Kedatangan meraa pada malam itu yamg sangat mengejutkan bagi orang tua meraa , karena anak gadis nya kembali pulang membawa seorang pria tampan dan ternyata ia adalah kekasih meraa yang ingin meminang meraa.
Satu sisi ini menjadi kabar gembira untuk orang tua meraa namun juga ada rasa berat yuntuk melepas meraa menjadi tanggung jawab orang lain.
Ale yang meminta ijin kepada kedua orang tua meraa , meyakin kan mereka bahwa ale akan membahagiakan meraa sampai akhir khayat nya.
Dan saat itu semua kata janji muncul dari bibir manis nya , dan membuat senyum seseorang mengembang hebat yang sedang membuat minum di dapur.
Meraa tidak memyangka sama sekali jika ale mampu berkata semanis itu dan berlaku sangat sopan.
Mungkin di balik kesombongan nya dan peringai nya yang buruk terkubur sikap yang hangat dan penuh kasih sayang.
Tak hanya ayah ibu meraa yang mulai menyukai ale tapi kedua adik meraa pun juga langsung menyukai ale.
Meraa yang mendengar nya pun tak terasa meneteakan airmata nya , entah karena apa dia juga tidak tahu.
Namun yang di khawatirkan meraa saat ini tidak sungguh terjadi , pikir meraa ayah ibu nya akan menolak lamaran ale.
Karena selisih umur mereka yang terhitung jauh , seperti paman dan keponakan.
Meraa datang membawa minuman untuk di sajikan kepada ale.
“ silahkan “ meraa memberi secawan teh hangat untuk ale .
“ terimakasih “ balas ale dan menerima minuman nya.
“ nanti nak ale istirahat di kamar meraa aja , biar meraa tidur sama adek-adek nya “ ucap ayah meraa yang meminta ale untuk beristirahat karena perjalanan jauh yang sudah mereka tempuh.
“ iya pak , terimakasih “ jawab ale sopan.
“ Yasudah , kami tinggal dulu ya nak “
“ langsung di buat istirahat aja biar enakan badan nya “ pamit ayah meraa yang mengajak ibu meraa untuk kembali ke kamar mereka.
Meraa yang sedari tadi duduk di hadapan ale masih merasa bingung dengan perkataan ale yang mengatakan bahwa ale akan membahagiakan meraa hingga akhir khayat nya.
Ale yang mendapati pandangan aneh dari meraa langsung menyentil dahi nya hingga membuat sang empu nya mengaduh karena sakit.
“ aduuh , kebiasaan “ ucap meraa dengan mengusap-usap kening nya
“ Jaga pandangan mu “ kata ale saat menyadari meraa yang memandangan nya tanpa berkedip
“ dimana aku tidur “ ale yang sudah merasa sangat capek , bertanya kepada meraa dimana kanh tempat untuk ia merebahkan tubuh kekar nya itu.
“ Tepat di belakang mu ada pintu , kalau di buka itu pintu di dalam nya ada kasur , nah nanti di atas kasur itu ada bantal sama guling bos.
Dan tepat nya laui di situlah bos bisa istirahat “ ucap meraa dengan cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tanpa membalas perkataan meraa , ale langsung bergegas memasuki kamar meraa.
Saat membuka kinop pintu kamar meraa , ale berbalik memandang meraa dengan penuh pertanyaan .
“ kenapa? “ tanya meraa yang mendapati keterkejutan dari ale
“ Luapakan “ ale yang tak menjawab pertanyaan meraa lebih memilih masuk ke dalam kamar dan bergegas untuk tidur.
Setelah memasuki kamar meraa , ale sangat tercengoh dengan tata letak yang begitu sangat rapi dan nyaman.
Walaupun terhitung sempit untuk ale , namun bagi nya sudah sangat nyaman. Sebelum tidur biasa nya ale harus melakukan aktifitas mandi terlebih dahulu.
Karena bagi ale setelah mandi semua beban akan hilang dan akan nyaman jika di buat untuk tidur , sayang nya kamar mandi nya pun ada di luar kamar dan ale harus keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi.
Saat ale membuka pintu kamar , ia sangat terkejut karena mendapati meraa yang sudah sangat lelap tertidur di ruang tamu dengan hanya beralaskan tikar.
“ kenapa dia tidur di situ , bukan kah tadi ayah mereka menyuruh nya tidur di kamar bersama kedua adik nya “ umpat batin ale dan lalu memilih pergi untuk membersihkan dirinya.
Sesudah ale selesai dengan acara mandi nya dan keluar dari kamar mandi , ia yang masih mendapati meraa dengan wajah yang begitu naturalnya.
Ale mencoba mendekati nya , berjongkok di samping meraa dan memandangi nya.
Tak terasa tangan ale bergerak menyentuh bibir meraa san mengusap nya dengan begitu lembutnya.
Tak hanya bibir meraa yang ia sentuh namun juga dengan pipi meraa yang tidak terlalu tembem namun berisi.
Dan semua itu lolos membuat senyum pada bibir ale yang mengembang begitu tinggi nya. Akhir nya ale memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur.
“ dasar bos bar-bar , gak tahu apa jantung ku gak bisa tenang gara-gara perlakuan nya barusan “ gumam meraa yang ternyata terbangun ketika ale mendekati nya tadi.
Suara tetesan air hujan mengiringi suasana pagi ini , ale beranjak dari tempat tidur menuju ke jendela kamar.
Lalu membuka nya dan menghirup aroma tanah yang basah karena air hujan. Pandangan ale tertuju dengan seseorang yang bermain-main di derasnya hujan pagi itu.
Seseorang yang sangat di kenal nya yang entah sejak kapan mengajarkan nya untuk mengenali sebuah senyuman kembali.
Meraa yang dengan asyik nya bermain serta menari di bawah derasnya hujan tanpa berfikir nanti nya akan jatuh sakit jika ia terus menerus menerobos derasnya air hujan yang jatuh.
Dan seuntai senyuman pun mengembang ketika ale melihat meraa yang tengah asik berputar-putar hingga terjatuh. Namun ketika itu ale melihat ada luka pada lutut meraa dan ale bergegas untuk keluar menemui meraa.
Ketika ale sudah berada di luar kamar dan menjumpai ayah meraa yang tengah asyik menyedu kopinya.
“ Pagi pak “ sapa ale dan ikut duduk di sofa ruang tamu.
“ pagi juga nak ale “ jawab ayah meraa yang juga memandang meraa , dan seperti nampak ada luka yang di tutupi pada mata ayah meraa.
“ jangan kaget dengan tingkah meraa yang seperti itu , meraa sangat menyukai hujan.
Jadi setiap ada hujan entah itu pagi , siang , sore , malam atau bahkan dini hari pun dia akan tetap bermain hujan.
Walau saat itu meraa masih tertidur lelap dia juga akan dengar suara air hujan jatuh dan tanpa berfikir langsung saja dia menerjang derasnya hujan.
Dulu bapak sering melarang nya , agar tidak bermain hujan tapi dia tetap saja tidak mendengarkan bapak.
Sampai ketika bapak mengerti alasan apa yang membuat meraa sangat menyukai hujan.
Meraa tumbuh tanpa seorang ayah , karena suatu insiden yang menyebab kan ayah nya meninggal dunia di kala meraa masih kecil. Saat itu hujan turun sangat deras meraa yang masih setia menunggu ayah nya yang ingin menjemput nya dari sekolah.
Dari seberang meraa melihat ayah nya yang sudah tiba dan hampir menyeberang untuk menemuinya.
Tapi saat ayah meraa berada di tengah jalan di situlah akhir dari semua keceriaan meraa , ia melihet dengan mata kepalanya sendiri ayah yang sangat ia cintai tertabrak mobil.
Meraa yang masih kecil tidak tahu apa-apa dan harus bagaimana hanya mampu menangis di samping tubuh ayah nya yang berlumuran darah. “
ale yang mendengarkan cerita ayah meraa kini beralih simpati kepada meraa.
“ Namun bapak sangat kagum pada meraa , hingga sampai detik ini dia tidak pernah membenci bapak melainkan malah sangat menyayangi bapak dan menerima bapak menjadi ayah sambung untuk nya “ lanjut ucap bapak yang sangat membuat ale merasa bingung dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh ayah meraa.
“ maaf , maksud nya gimana pak?
Kenapa meraa harus membenci bapak “ tanya ale yang sebegitu penasaran nya.
“ karena bapak yang menabrak ayah meraa “ jawaban yang benar-benar sangat mengejutkan bagi ale.
“ bagi meraa saat dia bisa menembus seras nya hujan di saat itulah dia bisa meluapkan kerinduan nya pada ayah kandung nya.
Tanpa kita sadari di sebalik senyum nya terdapat tumpukan luka yang amat dalam.
Meraa tidak pernah menagis setelah ayah nya meninggal , tapi dalam setiap hujan yang ia terjang di situlah meraa mampu meluapkan tangisan nya “ tak terasa air mata ayah meraa pun jatuh karena bercerita suram pada hidup meraa.
“ Bapak sangat memohon kepada mu nak , jika kamu benar-benar ingin menikahi meraa tolong cintai dan sayangi meraa jangan pernah membuat nya merasa sendiria apalagi menorehkan luka pada nya “ pinta ayah meraa di isak tangis nya.
Dan ale hanya mampu mengangguk kan kepala nya , ale sendiri pun tidak bisa percaya pada dirinya sendiri untuk tidak menorehkan luka pada meraa.
Sedangkan niat awal pernikahan ini saja hanya untuk beberapa waktu hingga saat surya kakek ale pulang ke jerman maka semua kisah ini akan usai.
Ayah meraa yang tak kuasa menahan tangis nya memilih untuk memasuki kamar nya , dan ale yang masih termenung karena perkataan ayah meraa kini lebih memilih memandangi meraa dari depan pintu rumah.
Meraa yang mengetahui ale berada di depan rumah kini memberi isyarat untuk ale agar ikut dengan meraa yang tengah asik berlompatan di genangan air.
Ale merasa sangat tertarik melihat tingkah meraa saat ini , ale berlari menuju ke arah meraa menemani nya dalam balutan hujan di pagi ini.
Meraa sangat terkejut ketika ale dengan tiba-tiba memegang pundak nya lalu mengarah kan meraa untuk melihat kehadapan nya.
“ ketika kamu merasa kehilangan , lihatlah...
mulai sekarang ada aku di dekat mu” ucap ale dengan mengusap air mata meraa yang sudah tercampur oleh air hujan.
“ Aku tidak bisa berdiri tegak di atas langkah ku , harus kah aku meminta mu untuk menuntunku? “ ungkapan meraa dengan menggenggam tangan ale. sontak membuat ale menarik meraa dan memeluk nya , dan meraa pun juga membalas pelukan ale .
Bersambung..