Entah berapa lama aku duduk di ruang tamu sambil meneteskan air mata sementara Ibu mertua hanya diam dengan tatapan nanar sembari tak sabar menunggu putranya. Ada ayah mertua juga yang secara tersirat mendengar percakapan kami namun beliau tidak banyak bicara karena sibuk mengalihkan perhatian kedua cucunya. Kelihatannya ayah mertua tidak ingin mental anak-anak terganggu dan tidak mau anak-anak sampai mendengar pembahasan kami. "Assalamualaikum." Lelaki itu tiba lalu mengedarkan tatapannya ke penjuru dia nampak tak enak saat melihatku yang mengusap air mata. "Anak setan! Apa aku harus mati agar kau sadar!" Ibu mertua yang selama ini berhati lembut religius dan amat pengertian itu tiba-tiba berteriak dengan ungkapan yang sangat kasar. "Bu ... jangan begitu." Mas Kevin yang dari dulu san

