72

1290 Words

"Eh, tidak juga. Justru Bunda sudah mendapatkan kebahagiaannya," ujar Mas Kevin pelan. Mas Fadli yang baru saja berjuluk suamiku segera menyadari kecanduan yang terjadi. Halaman rumah orang tuaku yang tidak begitu luas tapi dipenuhi oleh tamu undangan dan family, membuatnya harus turun tangan. "Dik, ayo sapa Tante Fifin dan Om Yogi," ujarnya sambil menggandeng diri ini. "Iya, Mas." Aku mencoba menetralisir perasaan akibat pertanyaan anakku kepada ayahnya, pun mas Kevin juga tertawa dengan canggung tapi semua orang sekaam menangkap kegetirannya. "Lihat ayah, Om Fadli dan Bunda sekilas mirip, senyum mereka sama bagusnya." Daffa berkomentar. "Iya, mereka sama bagusnya Ibumu juga cantik seperti boneka," jawabnya, dan itu masih kedengaran olehku. "Ayah bodoh sekali meninggalkan Bunda,"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD