Napas Olivia memburu setelah ia berlari turun dari halte menuju kantor perusahaan tempat di mana ia bekerja.
Gadis cantik itu terlambat datang ke kantor karena bangun kesiangan. Maklum saja, tadi malam mereka tidak seberapa tidur karena angin dan juga hujan yang semakin kencang dan baru berhenti ketika subuh menjelang.
Sementara rumah akan dirapikan oleh Naura sekaligus memanggil tukang untuk membetulkan atap yang rusak akibat terpaan angin.
Masalah benda jatuh yang terdengar oleh mereka kemarin ternyata parabola milik tetangga mereka yakni Mbak Astri yang roboh dan masih dalam perbaikan saat ia berangkat ke kantor.
Sebenarnya Olivia ingin minta cuti dan membantu Naura di rumah. Namun, sahabatnya itu tidak membiarkan ia untuk libur bekerja karena pasti akan mendapatkan teguran dari atasan. Naura tidak ingin jika Olivia akan kehilangan pekerjaan sama seperti dirinya yang harus kehilangan pekerjaan di kantornya sebelumnya akibat perempuan yang merasa iri padanya.
Olivia tiba di mesin absensi kemudian memasukkan kartunya lalu menekan jarinya pada fingerprint untuk absensi yang memang harus dilakukan.
Perempuan cantik itu masih berdiri di lobby sambil mengatur napasnya juga keringat yang sudah mulai membasahi tubuhnya.
Olivia hampir saja terlambat. Jika ia terlambat mungkin gajinya akan dipotong sedikit sehingga gaji yang diterima tidak akan full. Perusahaan memang sangat ketat dan tentunya tidak akan membiarkan karyawan berleha-leha. Meski begitu Olivia tetap bersyukur karena gaji yang diterima cukup besar belum lagi dengan bonus dan lembur yang diterima olehnya.
Inilah yang digunakan olehnya untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Olivia yang membeli bahan makanan, sementara Naura membayar setengah sewa rumah kontrakan mereka.
Olivia tidak masalah jika membiayai kehidupan mereka sehari-hari karena Naura mau memasak untuk mereka dan pekerjaan rumah pun dibagi menjadi dua.
Gaji Naura sendiri seringkali digunakan untuk membeli bahan yang langsung diganti oleh Olivia karena merasa sungkan juga tidak enak hati dengan Naura kalau semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Naura namun masih membeli bahan makanan untuk mereka.
"Kamu nyaris terlambat lagi, Olivia?"
Gadis cantik itu baru saja akan melangkah pergi ketika mendengar suara laki-laki di belakangnya membuat ia menoleh dan menemukan Enzio atau kerap dipanggil Mas Enzi oleh mereka yang lebih muda darinya.
Dia merupakan senior tempat di mana Olivia bekerja dan juga orang yang mengajari Olivia hingga akhirnya gadis itu tahu banyak hal tentang pekerjaan.
"Eh, Mas Enji juga baru saja tiba? Saya hampir terlambat karena tadi malam nggak bisa tidur nyenyak. Hujan sama petir, bikin takut."
Olivia masih membayangkan kejadian hujan tadi malam yang membuatnya dan juga Naura tidak bisa tidur karena harus waspada. Padahal rumah di gang kontrakan mereka cukup rapat-rapat, tapi tetap saja mereka berdua takut. Terlebih lagi ada beberapa rumah tetangga mereka yang juga atapnya sudah diterbangkan oleh angin terutama yang tidak menggunakan genteng.
"Kenapa harus takut dengan hujan dan petir? Kalau kita tidur di kamar ya nggak bakalan kesamber. Kecuali kalau ada benda yang menarik petirnya mungkin?"
Enzi kini melangkah di sebelah Olivia dengan tas selempang yang disampirkan ke pundaknya.
"Nah, itu yang jadi masalahnya, Mas. Kebetulan rumah tempat saya ngontrak itu lagi bocor. Makanya pagi ini udah dibenerin sama tukang. Nanti malam kalau mau hujan lagi nggak apa-apa, yang penting atapnya udah dibenerin jadi nggak bocor lagi." Olivia membalas. "Mas Enji sendiri baru sampai? Tumben banget, biasanya Mas Enji jadi manusia pertama yang sampai ke kantor."
"Tadi pagi mobil saya mogok di jalan terpaksa deh saya naik taksi online. Mana ada banjir lagi di beberapa titik, makanya agak terlambat." Enzi membalas dengan tenang.
"Nah, untungnya nggak benar-benar telat. Kalau beneran telat, Mas Enji bisa jadi pemecah telur pertama sebagai orang yang paling rajin tapi datang terlambat."
Enzi tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Olivia. Keduanya melangkah tanpa menyadari jika ada dua sosok yang kini melangkah di belakang mereka dan mendengar segala celoteh mereka.
Davin dan Samuel.
Jangan tanyakan bagaimana ekspresi wajah Samuel yang pagi-pagi sudah berangkat ke kantor bersama bosnya ini. Belum lagi mereka harus melewati lobi di mana banyak karyawan yang sudah berdatangan dan menyapa mereka.
Biasanya jika di kantor pusat mana mau Davin datang ke kantor pagi-pagi seperti ini terutama ketika harus melewati lobi. Biasanya juga harus naik lift khusus yang langsung mengarah ke lantai tempat di mana ruangan bos mereka berada.
"Bos mau saya pesankan kopi?" Samuel bertanya, melihat lingkaran merah di mata bosnya ini menandakan jika tadi malam Davin tidak tidur.
"Pesankan saya kopi pahit tanpa gula dan tanpa s**u. Murni kopi pahit," tekan Davin dengan kata pahit.
Menyadari sepertinya ada dua orang di belakang mereka barulah kemudian Enzi dan Olivia langsung menghentikan langkah mereka kemudian memutar tubuh mereka sedikit untuk menatap ke arah Davin dan juga Samuel yang kini sudah menatap ke arah mereka.
"Pak Davin? Selamat pagi," sapa Enzi dengan sopan. Tidak lupa melemparkan senyum ramahnya juga pada pria yang merupakan bos muda mereka.
Sementara Olivia yang sudah mengenali bentuk tubuh dua orang yang berdiri agak sedikit jauh dari posisinya berada juga ikut menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Olivia yang berada di dekat Enzi diam-diam mengeluarkan kacamata dan mulai mengenakannya hingga ia bisa melihat wajah sempurna dan tampan milik Davin.
Davin menganggukkan kepalanya tanpa suara dan terus melanjutkan langkahnya melewati Olivia dan Enzi begitu saja.
Melihat wajah Olivia entah mengapa mengingatkannya pada mimpinya tadi malam. Perempuan itulah yang membuatnya tidak bisa tidur tadi malam sehingga membuat Davin merasa kesal melihat wujud Olivia yang terlihat segar. Tidak seperti dirinya yang tidak bisa tidur setelah bangun di tengah malam.
"Oh, saya minta kamu untuk membelikan saya kopi. Ingat, kopi pahit tanpa gula dan tanpa s**u. Pastikan kopinya berwarna hitam." Davin belum melangkah masuk ke dalam liftnya ketika jari telunjuknya mengarah pada Olivia yang berdiri mematung di tempat ketika pria itu menatapnya.
Olivia yang ditunjuk mengarahkan telunjuknya sendiri pada wajahnya.
"Saya yang bapak suruh?"
"Menurut kamu?" Davin membalas. "Antarkan ke ruangan saya. Ingat, kamu yang membeli dan mengantarnya."
"Tapi, saya harus bekerja."
"Membeli kopi untuk CEO kamu memangnya bukan termasuk sebuah pekerjaan?" tanya Davin dengan wajahnya yang dingin. "Saya nggak mau telat. Antarkan segera."
Pri itu kemudian segera melangkah masuk ke dalam lift yang sudah dibuka. Sementara Samuel memberi kode pada Olivia untuk melakukan apa yang ditugaskan oleh bos mereka.
Melihat tingkah laku bosnya yang seenak jidat, Olivia hanya mengerucut bibirnya kesal.
Enzi yang berada di sisinya menatap ke arah Olivia sambil menggelengkan kepalanya. "Udah sana kamu belikan kopinya. Nanti kalau Bu manager nanya, saya bakalan bilang kalau kamu lagi disuruh sama Pak Davin."
"Ya udah deh kalau begitu."
Gadis itu menganggukan kepalanya dan pergi menuju cafetaria untuk membeli minuman sesuai dengan request yang sudah dibuat oleh bos mereka.
"Udah kayak mbah dukun aja, maunya kopi pahit. Buat sajen kali itu," gerutu Olivia.