Alena 7

1284 Words
ALENA – 07 Gatra, Pandu, dan Zidan tentu saja kaget saat melihat Jenny yang setengah badannya sudah berada dalam tenda mereka. Herannya, untuk apa cewek itu masuk kedalam tenda mereka. Langsung saja Gatra mendudukan dirinya, Pandu dan Zidan pun melakukan hal yang sama. "Lo ngapain, Jen?" tanya Gatra penuh dengan keheranan. Jenny langsung mengeluarkan dirinya dari dalam tenda. Lalu, ketiga cowok itu juga ikut keluar. "Lo ngapain teriak?!" Bentak Jenny pada Alena. Alena mengernyit tak suka. Kenapa jadi dia yang dibentak. "Aku cuma lakuin hal yang bener. Kamu sadar gak sih kalo kelakuan kamu ini salah?" Gatra langsung mengambil posisi ditengah-tengah mereka. "Kenapa pada debat?" tanya Gatra. Lalu pandangannya tertuju pada Jenny. "Gue nanya sama lo, Jen. Lo ngapain masuk tenda gue?" Jenny diam. Dia bingung bagaimana menjelaskan.  "Lo kenapa bisa disini?" tanya Pandu pada Alena. "Aku?" Alena menunjuk dirinya. "Aku denger suara dia yang berisik, karena penasaran ya aku kesini." Jenny berdecak setelah mendengar penjelasan Alena. "Kepo banget, sih!" Alena kembali mengernyit tak suka. Oke, Alena memang tidak kenal siapa cewek-cewek itu. Yang pasti Alena tidak suka dengan tatapan mereka yang menyiratkan jijik, benci, dan apalah itu yang pasti Alena tidak suka menerima tatapannya. "Weh! Apaan sih ribut-ribut?!" Rega keluar dari tenda yang berada disamping tenda Gatra bersama Firly.  Zidan menunjuk Jenny dan kawan-kawannya menggunakan dagu. Langsung saja Rega berdecak kesal. "Lo liat jam gak, sih?!" Jenny mengernyit. "Kenapa lo yang marah?" "Gue marah karena gue terganggu!" balas Rega. "Tau, ganggu lo!" tambah Firly. "Terserah gue, bodo amat sama lo berdua." Jenny mengangkat bahunya acuh. Rega ingin melayangkan tinjunya saat itu tapi dia pikir Jenny adalah perempuan dan juga dia tetap patuh pada aturan negara untuk tidak melakukan k*******n pada perempuan, maka dari itu ia menahan tinjunya.  "Udah, udah. Kalian balik aja ke tenda, sebelum Pak Indra juga ikut kebangun." ucap Gatra mencoba menyelesaikan masalah. Alena pergi lebih dulu dari sana dan beberapa detik kemudian, Jenny dan dayang-dayangnya menyusul. Setelah itu, Rega melayangkan tinjunya pada udara bebas dimana tempat Jenny berdiri. "Bikin emosi naik aja tuh cewek pagi-pagi!" Gatra menggelengkan kepalanya. "Udahlah, balik tidur aja lagi." kemudian dia kembali masuk kedalam tenda. "Beres!" seru Helena begitu semua barang-barangnya sudah masuk kedalam tasnya. Tenda sudah terlipat, kursinya pun juga sama.  "Kita se-bus sama Gatra lagi, ya?" pinta Helena pada Alena dan Rana yang sedang memeriksa kembali isi tas mereka. Rana mengangkat bahunya. "Serah." "Al?" "Iya, terserah Helen." jawab Alena pasrah. Lagian jika Alena membantah, Helena tetap akan memaksa. Maka dari itu tidak ada gunanya menolak permintaan Helena. "Yeay!"  Alena, Helena dan Rana masuk kedalam bus bersamaan dengan Gatra dan keempat kawannya yang saat itu juga hendak masuk. "Ladies first," ucap Gatra dan memberi jalan pada Alena dan kedua temannya untuk masuk terlebih dahulu. Helena memekik senang melihat perlakuan Gatra. Gatra gentle abis, batinnya berkata. "Makasih." Alena tersenyum lalu mulai masuk kedalam bus. Kemudian disusul Helena yang juga berterima kasih, lalu Rana yang langsung masuk tanpa berkata apapun. Kecuali dalam hati, ia membatin, pencitraan. Setelah ketiga cewek itu masuk, Gatra mulai masuk kedalam bus, disusul Pandu, Zidan, Firly dan terakhir Rega. Tapi, saat Rega akan masuk, Jenny dan tak lupa dua pengikutnya menahan aksinya. "Minggir! Gue mau masuk," kata Jenny dan berusaha untuk masuk namun Rega menahan. "Apaan, like a boss banget idup lo." Rega berkacak pinggang dan menutup jalan untuk masuk kedalam bus. Jenny tersenyum miring. "Emang iya. Awas! Gue mau se-bus sama Gatra, tiga cewek yang masuk tadi itu udah keenakan banget, pergi se-bus pulang juga se-bus, yakali!" "Mereka orang terpilih. Lo tau kan, hanya orang-orang terpilih yang bisa sama Gatra, lagian bus-nya udah penuh. Gak ada kursi kosong!" "Ih, apaan sih lo?!" kesal Jenny. Rega menangkat bahunya tidak perduli dan memperlihatkan wajah bodo amatnya pada Jenny, kemudian masuk kedalam bus dan tak lupa menutup pintu bus. "Lama banget lo," ucap Firly saat Rega sudah duduk disampingnya. Rega memijit kepalanya. "Ada gitu ya jaman sekarang, spesies kayak Jenny hidup di bumi?" Firly tergelak. "s***s banget lo ngomong," "Heran aja gue." Rega menghela nafasnya kasar saat Firly masih tertawa sambil memegang perutnya. "Mendingan spesies kayak Jenny atau spesies kayak Helena?" tanya Firly saat tawanya sudah berhenti. "Helena? Youtuber itu maksud lo?" Firly mengangguk dan mengarahkan pandangannya pada cewek yang duduk tepat dibaris sebelah kanan mereka. "Cerewet parah." Rega terkekeh. Ikut melihat arah pandangan Firly. "Mendingan spesies kayak Helena, deh." "Lo dibicirain sama Rega dan Firly." satu kalimat dari Rana yang berhasil membuat Helena berhenti bicara. "Lo serius?" tanya Helena pelan. "Gak percaya, liat aja kesamping." Helena perlahan mengarahkan kepalanya kesamping kiri. Lalu dilihatnya Rega dan Firly yang tengah melihat dirinya. Firly langsung melambaikan tangannya dan Helena balas dengan senyuman malu-malu. "Anjir, gue diliatin!" bisik Helena pada Rana. "Emang." balas Rana kemudian dia menutup matanya untuk tidur. Firly meregangkan kedua tangannya begitu mereka semua sudah keluar dari bus. Akhirnya, hari melelahkan tapi seru itu sudah berakhir. "b****g gue, kayak mau ancur," keluh Firly, lalu meminta Zidan untuk memukulnya dengan pelan. "Ah! Kekencangan, nyet!" Firly mengeluh kesakitan saat Zidan memukulnya dengan keras. "Udah gue bilang pelan-pelan, tau ah udahan aja, males gue, lu kalo disuruh suka gak bener!" "Lah, udah nyuruh malah marah, keenakan banget lo!" protes Zidan. "Fir, lo pulang bareng gue, kan?" tanya Pandu.  Firly langsung mengangguk. Kemudian dia mulai mengangkat tasnya saat Pandu menyuruhnya bergegas cepat. "Gue duluan, nyet." Pandu menepuk pundak Gatra, Zidan dan Rega, lalu melangkah pergi menuju mobilnya yang berada diparkiran sekolah. Disusul oleh Firly. "Sampe kapan lo mau liatin tuh cewek?" Zidan menarik Gatra kembali pada kesadarannya setelah beberapa detik yang lalu tak henti-hentinya memerhatikan Alena. Gatra salah tingkah dan menggaruk belakang lehernya disusul dengan kekehan kecilnya. "Apaan, malu-malu t*i!" Rega tertawa melihat tingkah temannya yang satu itu. "Udah, anterin pulang aja sana," Zidan mengangguk setuju. "Jangan kebanyakan ngeliatin, diembat orang baru tau rasa lo!" "Paan sih lo berdua," Gatra terkekeh pelan. "Tapi, gapapa kali, ya?" Rega tersenyum menggoda. "Gapapa apanya?" Gatra kembali salah tingkah. "s****n, lo! Oke deh, gue coba anterin pulang," "Nah!" Zidan merangkul Gatra. "Gitu kek, curi-curi hati dulu dong baru dideketin," "Kalo udah lampu ijo, ya tembak!" Rega membentuk tangannya seperti pistol. "Ibu peri, lo mau kan jadi pacar gue? Dia pasti jawab iya. PANG!" Gatra tertawa. "sinting,"  "Udah, sana sana!" Rega mendorong tubuh Gatra terlepas dari rangkulan Zidan dan menyuruhnya agar segera menghampiri Alena. "Doain, kali." kata Gatra sebelum ia benar-benar jauh dari Rega dan Zidan. Rega dan Zidan mengacungkan jempol untuk Gatra yang perlahan sudah semakin jauh. "Yah, gimana dong? Bunda lagi ke Bandung." Alena menggaruk kepalanya, bingung. "Duh, gimana ya, masalahnya gue gak ke rumah, gue dijemput sama bokap terus langsung ke hotel acara nikah sepupu gue." Helena juga ikut menggaruk kepalanya. "Rana?" "Gue juga gak ke rumah, Al. Gue sengaja bawa mobil sendiri soalnya dari sini gue langsung ke Bogor, keluarga pada ngumpul disana." jawab Rana agak sedikit menyesal tidak bisa menolong Alena. "Sama gue aja," sahut Gatra yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Alena. "Nah, sama Gatra aja," ucap Helena dengan girang. Rana berdecak kesal dalam hati. Jika saja dia bisa bersama Alena, Gatra pasti tidak akan muncul. "Gimana?" tanya Gatra memastikan. Alena masih berpikir sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Gatra langsung tersenyum senang. "Yaudah, yuk?" Setelah itu, Alena dan Gatra mulai berjalan menuju mobil Gatra yang terparkir. "Biar gue bawain tasnya," "Eh gak usah, gak berat kok ini, aku bisa sendiri." Alena menolak dengan halus. "Aduh, entah kenapa ya, gue berasa Alena bakal jadian sama Gatra," ucap Helena yang terus memerhatikan Alena dan Gatra yang berjalan semakin jauh. "Apa sih bagusnya Gatra? Cowok b******k kayak dia banyak yang suka, heran gue." kemudian Rana langsung pergi setelah mengucapkan kalimatnya. Helena hanya menatap kepergian Rana dengan bingung. Ada apa dengan sahabatnya yang satu itu. Sebenci itu kah dia sama Gatra?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD