Davin menatap secangkir kopi yang sudah dihidangkan oleh Olivia padanya.
Pria itu kemudian dengan hati-hati mengangkat cangkir tersebut lalu melemparkan tatapannya pada Olivia yang masih berdiri di depan mejanya.
"Kopi ini nggak kamu racunin 'kan?" tanya Davin, sambil menatap curiga pada kopi di hadapannya.
"Maksud bapak, saya harus masukin sianida ke dalam kopi bapak? Kayak kurang kerjaan aja," sahut Olivia. "Kurang kerjaan juga nggak mungkin saya mau meracuni bapak. Saya nggak mau masuk penjara sia-sia karena membunuh orang seperti bapak."
"Seperti saya? Bagaimana maksud kamu?"
"Yah, seperti itulah." Perempuan itu mengangkat bahunya. "Kalau udah, saya mau balik lagi ke tempat saya, Pak. Soalnya nggak mungkin saya lama-lama di sini, nanti saya bakalan dimarah sama atasan saya."
"Siapa memang yang mau marahin kamu? Saya ini atasan tertinggi kamu di perusahaan. Kalau ada yang marahin kamu berarti memarahi saya juga." Davin membalas dengan tenang sambil mulai menyesap minumannya. Setelah itu ia dengan santai meletakkan cangkir kopi tersebut di atas tatakan piring kecil lalu melemparkan tatapan kesalnya pada Olivia. "Kenapa kopinya pahit sekali? Pahitnya seperti kehidupan kamu," kata Davin dengan entengnya.
Olivia yang mendengarnya langsung melototkan mata dengan kesal. "Kan, bapak sendiri yang minta saya untuk buat beli kopi pahit tanpa gula dan tanpa s**u. Kalau udah saya belikan kopi seperti ini dan tiba-tiba rasanya manis, itu yang bakalan aneh, Pak." Olivia menjelaskan dengan mata yang ia buat sesipit mungkin juga senyuman manis yang ia umbar pada Davin. Dia harus sadar diri jika saat ini sedang berbicara dengan atasan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Jika tidak, bukan hanya bonus dan juga lembur yang hilang, tapi gaji dan juga pekerjaannya bisa hilang.
"Benar juga apa yang kamu bilang. Ah, ya sudah, kamu belikan saya kopi yang manis. Bila perlu tambah gula dan s**u, soalnya kalau minuman yang agak pahit saya agak kurang terima. Hidup saya ini manis dan enak, harus minum dan makan juga enak."
Olivia tersenyum lagi. "Bapak seriusan minta saya untuk beli minuman lagi di cafe depan? Ini saya ada pekerjaan loh, Pak. Nanti kalau atasan saya marah bagaimana?"
"Atasan kamu nggak akan marah selama saya yang memerintah kamu. Oh, saya juga belum sarapan tadi pagi. Tolong, belikan saya sarapan juga, minta list menunya dengan Samuel, asisten saya."
"Baiklah kalau begitu, bapak tunggu dulu karena saya akan membelikan pesanan bapak." Olivia berbicara dengan nada ramah dan juga senyum manis. Tidak ada yang tahu isi dalam hatinya yang ingin sekali menerjang pria yang duduk di kursi empuk itu dengan kursi yang ada di sebelahnya.
"Sabar Olivia, orang sabar pantatnya lebar. Jadi, kamu harus banyak-banyak sabar, siapa tahu gaji kamu tahun depan bisa dapat 10 juta." Olivia berkata sambil mengelus dadanya dan melangkah keluar dari ruangan bosnya itu sambil menuju ruangan depan di mana Samuel yang merupakan asisten Davin berada.
Sementara Davin yang berada di kursinya mendengus. Dia harus memberikan perempuan yang masuk ke dalam mimpinya itu pelajaran karena sudah dengan lancang masuk ke alam mimpi yang seharusnya tidak dimasukinya.
Davin memang kadang kurang waras menyalahkan orang atas mimpi yang dia sendiri tidak bisa memprediksinya. Jika pria itu menceritakan pada teman-temannya pasti teman-temannya akan kabur karena ketidakwarasan teman mereka sendiri.
Telepon di sisi meja Davin berdering. Pria itu melihat ID card yang memanggilnya, kemudian mendengus karena yang memanggilnya adalah Omanya.
"Oma kalau mau memaksa aku menikah rasanya agak nggak mungkin. Jadi, Oma mendingan pending aja segala bentuk rencana Oma yang mau menikahkan aku dengan orang lain," celoteh Davin.
Omanya bahkan belum bersuara di seberang telepon namun pria itu sudah mulai mengoceh sehingga membuat keheningan terjadi selama beberapa detik di seberang telepon.
"Davin, siapa yang telepon kamu minta kamu untuk menikah, hah? Oma ini nggak ada niat untuk bicara soal itu hari ini."
"Terus kenapa lagi?" Davin bertanya sambil bersandar malas pada kursi di belakangnya.
Davin hanya memiliki Omanya yang merawatnya sejak kecil. Oma yang selalu ada untuknya dan wanita tua itu juga yang sering memaksanya untuk menikah.
Oma Davina merupakan wanita tua yang masih energik dan memiliki semangat besar dalam kehidupannya. Bisa dikatakan jika Oma Davina adalah ibu kandung dari mamanya yang sejak Davin kecil memang sudah bersama beliau semenjak mama dan juga papanya bercerai.
"Davin, Oma sekarang ini lagi di kantor polisi. Tadi nggak sengaja lewat lampu merah terus Oma terobos."
Davin yang sedang bersantai duduk langsung tersentak kaget dan berdiri dari tempatnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Omanya di seberang telepon.
"Oma apa tadi? Oma ada di kantor polisi? Oma bawa mobil sendiri? Kan, udah aku bilang sama Oma jangan bawa mobil sendiri. Udah ada 6 sopir di rumah, kenapa masih menanggung risiko?" Davin segera mengambil kunci mobil dan juga dompet yang di atas meja, bersiap untuk pergi.
"Oma bawa mercy punya kamu niatnya mau pamer sama teman-teman oma. Tapi, Oma enggak ingat kalau ada lampu merah. Jadinya oma terobos waktu ada lampu merah."
Langkah kaki Davin yang hampir sampai di pintu langsung berhenti mendadak ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Omanya.
Mercy merah miliknya jelas itu adalah mobil kesayangan Davin. Bisa-bisanya Oma menyetir mobilnya ke jalan raya seperti yang dilakukan oleh wanita tua ini.
Mendadak firasat Davin mulai tidak enak.
"Terus, gimana keadaan mobil aku?" Jantung pria itu berdegup dengan kencang menunggu harap-harap cemas apa yang akan dikatakan oleh Omanya tentang mobil kesayangannya itu.
Davin hanya berharap semoga mobilnya tidak kenapa-kenapa.
Kalau sampai-- "oh, Oma juga ditahan karena nggak sengaja nabrak trotoar. Datang gih ke tempat oma sekarang, oma udah agak gerah di sini. Pengen berenang."
Kunci mobil dan dompet yang ada di tangannya jatuh ke lantai begitu saja hingga terdengar suara gaduh.
Davin membeku beberapa detik mendengar jika mobil kesayangannya menabrak trotoar yang pastinya sudah tidak semulus mobilnya yang di awal.
"Oma lagi nggak bercanda, 'kan? Cucita-ku nabrak trotoar? Trotoar?" Davin mengulang barulang kali pertanyaannya pada sang oma, membuat wanita di seberang telepon itu mendengus.
"Oma nggak mau ngulang lagi. Cepat jemput Oma lagi, datang ke sini. Sekalian kamu panggil bengkel langganan kamu itu, soalnya mobilnya, Oma tinggal di jalanan."
Ingin rasanya Davin berteriak pada Omanya yang sudah tua itu untuk segera bertaubat dan bukan justru semakin menjadi-jadi di usianya yang sudah tidak lagi muda.
Mengendarai mobil sport miliknya dan kebut-kebutan di jalan, belum lagi mobil kesayangannya yang diberi nama Cucita menabrak trotoar, ingin rasanya Davin berteriak pada omanya, namun tidak mau dicap sebagai cucur durhaka.
"Ahh, Oma!"