Malam gelap disusul dengan suara petir dan juga hujan angin terus berlangsung sejak beberapa menit yang lalu.
Naura yang biasanya tidur di kamarnya sendiri kini sudah pindah ke kamar Olivia.
Alasannya karena atap bocor di kamarnya sehingga ia tidak bisa tidur karena harus ditutup dengan baskom kosong juga spanduk yang harus ia tutup di atas tempat tidurnya.
Jarum jam saat ini sudah menunjukkan pukul 12 dan keduanya sudah lelap tidur, namun mata mereka spontan terbuka saat merasakan rintik air hujan jatuh membasahi wajah mereka juga tubuh mereka sehingga membuat keduanya sama-sama terbangun dengan menatap hampa pada plafon rumah mereka.
Olivia mengambil ponselnya kemudian menyenter kamera ke atas hingga memperlihatkan jaringan air yang mulai membasahi plafon. Angin sangat kencang sehingga terjadilah kebocoran di rumah kontrakan dua kamar tersebut.
Olivia menatap Naura begitu pula sebaliknya.
"Kayaknya bocor," kata Olivia dengan tampang polosnya.
"Nggak usah kamu omongin juga aku tahu kalau ini bocor. Kamu kira aku ini benda mati apa nggak bisa merasakan rintik air yang jatuh?"
Naura segera turun dari tempat tidur diikuti oleh Olivia yang kini sudah berdiri di samping tempat tidur sambil menatap hampa pada pemandangan di hadapan mereka.
Keduanya masih terpaku di samping tempat tidur ketika suara benda jatuh dengan sangat keras terdengar. Terperanjat, keduanya saling mendekatkan tubuh dengan Olivia yang memegang lengan Naura erat sambil menatap sekitar. Belum lagi suara hembusan angin menerpa di atas atap yang membuat kayu-kayu juga genteng dari atas terdengar bergoyang.
"Suara apa yang jatuh itu? Jangan-jangan, rumah ini bakalan terbang lagi. Kalau rumah ini terbang, terus kita kayak gimana? Apa bakalan ikut terbang juga?"
Naura spontan mendorong kepala Olivia dengan kesal mendengar celoteh gadis ini. "Kamu ya bisa-bisanya berpikir kayak gitu. Rumahnya nggak akan terbang, paling-paling kalau mau atapnya. Kita keluar, cari tahu dulu apa yang jatuh. Kalau atap rumah kita yang jatuh, terpaksa kita pindah sementara di rumah Mbak Astri."
Mbak Astri yang mereka maksud adalah wanita dengan dua orang anak yang masih balita dan tinggal di sebelah rumah. Suaminya bekerja di luar kota dan hanya mereka bertiga saja yang tinggal di rumah sebelah. Rumah pribadi yang dibangun sebelum suami mbak Astri menikahi wanita itu.
Keduanya kemudian dengan hati-hati melangkah keluar setelah mereka mengambil ponsel dan barang berharga mereka yang dimasukkan ke dalam ransel.
Mereka melihat dari kaca jendela yang mengarah ke keluar, angin dan hujan berhembus dengan sangat kencang membuat keduanya ragu untuk keluar.
"Gimana sekarang? Ke luar enggak?" Olivia menatap Naura.
"Nggak usah aja, ya? Kita tunggu aja di dalam rumah. Nanti kalau hujan udah agak reda dikit, kita bisa cek suara apa yang jatuh tadi. Kalau keluar sekarang dan kita ke tempat mbak Astri, kayaknya percuma juga. Soalnya kalau kita ketuk pintu rumahnya sekarang nggak bakalan kedengaran." Naura berkata sambil menatap Olivia. "Kita duduk aja di sofa sambil nunggu hujan reda. Sebelum itu kita tutup dulu tempat tidur biar nggak basah."
Keduanya kemudian mulai bekerja sama untuk mencari bahan yang digunakan untuk menutupi tempat tidur agar tidak basah.
Hujan lebat disertai angin seperti ini tentunya mungkin tidak akan bertahan lama. Kedua gadis dengan nasib yang sama itu sangat berharap hujan bisa segera mereda.
Setelah menyelesaikan tugas kecil mereka, keduanya kemudian memilih untuk duduk di sofa.
Duduk di sofa yang sama dan duduk saling berdempetan, Olivia melingkarkan tangannya di lengan Naura sambil merapatkan tubuhnya dengan rasa takut yang dimiliki karena suara angin dan hujan semakin terdengar diikuti oleh petir.
"Kalau aku jadi orang kaya atau istri orang kaya, tengah malam aku pasti bakalan tidur lelap walaupun hujan badai sekalipun. Soalnya nggak kepikiran atap bocor kayak gini. Tidur di ruangan yang ada AC terus tidur lelap ditutup sama selimut tebal."
"Iya-ya. Nanti kalau kita berdua udah sama-sama jadi orang kaya, harus ingat dengan masa-masa kita kayak gini. Lihat orang lain, pasti mereka tidur nyaman di kamar mereka di balik selimut. Nggak kayak kita berdua, menggumpal jadi satu kayak semut, karena di mana-mana bocor."
Naura menatap ruang tamu dan juga ruang dapur yang terlihat dari tempat mereka duduk, memang sudah dipasang baskom agar air tidak mengalir ke mana-mana.
Disaat orang lain mungkin tidur lelap dengan cuaca yang begitu dingin, tidak seperti kedua gadis itu yang duduk di sofa saling memegang satu dengan yang lain dengan harapan agar rumah yang mereka tempati saat ini tidak terbawa oleh angin terutama atap rumah yang sejak tadi terdengar berderit.
"Kenapa kita nggak terlahir jadi orang kaya aja, ya? Orang kaya pasti nggak bakalan melipir kayak kita, yang takut kena hujan. Orang kaya pasti lagi enak tidur di ruangan hangat. Nah, kita berdua aaa!"
Cetar!
Petir kembali menyambar dengan suara yang begitu keras sehingga membuat Olivia tidak menyelesaikan kata-katanya melainkan berteriak dan semakin merapatkan tubuhnya pada Naura begitu juga dengan Naura.
"Alam pun nggak ngebolehin kita mengeluh," ujar Naura setelah petir tidak terdengar lagi.
"Mau menyalahkan Tuhan juga nggak bisa, soalnya kita yang jadi manusia kurang berusaha," sambung Olivia. "Apa aku cari suami kaya raya aja? Tapi masalahnya orang kaya mana yang mau sama kita yang sederhana ini?"
"Mungkin kita harus pergi ke dukun dulu biar ada orang kaya yang tertarik sama kita."
Kedua gadis itu mulai melantur dalam pembicaraan mereka untuk meredakan ketakutan yang ada pada diri mereka akan hujan angin dan petir yang terus menyambar.
Kedua gadis dengan nasib yang sama harus bergelut dalam ketakutan.
Mereka juga ingin hidup seperti orang lain, namun mereka tahu jika mereka tidak akan bisa hidup dalam kemewahan tanpa usaha yang lebih keras lagi.
Hujan lebat terus turun membuat kedua gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan sosok lain yang kini sudah terbaring dengan kedua kaki melebar ke kiri dan ke kanan, tak lain dan tak bukan adalah Davin. Sementara selimut sudah tidak berada di tubuhnya lagi, pria itu tertidur dengan sangat lelap tanpa mengenakan atasan dan hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam.
Davin tertidur dengan nyaman di ruangan yang hangat tengah memimpikan Olivia di mana pada kejadian malam itu mereka melakukan hubungan intim layaknya suami istri.
Ciuman Davin turun dari pipi menuju tulang selangka dengan perlahan sampai akhirnya bibirnya berlama-lama di leher dan mengecupnya dengan mesra juga memberikan tanda kuat pada leher empuk yang menjadi sasarannya.
"Enghg!" Davin spontan membuka kelopak matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar akan mimpi yang baru saja datang.
Pria itu menatap bagian bawah perutnya yang mengembung, sebelum akhirnya pria itu mendudukkan dirinya sambil mencubit lengannya agar segera sadar.
"Ya Tuhan, kenapa mimpiin perempuan itu? Nggak ada apa bidadari yang bisa masuk ke alam mimpiku selain perempuan sombong itu?" Davin mengeluh sambil bersandar pada headboard di belakangnya. Dilihatnya dari jendela balkon yang tidak terlalu rapat ternyata sedang turun hujan disertai dengan angin juga petir.
"Malam hujan, mimpi basah. Kebawa suasana kayaknya," kata pria itu.
Davin memutuskan untuk turun dan mengambil air minum agar bisa menyegarkan tenggorokan dan juga pikirannya yang kotor.