalu apa ini? Kenapa keduanya kompak saling menganyam jemari? Kepala Maria bahkan bersandar manja pada bahu Nida. Mereka terlihat persis seperti sepasang kekasih tengah dimabuk asmara. “Cukup sampai di sini, hanya untuk saat ini.” Maria menggumam pelan. “Aku tak akan meminta lebih,” balas Ninda penuh pengertian. Tiada kata cinta terucap. Akan tetapi, baik Nida mau pun Maria sadar sepenuhnya, bahwasanya mereka hanya memanfaatkan satu sama lain sebagai pelarian saja. Cukuplah di saat-saat ini, Nida kembali menipu diri, membayangkan kembali hangatnya tubuh Fia. Meski di lain pihak, Maria sendiri mungkin menganggap Nida tak lebih dari pengganti sosok yang ia cintai di masa lalunya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD