Tadinya aku ingin memberi hukuman pada gadis bodoh ini karena sengaja mencari masalah dengan memakai baju kurang bahan, paham sekali dia melakukannya hanya karena ingin membuatku kesal juga jijik dan dia berharap aku akan membatalkan pernikahan kami. Tentu saja hal itu dengan mudah terbaca olehku, dalam otakku sudah merencanakan hukuman manis apa yang akan kuberikan di apartemen nanti. Sifatnya ternyata benar-benar menyebalkan persis seperti apa yang sudah kudengar.
Tapi semua itu bubar karena kesalahanku membuat kakinya terkilir. Awalnya aku sengaja mengacuhkannya dan menghujaninya dengan ucapan pedasku. Namun ketika aku melihatnya menangis sesegukan menyembunyikan wajah tanpa suara malah menghancurkan pertahananku menjadi rasa iba dan bersalah. Terpaksa harus menggendongnya naik karena wajah Erika benar-benar terlihat kesakitan. Lagipula aku tidak mungkin cari perkara kalau sampai calon mertuaku tahu kalau putrinya terkilir karena ulahku barusan.
Karena menangis sesegukkan gadis bodoh itu tertidur waktu sudah sampai di depan apartemenku, beberapa kali memanggilnya namun Erika masih tidak bergeming. Perlahan-lahan menyeimbangkan diri lalu duduk masih terus menggendongnya. Saat menoleh aku dapat melihat wajahnya dari dekat. Gadis bodoh, urakan dan menjijikkan ini nyatanya memang cantik. Meski sisa air mata masih terlihat dalam saat tertidur Erika terlihat begitu nyaman seakan tangis kesakitannya beberapa saat lalu tidak pernah ada dan anehnya malah membuat bibirku tersenyum tanpa sadar. Satu tanganku mengusap lembut membenarkan helaian rambut di wajah.
“Andai saja kamu tidak melakukan kesalahan, mungkin aku akan jatuh cinta sama kamu. Tapi sayangnya dibalik wajah polos yang cantik ini menyimpan begitu banyak dosa yang harus kamu tebus, Erika.”
Argh, tidak! Aku harus menjalankan rencanaku. Erika tidak lebih seperti rubah cantik yang bisanya mencelakai orang lain. Sebab itu aku tidak boleh sampai terjebak dengan pesonanya. Dan akhirnya aku pun membangunkan dia sebelum terlalu dalam hanyut melihat wajahnya.
Aku mengulum senyuman melihatnya terkejut ketika hidung kami hampir menempel sampai Erika melupakan rasa sakitnya, entahlah rasanya menyenangkan saja melihat reaksi Erika. Aku menggendongnya lagi setelah perdebatan kami di ruang tamu dan membawanya masuk ke dalam kamar lalu mengobati kakinya itu dengan arak gosok. Bagaimanapun aku tetap harus bersikap tanggung jawab pada papi Erika. Yah, semua kebaikan yang kulakukan saat ini hanya untuk pencitraan di depan seorang Raja saja. Seperti itu pikiranku.
Tapi dasarnya Erika ini keras kepala, lagi-lagi kami berdebat. Bibir mungil Erika selalu saja pintar mencari-cari masalah dan memojokkanku. Satu-satunya cara menutup mulut bawelnya yang ada dalam benakku hanya membungkamnya dengan bibirku. Sekalian saja anggap ini sebagai hukuman karena baju kurang bahan yang dipakainya sekarang. Anehnya semakin menyesap, kepalaku terasa memanas dan tanpa sadar aku memanggilnya sayang. Aku hampir gila berusaha melawan desiran yang sudah kubuat sendiri dan berakhir dengan tangisan Erika yang menghentikan sisi liarku.
“Erika, ini sudah sepuluh menit. Ngapain saja sih di dalam.” Ucapku mulai tidak sabaran. Mana ada orang pipis sampai selama ini. Mendengus kasar akupun memanggilnya sambil memberikan peringatan karena dia tidak juga menjawab.
“Aku hitung sampai tiga dan aku akan masuk. Satu, dua, tiga!” Sambil membuka kasar pintu kamar mandi.
Kepalaku mau berasap melihat kelakuannya, Erika duduk di atas closet sudah memakai celananya kembali. Wajahnya tidak nampak terkejut melihatku masuk, entah rencana apa yang sedang dia buat kali ini.
“Bisa ketuk pintu dulu kan!” Dengan raut wajah memperlihatkan kekesalannya bukan merasa bersalah sudah membuatku menunggu lama.
“Aku sudah manggil kamu tapi tidak dijawab, mau dikutuk bisu kamu!”
Meski matanya melotot seolah ingin menelanku tapi Erika tidak lagi menyahut. Malas berdebat akupun menghampiri Erika lalu menggendongnya kembali keluar dari sana dan kuletakkan duduk di sofa.
Sambil menghela kasar nafas, aku pun menatap Erika yang sengaja menghindari tatapanku.
“Kita bicara soal pernikahan kita nanti. Aku akan membuat peraturan dan kamu harus mematuhinya.”
Lagi-lagi bola matanya melebar. “Enak saja, aku harus tahu dulu apa peraturannya. Masa kalau kamu suruh aku jual diri trus aku harus nurut. Apapun yang kamu bilang dan suruh, semua harus jelas dan hitam di atas putih tanda tangan bermaterai. Ngak cuma kamu saja, aku juga akan buat peraturan dan kamu harus mematuhinya. Gimana?”
Lihat kan, betapa licinnya otak gadis ini. Belum apa-apa sudah mulai mau mengaturku. Kita lihat sampai mana kecerdasannya itu.
“Deal.” Lalu aku mengambil laptop yang ada di meja samping sofa, membuka sebuah aplikasi untuk mengetik isi perjanjian kami setelah menikah.
Hampir satu jam kami memberikan hal-hal apa saja yang nantinya harus dipatuhi bersama seperti tuntutanku agar Erika harus memasak untukku setiap hari karena aku memang tipe pemakan masakan rumahan lalu Erika menginginkan aku tidak melarangnya tetap bekerja setelah lulus kuliah dan dibebaskan untuk berteman dengan siapa saja selama. Untuk dua hal ini aku setuju dengan syarat asal dalam batas pertemanan wajar dan dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istriku di rumah.
Aku tersenyum tipis, nyatanya tidak sulit bernegosiasi dengan gadis bodoh ini. Bahkan Erika pun setuju untuk melakukan kewajibannya kalau nanti aku menuntut hak ku sebagai suami asalkan dia juga berkenan memberinya. Bagaimana tidak aku bersorak kesenangan, tentu saja Erika tidak akan menolaknya. Ciumanku saja dia tidak bisa mengelak apalagi yang lebih panas dari kejadian tadi. Lagipula aku yakin sekali Erika tidak sepolos kelakuannya. Meski dia bilang ciuman di taman waktu itu adalah ciuman pertamanya, tentu saja aku tidak akan percaya. Aku sangat yakin dia sudah bukan gadis suci lagi, aku rasa dia sudah sering melakukannya dengan lelaki lain termasuk dengan pacarnya si Bruno itu.
Setelah melalui dan saling menyetujui belasan isi perjanjian yang membuatku merasa menang, Erika menoleh dan menatapku dengan raut keraguan.
“Ada yang perlu dirubah lagi?”
Gadis itu menggeleng. “Sudah oke semua, tapi aku mau menambahkan satu lagi di daftar perjanjian ini.”
Keningku mengernyit merasa apa yang akan diminta Erika akan membuatku tidak senang dari raut wajahnya.
“Apa?”
“Kita menikah karena persahabatan orang tua, jadi aku yakin kamu pasti sudah memiliki perempuan yang kamu cinta kan? Begitu juga aku, jadi aku mau kita saling memberikan kebebasan untuk tetap menjalin hubungan dengan pacar masing-masing setelah menikah nanti. Hanya di depan orang tua saja kita bersandiwara seolah-olah aku dan kamu sudah saling jatuh cinta. Gimana?”
Aku yakin sekali ekspresi wajahku berubah bahkan kepalaku seketika memanas ingin mengamuk mendengar permintaannya. Apa-apaan dia, dia pikir aku ini actor di sinetron. Tidak ada dalam rencanaku untuk membiarkan Erika tetap berhubungan sama pacar pengecutnya itu. Bisa-bisa rencanaku gagal nanti kalau sampai pacarnya mempengaruhi otak Erika.
“Tidak akan!”
Jawabanku kali ini membuat wajah Erika terlihat geram.
“Kenapa ngak? Kita menikah bukan karena cinta lagian aku masih berstatus pacar Bruno, aku ngak mau putus dari dia. Setelah kita cerai, aku akan langsung minta Bruno menikah, argh…!”
Oke, emosiku terpancing kali ini karena ucapan Erika. Tanganku menyambar leher Erika dan mendorongnya sampai posisi terbaring, kedua tangannya spontan memegang tanganku yang masih mencengkram lehernya.
“Lepas, Re-van… Kamu bisa membunuh aku.” Ucapnya dengan nafas pendek dan suara tercekik.
“Jangan lagi kamu bahas soal laki-laki lain dalam pernikahan kita. Besok kamu harus putus dari Bruno atau aku akan membuat hidupmu lebih menyakitkan dari cekikanku sekarang, mengerti!”
Karena cekikanku, Erika hanya mengangguk dengan air mata menggenang menanggapi perintahku barulah menjauhkan tanganku dari lehernya lalu membantunya untuk duduk. Aku pun mengetikkan poin yang diminta Erika namun isinya tentu saja dia tidak boleh berhubungan dengan pria manapun selama kami masih berstatus suami istri. Setelah mengetik aku menggeser laptop dan memnyuruhnya membaca beberapa poin tambahan yang membuat Erika hanya menghembuskan nafas panjang.
“Aku juga ngak bisa bilang tidak setuju kan buat poin ini.” Kemudian ia memalingkan wajahnya menatap ke depan.
“Percuma buat perjanjian kalau akhirnya aku harus menuruti semua kemauan kamu.”
“Terserah!” Jawabku ketus. Erika menoleh menatapku lagi dengan tatapan sinisnya.
Namun kelamaan pelupuk matanya kembali menggenang mengalir turun membasahi pipinya. Tadinya aku tidak ingin menambah beberapa poin yang akan merugikan posisi Erika tapi mengingat gadis ini masih bersikeras ingin tetap melanjutkan hubungannya dengan Bruno maka terpaksa aku membuat tambahan peraturan lagi dan seperti dugaannya kali ini tidak ada penolakan.
Menghela nafas panjang, aku meletakkan laptop ke meja samping kemudian membalas tatapan matanya. Saat tanganku hendak memegang pipinya, Erika melengos menutupi pipinya dengan tangan mengira aku akan bersikap kasar seperti tadi. Aku menarik tubuh Erika mendekat melingkarkan tanganku di bahunya.
“Kamu adalah istriku setelah menikah nanti. Apa yang terjadi nanti meskipun aku membencimu, statusmu tetaplah istri seorang Revan Savero Mahendra dan akan tetap mendapatkan hak kamu sebagai istriku. Orang tua kita dikenal banyak orang, coba kamu pikir bagaimana kalau sampai ada yang melihatmu berjalan dengan lelaki lain. Bukan hanya pernikahan kita yang jadi taruhannya tapi nama baik kedua orang tua kita, mengerti?”
Gadis itu hanya menggerakkan kepalanya masih menunduk. Lagi-lagi melihat Erika seperti ini jantungku seperti ikut teriris.
“Semua selalu atas kemauan kamu. Sedang pendapatku selalu tidak ada artinya kan buat kamu. Itu yang selalu kamu lakukan ke aku, Rev.”
Giliran aku yang dibuat bingung dengan ucapan Erika.
“Maksud kamu apa? Ternyata selain keras kepala, kamu lebai juga. Kita baru bertemu dua hari tapi perkataan kamu seolah bilang kalau kita sudah lama menikah. Aneh!” Ketusku membuat gadis itu menoleh dan menatap sinis.