Alena 6

1039 Words
ALENA – 06 Malam telah tiba. Acara puncak dari kemping yang mereka adakan akan segera dimulai. Yaitu pementasan seni dari beberapa anak-anak berbakat. Seluruh murid kelas 12 diminta untuk berkumpul mengelilingi api unggun yang sudah dibuat oleh anggota OSIS. "Lo gak mau nyanyi, Na?" tanya Helena pada Rana begitu mereka bertiga sudah duduk diatas rerumputan. Rana nampak berpikir, kemudian cewek itu tersenyum. "Satu lagu boleh kali, yah?" Alena dan Helena ikut tersenyum dan mengangguk semangat. Mereka sangat senang jika Rana menyanyi. Selain karena suara Rana yang bagus, cewek itu juga sangat menghayati dalam membawakan sebuah lagu membuat orang-orang yang mendengarnya jadi terbawa dan merasakan suasana hati Rana. Tiba-tiba seseorang langsung duduk disamping Alena. Sontak membuat Alena menengok ke sebelah kanannya. "Kamu?" Gatra tersenyum. "Hai," Mendengar Alena yang bersuara, Helena dan Rana menjadi ikut melihat kesamping Alena.  "GATRA?!" Pekik Helena. Dengan cepat Rana menutup mulut Helena agar pekikan yang kelewat keras temannya itu tidak berlanjut. Gatra terkekeh. "Hai, Helena." Helena langsung saja menepis tangan Rana dengan cepat. "Lo-- lo tau nama gue?" Langsung saja Gatra mengangguk. "Siapa yang gak kenal Helena Novita? Youtuber sekolah kita masa gak ada yang kenal," Mata Helena langsung membulat. "Lo sering nonton vlog gue? Duh, gue jadi malu. Gue pecicilan banget soalnya kalo nge-vlog," Rana memutar bola matanya. "gak cuma divlog, asli pun lebih parah!" ucap Rana dalam hati mengoreksi ungkapan Helena. Gatra terkekeh lagi. "Rega suka nonton, dia sering nginep dirumah gue jadi biasanya gue ikutan juga karena liat dia yang asik banget." "Eh iya, kita belum kenalan," kata Gatra lagi kembali pada Alena. "Gue Gatra," Gatra mengulurkan tangannya. "Iya udah tau," balas Alena, tapi dia tetap membalas uluran tangan Gatra. "Aku Alena." Acara puncak itu berlangsung dengan sangat seru. Ditambah aksi-aksi lucu dari para guru penanggung jawab yang ada disana. Apalagi saat Gatra tampil membawakan sebuah lagu yang berjudul Perfect oleh Ed Sheeran, suasana langsung tampak riuh saat cowok itu mulai bernyanyi dan memainkan gitar. Apalagi cewek-ceweknya pada teriak histeris. Kemudian, setelah penampilan Gatra, ada Pandu yang membaca puisi. Nah, Pandu itu jagonya dalam berpuisi, malahan Pandu bisa membuat puisi jika ada yang minta. Lalu, kembali diisi oleh Firly yang melakukan stand up comedy, itu hanya tambahan dan keinginan Firly sendiri. Karena katanya dia ingin jadi seperti Arie Kriting. Dan ada juga Rana. Dengan diiringi gitar yang ia mainkan sendiri, sama seperti Gatra. Bedanya lagu yang dibawakan Rana berjudul Say You Won't Let Go oleh James Arthur. Setelah semua penampilan selesai, acara diakhiri dengan beberapa pidato ketua OSIS. Lalu, setelah benar-benar selesai, mereka dibebaskan untuk melakukan apa saja kecuali keluar dari area kemping. Alena, Helena dan Rana memilih duduk di kursi kemping yang Helena beli bersamaan dengan tenda besar untuk mereka. Kursi itu mereka letakkan di depan tenda sambil memakan makanan ringan dan meminum minuman soda kemasan kaleng. "Gak rugi ya, Len? Beli tenda gede begini, sama kursinya." tanya Alena memulai obrolan. Helena meminum sodanya seteguk, kemudian menjawab. "Enggak lah, ini kan buat kita." "Ya iya, sih." Alena menggaruk kepalanya. "Tapi kan, cuma dipake semalem. Rasanya kayak rugi aja gitu, iya nggak, Na?" "Apa banget sih, dia banyak duit, Al. Lo tenang aja, duitnya gak bakal abis." balas Rana. Kemudian kembali memasukan makanan ringan itu kedalam mulutnya. Helena langsung mengangguk tapi terdiam beberapa saat setelahnya. "Eh?" Helena memandang kesal pada Rana. "Ish!" kacang almond yang akan dia masukkan kedalam mulutnya, dilemparkan begitu saja kearah Rana. Rana hanya tertawa menanggapi perlakuan Helena.  "Kan bisa kita pake lagi kapan-kapan, kali aja kita bikin jadwal buat kemping bertiga, kan?" Helena menatap kedua sahabatnya bergantian. Alena langsung mengangguk sambil tersenyum. Begitupun Rana. Alena terbangun begitu merasakan getaran ponselnya didalam tas. Cewek itu mendudukan badannya dan masih setengah sadar berusaha merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Alena berusaha memperjelas penglihatannya saat dilihatnya ada sebuah pesan masuk. Bunda : kamu pulang hari ini kan? Bunda : bunda hari ini ke bandung mau lihat keadaan nenek Bunda : bareng sama ayah Bunda : pulang nanti kamu dirumah Helen atau Rana dulu ya "Ayah? Ayah udah pulang dong? Yes!" kemudian Alena mulai mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Bundanya. Alena : Siap! Setelah memastikan pesannya sudah terkirim, Alena memakai jaketnya dan memasukkan ponselnya kedalam kantung jaket. Kemudian keluar dari tenda. Hawa dingin langsung menusuk kulit wajah Alena yang baru keluar dari tenda. Dan suasana yang pertama Alena lihat adalah, sepi. Tidak ada orang sama sekali. Kemudian dia melihat jam dipergelangan tangan kirinya. Pukul 05.55 , pantas saja. Lalu Alena memutuskan untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu, setelah itu ia akan berjalan-jalan sedikit di sekitar lokasi kemping. Alena memotret beberapa pemandangan yang ia rasa bagus untuk dilihat di sekitaran lokasi kemping mereka. Wajahnya begitu berseri saat melihat hasil potretannya sangat bagus.  Jika Rana hobi bernyanyi, Helena hobi nge-vlog, maka Alena hobi memotret selain membaca novel. Alena punya kamera sendiri, ia simpan di kamarnya. Baru-baru ini Alena mendapat kamera fujifilm dari Ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Alena bilang, kamera itu ia gunakan untuk mengabadikan momen bersama Helena dan Rana tapi untuk kali ini Alena lupa membawanya. "Jangan berisik!" "Denger gak, sih? Nanti mereka kebangun!" Alena langsung  menghentikan aksinya untuk memotret daun basah oleh embun pagi karena mendengar suara seseorang. Orang itu mengatakan untuk tidak berisik, nyatanya dia sendiri yang berisik. Suaranya bahkan terdengar oleh Alena. Karena penasaran Alena melangkah mendekati sumber suara. Arahnya diarea tenda para cowok. Tadinya Alena berpikir kembali sebelum melanjutkan langkahnya, jika dia ketahuan pergi ke tenda cowok di pagi buta begini, dia bisa saja dimarahi Bu Genta apalagi Pak Indra. Namun, suara yang membuat Alena penasaran itu adalah suara cewek. Jadi Alena memilih terus berjalan sampai ia tahu siapa pemilik suara itu. Mata Alena membulat seketika saat melihat tiga orang cewek berada didepan tenda, entah tenda siapa yang terpenting itu tenda cowok.  Lebih parahnya lagi, salah satu cewek itu membuka resleting tenda dan beraksi untuk masuk. Sedangkan dua lainnya menunggu giliran. "Kalian ngapain?" Akhirnya, Alena berhasil mengeluarkan suaranya, sebelum aksi ketiga cewek itu semakin parah. Tiga cewek itu tentu saja sudah menegang. Bisa saja itu Bu Genta, pikir mereka. Alena mendekati mereka, dan saat melihat siapa pemilik tenda itu, Alena langsung memekik kaget. "AAA!!" Di dalam tenda itu ada Gatra, Zidan, dan Pandu yang masih terlelap. Tapi langsung terbangun saat suara Alena begitu menusuk ditelinga. Apalagi ketiga cewek itu juga ikut berteriak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD