Bab 7. Rendang Jengkol

1086 Words
Olivia pulang ke rumah dan kebetulan Naura juga ada di rumah sedang memasak untuk mengisi perut mereka berdua. Mereka memang membeli kebutuhan bahan mentah untuk sehari-hari dan memasak sendiri. Tentunya tukang masak di dalam rumah kontrakan dengan dua kamar ini adalah Naura karena gadis itu sendiri masih ingin hidup beberapa tahun lagi. Tidak akan dia biarkan Olivia yang bahkan tidak tahu cara memasak untuk menyentuh bahan-bahan masakan yang bisa saja terbuang dengan sia-sia. Membedakan ketumbar dan lada saja Olivia tidak pernah bisa. Maka dari itu, untuk urusan memasak di rumah kontrakan mereka tentu saja dilakukan oleh Naura. Sementara Olivia bertugas untuk membersihkan rumah dan bahkan mencuci peralatan bekas memasak. "Kamu masak apa hari ini?" Olivia berdiri di sebelah Naura yang kini menghadap ke arah kompor. "Aku beli jengkol tadi, mau dibuat seperti rendang. Ini makanan kesukaan kamu. Tapi, kamu harus rajin makan permen biar kalau kamu ngobrol sama orang, mulutnya nggak bau jengkol. Terus aku juga sudah beli pewangi kamar mandi, biar nggak terlalu bau kamar mandi kita nanti," kata Naura panjang lebar. "Jengkol juga favorit kamu bukan cuma favorit aku. Ah, kamu ini memang paling pengertian, Naura. Tahu aja kalau aku ini memang suka makan jengkol." "Makanya tadi aku belinya sekilo. Sekalian mau bagi rumah Bu Andien dan Mbak Astri. Ngomong-ngomong, aku tadi beli dua pak permen dan udah aku letakkan di atas tempat tidur kamu." "Oh, Naura cantikku. Makasih banget karena kamu udah pengertian. Padahal aku lagi males banget buat keluar cari permen." Olivia memeluk Naura dari belakang membuat gadis itu menggelengkan kepalanya. "Kamu peluk-peluk aku dari belakang kayak gini, nanti orang kira kita apa." "Nggak apa-apa kalau aku mau peluk kamu, nggak ada yang larang juga. Lagian aku juga normal, kok. Aku masih suka sama laki-laki, buktinya teman tidur aku ternyata ganteng. Aku baru tahu hari ini," kata Olivia begitu bersemangat. Segera ia berdiri di samping Naura dan mulai menceritakan pengalamannya bertemu dengan bosnya itu. "Kamu nggak takut nanti bakalan dipecat sama bos kamu karena kamu tidur dengan dia? Beneran masih muda? Waktu kamu lihat wajah bos kamu, kamu pakai kacamata 'kan?" cerca Naura menatap Olivia. Mengingat mata Olivia yang rabun, benar menurutnya belum tentu benar menurut orang yang memiliki mata normal. Terlebih lagi Olivia paling malas menggunakan kacamata sehari-hari. Kecuali, untuk bekerja maka menggunakan kacamata minus. "Kenapa aku harus dipecat? Aku dipecat kalau memang aku melakukan kesalahan dalam hal pekerjaan. Kalau soal ons, namanya juga kecelakaan, nggak ada yang bisa nebak kalau yang jadi teman ons aku adalah bos aku sendiri. Lagian juga di sini aku yang dirugikan, kalau dia 'kan nggak rugi." Olivia membalas dengan santai. "Kalau sampai dia mau mecat aku karena gara-gara aku tidur sama dia, aku bakalan teriak pakai toa biar orang tahu gimana kelakuannya." "Tapi kamu nggak punya bukti masalahnya. Nggak mungkin kamu mau koar-koar dan orang akan bakalan percaya tanpa kamu keluarin bukti." Naura menggelengkan kepalanya kemudian mematikan kompor yang masih menyala. "Pokoknya aku ingetin kamu buat hati-hati. Apalagi kamu bilang tadi itu bos kamu, berarti dia punya kekuasaan. Orang kaya itu sangat sulit untuk dihadapi oleh kita yang miskin ini." "Benar juga apa kata kamu. Ya sudah mulai besok aku bakalan menghindari bos aku. Aku jamin dia nggak bakalan bisa ketemu sama aku kalau aku berhasil menghindar." Sayangnya apa yang sudah direncanakan oleh Olivia nyatanya tidak terjadi sama sekali. Dia tidak bisa menghindar. Pada kenyataannya saat ini dia berada di dalam ruang kerja CEO mereka karena harus mengantarkan berkas atas perintah manajernya barusan. Maksud Olivia, ada banyak manusia yang bisa disuruh untuk mengantarkan berkas yang begitu penting ini, namun mengapa justru dirinya yang menjadi sasaran untuk mengantarkan berkas? Andai saja Davin bukan CEO mereka, Olivia akan mengira jika ini adalah jenis konspirasi agar bisa menggiringnya masuk ke dalam kandang macan. Tapi sepertinya hal ini tidak mungkin terjadi karena tidak mungkin Davin kurang kerjaan membawanya masuk ke dalam ruangan. "Kamu kenapa lihatin saya seperti itu? Masih tertarik untuk menjadikan saya sebagai objek godaan kamu?" Davin mengangkat kepalanya membalas tatapan Olivia yang sebenarnya isi kepalanya tidak ada di tempat. Sadar dengan suara Davin, Olivia memperbaiki kacamatanya. Olivia melempar senyumnya pada Davin. "Bapak tadi ngomong apa? Saya nggak dengar?" "Pura-pura nggak dengar? Hmph, saya tahu kamu tertarik dengan saya. Kamu mau minta saya untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi malam itu?" Davin bangkit berdiri kemudian menghampiri Olivia yang masih berdiri di depan mejanya. Langkah kaki pria itu semakin dekat sampai akhirnya kedua lengannya mengurung Olivia di antara meja membuat gadis itu terkurung. "Pak, bisa mundur sedikit? Nggak enak banget dekat-dekat. Mulut saya bau jengkol soalnya kemarin saya habis makan jengkol." Satu telunjuk Olivia mendorong d**a pria yang terbalut dalam jas itu menjauh, sementara satu tangannya lagi bergerak untuk menutup mulutnya. Olivia sadar diri meskipun mulutnya di sumpal dengan permen sejak tadi, tetap saja bau jengkol masih terasa walaupun tidak menyengat. Mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan muda di hadapannya, Davin mendengus kemudian mundur 2 langkah ke belakang. "Saya kasih kamu kesempatan untuk dekat dengan saya. Tapi, kalau untuk tanggung jawab atas apa yang terjadi pada malam itu, sepertinya saya harus pikir-pikir dulu. Lebih lagi, kamu bukan tipe saya sama sekali." Olivia yang mendengarnya membelalakkan mata. "Siapa yang minta tanggung jawab sama bapak? Saya aja udah lupa dengan kejadian malam itu. Kayaknya bapak yang selalu ungkit-ungkit." Olivia melempar tatapan curiganya pada Davin. "Jangan bilang kalau bapak yang naksir dengan saya dan berharap saya mau tanggung jawab dengan bapak." Olivia mencibir dengan segala bentuk tuduhan yang dilayangkan oleh Davin padanya. Jelas-jelas pria ini yang selalu mencari kesempatan untuk berdua dengannya dan bahkan menganggap jika dirinya yang ingin meminta pertanggungjawaban. Padahal sejak awal Olivia tidak pernah meminta pertanggungjawaban sama sekali. "Kamu nggak naksir dengan saya? Mustahil kalau kamu nggak naksir sama saya sama sekali. Saya ganteng, saya kaya, dan saya punya bentuk tubuh yang bagus. Kamu perempuan yang biasa-biasa saja, nggak naksir sama saya, kamu kira saya akan percaya?" "Bapak nggak percaya sama ucapan saya juga nggak masalah. Lagian saya nggak maksa bapak buat percaya." Olivia mendengus. "Ya udah kalau begitu, saya mau balik kerja lagi. Kalau bapak naksir sama saya, bilang aja, Pak. Nggak usah gengsi, soalnya saya juga nggak mungkin naksir dengan bapak." Olivia mengibaskan rambutnya lalu berbalik pergi begitu saja meninggalkan Davin yang tercengang dengan tuduhan balik yang dilayangkan oleh gadis itu padanya. Wajahnya berubah cemberut. "Siapa juga yang mau naksir dengan perempuan seperti kamu." Davin mengomel dengan suara pelan kemudian kembali ke posisi duduknya, melanjutkan kembali pekerjaannya dengan perasaan kesal mengingat kata-kata yang dilontarkan oleh Olivia padanya. Tidak mungkin naksir dengannya? Hmph, pembohong ulung, cibir Davin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD