Baru beberapa hari pindah status jadi tunangan Revan, hidupku rasanya mulai menyentuh ambang pintu neraka. Aku sudah tahu akan seperti apa rumah tangga kami nanti sampai akhirnya aku harus mati di tangan selingkuhan Revan itu. Tapi kenapa juga dikehidupan ini aku harus kembali dipertemukan dan berjodoh sama iblis berwajah tampan dan dingin itu. Sebenarnya apa maksud siempunya dunia ini membawaku ke masa ini lagi? Apa aku harus mengalami penderitaan berumah tangga dengan Revan berulang-ulang kali? Apakah dulu aku memang pernah sangat menyakiti Revan sampai-sampai aku harus menanggung karma ini dalam beberapa kehidupan.
Bahkan sejak kemarin aku lebih banyak diam di kampus, sengaja tidak mengangkat panggilan ataupun membalas pesan dari Bruno seolah aku benar-benar sedang jadi calon istri yang patuh. Belum lagi sikap Kak Lala seenaknya menyalahkanku. Coba dia berani bersuara, dengan senang hati aku berikan si iblis setengah ons itu buat dia.
Huf! Aku benar-benar tidak paham dengan semua ini. Bukankah seharusnya aku yang membuat neraka untuk Revan dikehidupan ini. Atau setidaknya dengan menerima cinta Bruno maka akan menghalangi kisah percintaanku dengan Revan. Sebenarnya mau Dia apa sih menghidupkan aku kembali, kenapa juga harus Revan yang jadi suamiku. Kenapa sulit sekali menentang pernikahan ini.
Saking kesal dan kecewanya sama Revan sampai tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata yang sama setiap kali Revan sedang menindasku di kehidupan dulu. Tapi dia malah mengatakan kalau aku berlebihan dan aneh, benar-benar menyebalkan. Entahlah, tapi yang pasti ingatan akan penderitaan itu melekat kuat bahkan sampai hafal betul kata-kata menyakitkan yang sering Revan ucapkan.
“Aku akan membuat hidupmu menyakitkan.” Itu yang selalu ia katakan jika sedang marah.
Meskipun sekarang aku masih berstatus sebagai tunangan Revan namun sikapnya seakan sudah menjadi suamiku. Lihat saja, hari ini pagi-pagi sekali dia sudah berada di rumahku. Katanya sekarang aku adalah tanggung jawabnya maka dia akan mengantarku ke kampus setiap hari, sebisa mungkin dia juga yang akan menjemputku. Yang paling senang tentu saja Papi dan Mami, mereka merasa sudah tepat menunjuk Revan sebagai menantu di kediaman ini. Padahal ini semua dia lakukan bukan karena cinta tapi karena dia sedang mengekangku dalam penjara hidupku sendiri. Menyebalkan!
Mendengus kasar dan mencari akal untuk kabur dari si iblis ini, otakku berputar mencari-cari alasan. Sengaja duduk di samping Kak Raihan, aku memeluk lengannya dan bersandar.
“Hari ini aku kepingin diantar sama Kak Rai.” Ucapku sengaja memanjakan suara. Biasanya Kak Raihan langsung luluh.
“Ngak! Revan sudah datang, besok saja kalau mau sama Raihan. Cepat jalan sana!”
Dasar orang tua tiri, punya ayah tapi serasa punya mertua. Galaknya minta ampun.
“Sama aku juga ngakpapa, Pih. Kebetulan juga…”
“Berangkat sekarang sama Revan, Erika!”
Terpaksa aku pun beranjak lalu berjalan keluar sengaja melewati Revan tanpa memanggilnya. Bodo amat kalau Papi bakalan menghukumku, sekalian saja aku kabur dari rumah kalau bisa.
“Saya pamit dulu, Pih, Mih, Raihan.”
Sepanjang perjalanan ke kampus, aku sengaja mendiamkan Revan. Siapa suruh dia sudah merusak mood ku sepagi ini. Katanya CEO tapi masuk kantor terlambat. Basilah! Dipikir aku ngak paham jalan pikiran pria iblis disampingku ini.
“Kamu mau aku ikut masuk ke kelas dan memberi paham si Bruno itu status kamu sekarang?”
Lihatkan, si iblis ini mulai tantrum karena diacuhkan dan akhirnya menyerangku dengan ancaman yang sudah pasti tidak aku inginkan.
“Coba saja kalau sampai kamu berani. Aku bakalan teriakin kamu fedopil!”
Bukannya takut Revan malah terkekeh.
“Mana ada fedopil seganteng ini. Harusnya kamu khawatir calon suami kamu bakal jadi pusat perhatian.”
“Bodo amat. Ngak peduli tuh!” Tanpa sedikitpun menoleh.
“Aku senang kita bisa ngobrol seperti sekarang. Belajar untuk tidak jadi cewek judes, Eri.”
Kepalaku langsung bergeser menatap sengit mulut cabe si iblis ini.
“Heh! Gua jadi judes juga gara-gara ulah loe!”
Revan malah terkekeh, meski setelahnya dia tidak lagi membalas ucapan pedasku, tapi itu hanya berlangsung sebentar. Mobil Revan berhenti tepat di depan lobi kampus, tentu saja mengundang perhatian mahasiswa yang berlalu lalang. Dan siallnya lagi Lika, Desi juga baru saja sampai. Mereka juga menatap ke arah mobil kami.
“Ngapain sih berhenti disini! Aku bisa hmp…”
Saking kesalnya dengan ulah Revan aku sampai lengah, lagi-lagi si iblis main sosor bibirku dan bermain seenaknya di dalam sana sampai tanganku terus memukul bahunya supaya berhenti. Mungkin perempuan lain akan berpikir kelakuan Revan keren tapi tidak denganku meski kuakui tetap saja ada desiran nyaman setiap kali Revan melakukannya.
“Hukuman kamu karena sudah tidak sopan bicara sama aku. Sudah lupa aturannya?”
“Ck, aku mau keluar. Sebentar lagi masuk kelas. Tolong jangan keluar, begini saja aku sudah malu, Yah…”
Dia mengecup cepat bibirku lagi lalu keningku.
“Belajar yang pintar. Jangan mikirin cowok lain selain aku. Pulang kuliah aku jemput lagi, ikut ke kantorku sampai nanti pulang baru aku antar pulang.”
Malas berdebat, aku memilih mengangguk dan keluar mobil. Terserah maunya dialah. Pandangan mataku langsung mengarah khawatir pada Desi dan Lika yang berdiri terperangah dengan mulut menganga melihat aku yang keluar dari mobil.
“Ka, loe diantar sama siapa? Itu bukan mobil yang biasa ngantar loe.”
“Bukan Bruno kan?”
Desi dan Lika sudah langsung memborbardirku dengan pertanyaan mereka.
“Nanti gua ceritain. Buruan masuk kelas sekarang.” Jawabku membuat keduanya merengut terpaksa menurut karena memang sebentar lagi jam kuliah dimulai.
Baru saja dosen keluar dari kelas setelah selesai mengajar, Lika dan Desi langsung menarik tanganku bersamaan dan menyeretku ke bangku di taman belakang kantin luar kampus tempat kami biasa mengobrol dengan posisi aku yang di tengah bak terpidana yang siap untuk diinterogasi.
“Kita makan dulu yuk.” Mencoba untuk mengalihkan mereka, jujur aku sedang malas untuk membahas tentang pernikahanku.
“Halah, basi alasan loe. Cerita sekarang!” Celetuk ketus Desi.
“Sekarang buruan cerita. Loe diantar sama siapa?” Lika langsung meluapkan pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran. Bahkan dia sampai ditegur dosen karena tidak memperhatikan malah menoleh menatapku terus.
Desahan kasarku makin membuat Desi dan Lika mengernyit khawatir, mereka bahkan menggenggam kedua tanganku.
“Ada apa sih, Ka. Cerita dong kalau ada masalah.” Suara Desi sudah melembut kembali menatapku khawatir.
“Tadi itu gua diantar sama calon suami pilihan orang tua gua, Lik, Des.”
“Apa!!” Teriakan mereka berdua sampai membuat beberapa orang di kantin menoleh melihat kami.
“Shh, congor dikecilin dikit ih!”
“Yah gimana ngak kaget. Bagus jantung gua masih orisinil. Trus, kok bis aloe dijodohin. Perasaan kita ngak lagi di jaman dinosaurus deh masih ada istilahnya dijodoh-jodohin.” Seru Desi masih berapi-api.
Dan mengalirlah ceritaku soal pemaksaan perjodohan aku dengan Revan yang disimak mereka dengan wajah serius.
“Terus, loe sama Bruno jadinya gimana? Putus dong?” Tanya Lika.
“Sepertinya harus begitu, tapi gua butuh waktu buat cerita ke dia. Tolong loe berdua jangan bilang apa-apa dulu ke dia.”
Desi yang memang bawaannya selalu ngegas malah mendelik kesal menatapku.
“Bagus cerita sekarang, eh iya orangnya ngak ngampus hari ini. Kalau bisa loe telepon dia aja, secepatnya malah. Kali ini gua setuju sama bokap loe. Dari dulu juga guan gak setuju loe sama Bruno, cari perkara doang kerjaan loe. Dah tahu dia terkenal playboy, demen amat loe jadi musuh Gladys. Ngak worthed tahu ngak belain cowok pengecut kayak dia.”
“Apaan sih, Des. Kok loe malah di pihak bokap gua. Loe ngak tahu aja si Revan orangnya gimana.”
“Ck, siapa sih yang ngak tahu Revan Mahendra. Salah satu dari tiga sekawan PT.JTR yang isinya pebisnis muda idaman semua perempuan. Setahu gua dua yang lain itu masih kuliah kayak kita tapi mereka sudah bangun perusahaan bareng sejak dua tahun lalu, keren kan! Loe beruntung banget, Ka… Awas yah kalau loe sampai milih Bruno daripada Revan. Ibaratnya tuh loe milih makanan basi daripada steak wagyu.” Kali ini Lika ikut mendukung Desi. Aku sampai tidak habis pikir kenapa juga dua sahabat ini bisa sampai tahu soal bisnis Revan, yah memang mereka bertiga dulunya juga disegani banyak perusahaan.
“Mau CEO juga gua ngak peduli ah. Lagian Bruno juga udah berubah sekarang.”
“Loe aja yang buta, mana ada dia berubah. Udah mending loe sama babang Revan tampan aja napa? Udah ganteng, bodinya keren, kaya raya, pokoknya kalau gua jadi loe nih, bakal bahagia abis. Nih mata dipakein kacamata kuda juga rela gua. Sekarang loe cerita ke kita, bagian mana dari Revan yang loe ngak suka. Ganteng masih gantengan Revan. Macho jauh banget Bruno dari Revan. Tajir? Jangan ditanya lagi, tujuh turunan juga ngak habis gua rasa. Apalagi sih yang loe cari!” Seru Desi panjang lebar menatap sengit geregetan dengan jawabanku seakan-akan aku yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan yang sudah diberikan.
Lihat kan, rasanya sia-sia saja aku curhat ke mereka. Belum apa-apa sudah terlihat mereka memihak ke kubu mana. Dasar sahabat menyebalkan. Mereka berdua memang tidak suka sejak aku menerima Bruno jadi pacar, bahkan aku sendiri tahu kelakuannya sebelum kami berpacaran. Katakanlah aku ini bodoh, kalau bukan untuk memperbaiki masa depan tidak mungkin aku mau menerima Bruno. Lagipula, pria itu tidak seburuk yang ku kiri buktinya sekarang ini dia sudah tidak lagi seperti dulu mungkin itu sebabnya aku masih mencoba untuk memberinya kesempatan.
Sedang panas-panasnya kami berdebat soal Revan dan Bruno, seseorang mendekat dan menyindir dengan tatapan menuduhku. Siapa lagi kalau bukan perempuan yang selalu saja mencari-cari kesalahanku di kampus ini.
“Bagus… Yang katanya pacar idaman Bruno malah ngegosipin cowok lain.”