Aku tiba di rumah pukul sembilan pagi, mobil kami sudah diantarkan ke bengkel sementara dua orang lelaki teman mila mengantarku ke rumah, mereka membawakan tasku dan meletakkannya di teras. Sudah kutawarkan pada mereka untuk mampir dan sarapan dulu, tapi mereka menolaknya dengan halus jadi setelah meletakkan tas dan berterima kasih kedua lelaki itu pergi. Setelah kedua lelaki itu pergi, perlahan ku buka pintu rumah, entah kenapa, aku terus menarik nafas panjang dan menghelanya, seakan beban berat dan pikiran tentang wanita itu serta suamiku, terus menyakitkan perasaan ini. Aku merasa sesak tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Setelah menutup pintu kupandangi seluruh sudut rumahku, rumah yang masih sepi karena anak-anakku masih bersama mertua. Air mata ini kembali jatuh, jatuh begitu s

