Sisil berlari cepat menuju toilet. Air mata di kelopak matanya yang telah menganak sungai siap untuk tumpah di pipinya. Ia tidak tahu harus bagaimana di kota ini. Semuanya tidak sesuai dengan jalan pikirannya dulu. Berpikir ia akan membantu sang Ibu tanpa merepotkan paman Jono, malah ia bekerja dengan orang tidak punya hati. Seakan lelaki itu memperbudak dirinya. Apa lagi hal yang tidak habis pikir, lelaki itu terang-terangan untuk memintanya membuka baju. Bersyukur, Sisil masih bisa berpikir sehat. Tidak mengikuti permintaan paman Jono. Meski dia membutuhkan uang untuk menopang hidup sang Ibu dan adiknya. Semua itu tidak akan membuatnya untuk menjadi wanita yang akan membuang harga dirinya dengan begitu saja. Ia lebih baik mengemis di kota ini, dari pada harus mengikhlaskan dirinya unt

