Bab 10. Luapan Hati Lala

1359 Words
Mumpung masih libur, Erika sengaja bangun siang hari ini. Moodnya tidak baik sejak ia bertunangan lagi dengan Revan. Ponselnya bergetar, Erika mengambil benda itu dari atas nakas dan melihat nama di layar membuatnya mendengus kasar. Sejak semalam Erika tidak menjawab panggilan dari Bruno. Entahlah, sebenarnya bukan merasa bersalah karena membohongi pacarnya itu tapi dirinya memang sedang tidak punya tenaga untuk mencari alasan kenapa tidak menjawab panggilannya. “Beb, kenapa ngak angkat telepon sih. Kamu kenapa?” “Kangen berat sama kamu, Beb.” “Ketemuan yuk, nonton, makan atau kalau kamu suntuk bisa ke rumah aku. Orang tuaku sedang libur di luar kota. Tapi jangan ajak Lika dan Desi yah, please. Aku kepingin berduaan sama kamu.” “Beb, balas chat aku dong.” Karena tidak diangkat akhirnya Bruno mengirim pesan tapi tidak juga dibalas Erika. Yah kali Erika mau diajak ke rumah Bruno. Setiap kali diajak ke mal saja, Erika selalu meminta Lika atau Desi yang menemani bahkan meskipun sudah dua tahun pacaran, Bruno juga tidak berani datang ke rumah untuk menjemput Erika. Itu sebabnya Erika menjaga dirinya agar jangan sampai jatuh dalam dosa terlebih lagi ia belum bisa membuka hati untuk Bruno. Kemarin setelah kejadian menyebalkan yang berakhir manis dan bertengkar lagi bersama Revan, Erika lebih banyak diam sepanjang perjalanan pulang. Bahkan ia membiarkan Revan mengecup pipinya di depan kedua orang tuanya saat akan pamit pulang. Surat perjanjian pernikahan sudah dibuat, itu artinya dia setuju untuk menikah dengan Revan meskipun hati dan pikirannya masih berusaha untuk mencegah pernikahan ini terjadi. Hampir menjelang waktu makan siang Erika baru keluar dari kamarnya setelah berendam lalu mandi untuk menyegarkan pikirannya. Biasanya hari Minggu, Mami Erika menemani Papi-nya bermain golf lalu makan siang. Bang Raihan kadang diminta ikut kalau ada partner bisnis mereka ikut bermain golf. Sedangkan Kak Lala biasanya keluyuran dari pagi baru pulang malam hari bersama teman kampus atau teman kantor setiap akhir pekan. “Jam segini baru bangun, mau jadi istri macam apa loe nanti. Bisa makan hati mertua loe.” Erika sampai menghela panjang nafasnya, dia pikir di rumah ini sedang kosong makanya baru ke dapur untuk mencari makan siang. Ternyata ada seseorang yang sedang ia hindari juga selain Bruno. Dulu Lala selalu cerita kalau dia memiliki seseorang yang ia kagumi dan Erika hanya tahu namanya Revan tanpa pernah mau melihat fotonya meskipun Lala pernah mau menunjukkan akun media sosialnya. Jujur saja soal Kak Lala juga berubah di kehidupan sekarang. Kalau dulu Lala berbesar hati mengalah waktu dirinya dijodohkan dengan sang pujaan tapi kenapa sekarang justru sikap Lala berbanding terbalik dengan masa lalu. “Justru belum jadi menantu, Kak. Makanya aku mau nikmati masa-masa jadi single.” Erika sengaja mempertontonkan senyumannya menjawab dengan nada bercanda. “Cih, dasarnya saja kamu munafik!” Lihat kan, beda sekali sikap Kak Lala-nya Erika sekarang. Entah apa yang membuatnya jadi sengit seolah membenci Erika. Anak bungsu Raja itu sengaja tidak menggubris ucapan ketus sang kakak. Ia melihat meja makan hanya terisi roti tawar dan selai yang artinya pembantu tidak memasak hari ini. “Kak Lala lapar ngak? Aku mau pesan makanan. Atau kita masak mie instan saja yuk.” Tanya Erika mencoba mengalihkan bahasan soal Revan. “Gua ngak lapar! Ngak usah sok baik berusaha ngejilat supaya gua rela kasih Revan buat loe.” Bukannya mereda, malah makin menguar emosi Lala. Hilang sudah selera makan Erika. Baginya Kak Lala bukan hanya seorang kakak saja, tapi sejak kecil ia berusaha menjadikan Lala sebagai panutannya sebagai seorang perempuan. Hanya saja semua itu hanya harapan Erika saja karena Lala memang lebih ketus dan kasar memperlakukan dirinya. “Sial banget nasib gua punya adik kayak loe. Tahu begitu dari dulu saja gua buang loe ke panti asuhan biar ngak usah jadi anak papi mami!” “Kak!” Padahal sudah mencoba sabar menghadapi kelakuan Lala, tapi dinding kesabaran Erika tembus juga tidak tahan dengan ucapan pedasnya itu. “Stop manggil gua Kak, gua ngak sudi punya adik kayak loe!” Sahut Lala, saking emosi ia melempar gelas ditangannya kea rah Erika ketika memaki. Suara pecahan gelas itu sampai membuat mbok di rumah yang biasa melayani mereka datang melihat apa yang terjadi. “Non Eri, tangannya berdarah.” Semakin kesal karena si mbok malah perhatian ke adiknya, Lala yang masih tersulut emosi beranjak dan meninggalkan dapur. Tidak, Erika tidak akan membiarkan kakaknya semakin salah paham dan membencinya. Dia tidak akan diam lagi. Masalah ini harus diselesaikan mumpung tidak ada orang tua dan abang mereka di rumah. Mendengar ucapan Lala tadi membuat dadanya sesak seperti ditonjok, nyeri dan sakit rasanya dibilang tidak sudi punya adik seperti dia hanya karena memperebutkan Revan. Erika menyusul Lala ke atas tanpa mempedulikan tangannya yang berdarah karena terkena beling gelas kaca yang terpental. Saat Lala hendak menutup pintu kamarnya, Erika lebih dulu menahan pintu itu dengan tangannya. “Keluar loe!” “Ngak, kita harus bicara, Kak. Aku ngak suka Kak Lala marah hanya karena Revan. Maaf, bukan kemauan aku juga dinikahin sama Revan. Kak Lala juga bisa lihat kan gimana usaha aku supaya Revan mau batalin pernikahan ini. Aku juga berusaha meyakinkan Papi sama Mami supaya menikahkan Revan sama Kakak.” “Bulshit! Munafik, loe! Gua ngak percaya! Loe tahu gua cinta banget sama Revan, harusnya loe nolak dia pakai cara apa kek.” Sudah tidak heran lagi bagi Erika melihat emosi Lala, bisa dikatakan mirip seperti papi mereka bak petasan siap meledak jika sumbunya terkena panas. Hanya saja kali ini dia yang diserang dengan kata-kata menyakitkan. Bagi Erika sikap Lala berlebihan bahkan seperti orang buta dan tuli seolah usaha yang dilakukan Erika sebelum ini tidak pernah dilihatnya. “Aku sudah berusaha nolak, Kak. Sejak hari pertama juga Kak Lala lihat sendiri, bahkan sengaja berpenampilan kayak kemarin biar Revan jijik. Kalau Kak Lala mau merebut Revan, aku ngak masalah kok. Tapi jangan cuma aku saja yang berusaha, Kak Lala juga harus berusaha meyakinkan Papi sama Mami supaya merubah keputusan mereka jangan cuma diam saja. Bukan cuma limpahin marah ke aku begini. Sakit dengar Kak Lala bilang begitu.” Sahutnya panjang lebar menangis meluapkan kekesalannya. Bagi Erika dirinya juga hanya korban, andai saja Lala tahu kehidupan masa lalunya yang berakhir tragis. Andai saja Lala tahu kehidupan rumah tangganya dengan Revan dulu bak dalam neraka mungkin dia akan berubah pikiran. Tapi bagaimana Erika bisa menceritakan semua itu, bisa-bisa ia dianggap gila dan membual. Lala mati kutu, dia memang mencintai Revan dan tidak terima cintanya direbut sang adik. Tapi mana mungkin dia berani bilang ke Raja untuk merubah calon istri buat Revan sedangkan pujaan hatinya sudah memilih Erika padahal adiknya sengaja berdandan ala dakocan. Lala sangat tahu semua usaha Erika, tapi dia tidak bisa meluapkan rasa kecewanya pada sang papi juga pada takdir yang tidak menyambungkan benang merah antara dirinya dengan Revan. Masih mendelik menatap Erika yang masih tersengal berderai air mata, Lala mendecih menyeringai masih kukuh dengan kemarahannya pada sang adik. “Oke, gua pegang ucapan loe. Gua bakal berusaha buat merebut hati Revan. Jangan sampai loe nelan ludah sendiri kalau sampai nanti Revan jatuh cinta sama gua.” Erika menggeleng menatap iba sang kakak. Dia benar-benar tidak tahu segila apa seorang Revan itu. “Terserah, Kak Lala. Aku juga senang jadi ngak usah nikah muda. Kak Lala punya waktu dua bulan buat usaha.” Setelah menarik nafas panjang, emosi Lala ikut turun. “Oke, sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi kan. Keluar loe!” Lega karena Lala sudah tidak lagi marah, Erika masih berusaha mencairkan suasana. “Kita belum makan loh, ngak lapar tuh perut. Aku minta mbok buatin mi instan yah buat kita berdua, telornya tiga perempat matang pakai caisim sama cabe rawit ulek tiga biji dikecapin sama cuka dikit. Betul kan?” Rayu Erika menyeringai terkekeh. “Hem, suruh Mbok bawa ke kamar aku saja.” “Nanti ketahuan Papi dimarahin loh, Kak.” “Ish, bawel. Sana keluar.” Kesal tapi ucapan Erika benar membuat lala mati kutu dan melempar bantal boneka ke arah Erika yang tengah tertawa. Setelah menutup pintu kamar Lala, Erika kembali menghela nafas panjang. “Kalau bisa, aku juga maunya ngak jadi nikah sama dia. Tapi kenapa rasanya sakit waktu Kak Lala bilang bakal berusaha merebut Revan?” Bermonolog dalam hati memegang dadanya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD