Alena 5

1202 Words
ALENA – 05 "Bukannya gue pernah tunjukin, ya?" tanya Helena heran. Karena seingatnya dia pernah menunjukkan Gatra pada Alena. Alena mengernyit. Ikut heran juga. "Iya? Kapan? Gak inget," "Kapan, ya?" tanya Helena tapi terdengar seperti gumaman kecil. Detik selanjutnya ia menjentikkan jari telunjuknya. "Inget gue! Waktu ada remedi di kelas IPA5, inget nggak?" Alena masih mengernyit sambil menujukan ingatannya ke minggu yang lalu. Kemudian dia menepuk tangannya sekali. "Inget! Yang duduk bareng Pandu, kan?" Helena langsung mengangguk membenarkan. "Ah, iya-iya. Jadi, namanya Gatra?" Helena mengangguk lagi. "Iya, itu Gatra. Ganteng, kan?" "B aja, sih." balas Rana. "Gue gak nanya elo!" Helena memicingkan matanya kesal pada Rana. Entah kenapa Rana seperti tidak suka jika sudah membahas tentang Gatra. Alena terkekeh. "Iya, ganteng. Tapi gantengan Ayahku." Helena ikut terkekeh. Nah, uniknya Helena, moodnya bisa berubah dalam waktu sepersekian detik. Entah unik atau pasaran, intinya begitulah Helena. "Nama lengkapnya, Gatra Geraldino. Dari kelas 10 sampai sekarang, Gatra emang selalu dikejar-kejar sama cewek, ya, saking gantengnya." kata Helena menjelaskan. "Dia playboy!" sahut Rana. Alena melotot kaget. "Iya?!" "Ih, enggak!" bantah Helena. "Tau darimana lo?!" Rana hanya mengangkat bahunya tak peduli. "Udah ah, gak usah dengerin Rana. Mendingan dengerin cerita gue dulu," kata Helena kembali menarik perhatian Alena. Alena mengangguk saja. "Nah, terus, Gatra ini bisa terkenal karena nakalnya juga. Sering bolos, sering telat, malah selalu kedapetan manjat pagar dibela—" "Ah, iya! Kayaknya aku pernah ketemu dia deh," sela Alena. "Aku dapetin dia lagi ngendap dan katanya mau ke kantin, soalnya dia telat dan habis manjat pagar dibelakang." Helena mengangguk-angguk. "Iya itu dia. Berarti, sebelumnya udah pernah liat?" "Iya," Alena mengangguk. "Tapi, aku suka lupa sama mukanya." "Bagus. Dia emang gak pantes diinget-inget." timpal Rana. Helena kembali memberi tatapan kesal pada Rana, lalu kembali fokus pada Alena, berusaha tidak menganggap Rana ada disana. "Lo harus inget mukanya, orang ganteng gak boleh dilupain." Alena terkekeh. "Soalnya kan aku jarang keluar kelas, pas liat wajah-wajah baru jadi kayak gimana aja gitu." "Ya makanya, lo harus rajin keluar kelas sekarang. Lagian, udah berapa kali liat mukanya Gatra, gak mungkin masih lupa, kan?" kata Helena lagi. Terus membela Gatra. Rana berdecak lalu menatap Helena dengan sinis. "Maksa banget sih, lo. Suka-suka Alena mau inget apa enggak."  "Kenapa jadi lo yang nyolot?!" balas Helena lagi, kali ini tatapannya juga mulai sinis. Alena hanya menghela nafas. Kembali ia memfokuskan diri pada novelnya daripada harus mendengar Rana dan Helena. Gatra dan keempat temannya dengan sangat malas mengikuti Pak Indra yang memimpin kaum laki-laki untuk mencari kayu kering di sekitaran hutan. Kelimanya berjalan paling belakang karena malas mendengar celotehan dari Pak Indra. "Kabur, jangan?" tanya Firly pada keempat temannya. Mata Rega berbinar. "Kenapa gak ngomong dari tadi, elah. Buruan deh males gue disini, asli!" Setelah Gatra, Pandu dan Zidan mengangguk setuju. Mereka berlima mulai membalikkan badan dan mengendap-ngendap berjalan kembali ke lokasi kemping. "AYO, AYO! CARI KAYUNYA, JANGAN MALAS-MALAS!" Perintah Pak Indra. "Hey, lima s*****n itu, kemana mereka?" tanya Pak Indra pada salah satu murid yang ada didekatnya saat menyadari bahwa ada yang kurang. Dan dia sangat tahu bahwa yang menghilang adalah Gatra dan keempat kawannya. "Saya nggak tau, Pak." Pak Indra berdecak. "Ya sudah, biarkan saja. Dah capek ini mulut aku omelin mereka terus!" Sementara Pak Indra mengomel-ngomel tidak jelas, mereka berlima sudah kembali berada di depan tenda. Tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah Pak Indra yang kesal. "Si Indra mah gitu, sok kesel padahal dia naksir sama lo!" tunjuk Rega pada Pandu. "Heh, apaan?!" Pandu menatap Rega tidak terima. Gatra meredakan tawanya. "Lo kan murid teladan, ketua kelas, si Indra pasti naksir." "Gak lama lagi lo pasti diajak makan berdua diruangannya, sama kayak Zidan dulu! Ahahahaha," tambah Firly dan tawanya langsung meledak. "Ih, najis!" Pandu mengetukkan kepalan tangannya dari kepala menuju ke tanah sebanyak tiga kali. "Jangan ingetin gue soal itu, gue berasa bukan anak jantan," sahut Zidan. Kalian pasti mengerti tentang apa pokok pembahasan kelima cowok itu. Jika kalian berpikir bahwa Pak Indra itu menyukai sesama jenis, maka jawabannya adalah: BENAR. Dan sialnya, itu pernah terjadi pada Zidan. Yang membuat mereka berlima lebih dulu tahu tentang bagaimana kepribadian Pak Indra itu. "Eh eh, pada mau jalan-jalan ke tenda cewek, nggak?" ajak Rega setelah tawa mereka telah reda. "Boleh." Gatra mengiyakan.  Lalu mereka berlima mulai berjalan menuju tenda murid perempuan terletak. "Udah deh, bahas cowok mulu." Rana menghentikan pembicaraan Helena yang masih membahas tentang Gatra. Helena langsung merenggut kesal. "Al, temenin gue, yuk?" Rana bangkit dari duduknya. "Kemana?" "Buang air, bentaran aja." jawab Rana dan segera bergegas keluar dari tenda. Alena mengangguk dan mulai menyusul Rana. "Gue sendirian, gitu?" tanya Helena. Alena tersenyum kecil. "Bentaran aja." setelah itu Alena langsung keluar dari tenda. "Gatraaaa!!" Teriakan itu sontak membuat Alena dan Rana menghentikan niat mereka yang saat itu baru akan berjalan. Itu Jenny dan dayang-dayangnya berteriak menyebut nama Gatra yang saat itu memasuki area tenda cewek bersama keempat temannya.  Rana memutar bola matanya malas. "Alay banget!" Alena tertawa kecil. "Udah ah biarin, buruan yuk, kasihan Helen nunggu sendirian." Rana langsung mengangguk dan segera berjalan disusul oleh Alena dari belakang. "Tunggu bentar, ya?" Alena mengangguk dan membiarkan Rana masuk ke dalam toilet umum yang sudah tersedia di area kemping mereka. Memang katanya, tempat ini adalah khusus lokasi kemping. Oleh karena itu, sudah tersedia toilet. "Alena!" panggil Rana dari dalam toilet. "Iya, Rana?" "Gue lupa bawa tissue, bisa tolong ambilin, nggak?"  Alena langsung mengangguk walaupun ia tahu Rana tidak akan melihat. "Oke!" "Tapi jangan lama, ya!" "Siap!" Dengan segera Alena berlari kecil kembali ke tenda untuk mengambil tissue milik Rana. "Helen!" "Astaga!" Helena hampir saja terjungkal kebelakang karena kaget. Alena datang tiba-tiba langsung membuka tenda yang saat itu Helena juga ingin membuka tenda untuk keluar. Alena menyengir lebar. "Nyengir lagi lo! Untung gue gak mati, gila banget datengnya kayak orang lagi dikejar-kejar penagih hutang!" omel Helena. "Minta tissuenya Rana, dong! Ini buru-buru Rana yang nyuruh," Helena berdecak dan kembali memutar badannya untuk mengambil tissue milik Rana yang berada dalam tas. "Nih," Alena mengambil tissue tersebut dari tangan Helena. "Thanks." lalu keluar dari tenda bersamaan dengan Helena. Baru saat akan membalikkan badan untuk segera kembali ke toilet. Kali ini Alena yang hampir terjungkal kebelakang karena terkejut. Gatra dan keempat temannya sudah berada dihadapan Alena. "Hai," Sapa Gatra tak lupa senyuman manisnya ia pamerkan. Alena mengerjap beberapa saat, sedangkan Helena terdiam tak bisa berkutik. Masalahnya, sekarang ini ada cowok-cowok ganteng dihadapannya. "Eh— Hai," sapa Alena kembali. "Hai, ibu peri!" Sapa Firly dengan riang. "Hai, Alena." Pandu ikut menyapa. "Hai, mmm..?" Alena menatap Firly seakan bertanya 'namanya?' "Firly! Panggil aja Abang Firly, atau Sayangku, atau Beb, atau Firlyku." Alena mengernyit heran. "Panggil aja dia Firly." kata Gatra menepis keheranan Alena. Alena manggut-manggut kemudian menyapa balik pada Pandu. "Hai, Pandu." "Mau kemana?" tanya Gatra pada Alena. "Bawa tissue gitu," Helena semakin menahan nafas disamping Alena. Yang benar saja, seorang Gatra bertanya hal seperti itu pada sahabatnya. "Oh— ini, mau ke toilet ngasih tissue buat Rana," jawab Alena. Kemudian dia seakan baru teringat. "Astaga, Rana! Haduh, maaf yah, gak bisa ngobrol lama-lama. Kasihan Rana udah nungguin," Tak perlu menunggu jawaban Gatra dan kawan-kawannya, Alena langsung berlari meninggalkan mereka. Menuju toilet dimana Rana sudah dongkol sendiri menunggu Alena yang tidak kunjung kembali. "Alena, s****n! Kemana sih, nih anak?!" ucap Rana, kesal setengah mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD