Sekarang aku percaya dengan ungkapan serigala berbulu domba, nyatanya laki-laki dihadapanku bukan lagi seekor serigala melainkan iblis berwajah malaikat tampan yang tengah menerorku dengan tatapan mata tajamnya itu. Kontras sekali dengan caranya membelaku di depan kedua orang tuaku tadi. Meski mulutku sudah mengiyakan menikah dengan Revan tapi mana mungkin semudah itu aku menurut. Kalau Revan saja bisa bersandiwara maka aku pun demikian akan jadi pembangkang dan akan melakukan berbagai cara untuk membuat Revan jijik padaku, seperti apa yang sedang kulakukan saat ini.
Sialnyaa Revan bersikap biasa saja dan terkesan membelaku di rumah tadi tapi ketika sampai di parkiran apartemennya, gerakan cepatnya hampir saja membuat jantungku keluar. Aura iblisnya kambuh lagi membuat nyaliku ciut bahkan seluruh tulang ini rasanya lemas dengan syaraf otot tegang bak sedang terkena alat pacu jantung saat wajah kami sedekat ini. Padahal aku sudah mengenalnya dikehidupan lalu, tapi kenapa juga aku masih saja merasa berdebar seperti sekarang.
Sialnya lagi bukannya merasa bersalah Revan malah memalingkan wajah bengisnya lalu keluar dari mobil dengan cepat meninggalkanku yang masih diam tertegun. Sampai tersadar karena Revan membuka pintu di samping dan menarik lenganku.
“Keluar atau aku seret.” Titahnya benar-benar membuatku ketakutan.
Memilih menurut daripada mati aku turun dari mobil lalu Revan menarik lenganku sampai-sampai kaki ini dipaksa mengikuti langkah Revan dengan setengah berlari.
“Revan, jalan pelanan. Kakiku bisa terkilir nanti!”
Si iblis itu menulikan telinganya tanpa berbalik sedikitpun sekedar untuk melihat sampai…
“Aw!”
Separuh otaknya baru tersambung setelah mendengar teriakan juga tangannya yang tersentak menarik kembali karena kakiku tersandung saking panik sampai-sampai langkahku tidak beraturan dan tidak melihat tanjakan lantai yang lebih tinggi saat menuju lift.
“Aw… Shh kakiku sakit…” Mengusap pergelangan kakiku menahan ngilu yang begitu hebat.
“Ck, punya mata buat melihat, kalau begini jadi merepotkan saja.” Celetuknya menunduk menatapku kesal. Padahal seharusnya aku yang marah.
Entah mengapa mendengar ocehan Revan aku yang tadinya berusaha kuat ganti menangis, bukan karena rasa sakit di pergelangan kaki tapi aku merasa seperti perempuan yang tidak berharga di mata seorang laki-laki. Dia bilang aku merepotkan, padahal seperti ini juga karena ulahnya. Dan memang seperti inilah sifat asli dia di masa depan.
Revan, serigala jahat berhati iblis dalam hatiku merutukinya sambil menunduk menyembunyikan tangis. Dan makin dibuat kesal lagi dengan si kulkas itu, Revan malah diam berdiri membiarkanku menangis sama persis seperti apa yang selalu ia lakukan dulu setiap kali aku menangis sedih karena ulahnya. Hatinya keras dan hitam tanpa sedikitpun merasa tergugah.
“Argh…”
Saking kesalnya sampai tidak sadar Revan mengangkat dan menggendongku. Mata kami saling menatap sinis meskipun kedua tanganku reflek langsung bergelantung melingkar di lehernya. Masih dalam mode bungkam dia berjalan santai menggendongku masuk ke dalam lift. Aku memilih membenamkan wajahku di bahu Revan ketika kami berada di dalam benda kubus itu. Meskipun Revan sudah pernah menciumku tapi tetap saja rasanya canggung. Kalian jangan senang dulu, kalau bukan karena kakiku benar-benar sakit, mana mau aku digendong dia.
Seiring kami diangkat naik, bodohnya aku justru merasa nyaman dan hangat bersandar di bahu Revan. Mungkin sebagian dalam diriku dimasa lalu merindukan kehangatan pelukan suamiku hingga aku terbuai nyaman bersembunyi di antara celah leher kokoh itu. Tolong jangan hakimi aku, bahu Revan benar-benar sandarabel sekali begitu nyaman bak bantal kepala lembut di pipiku. Lagipula biar saja dia menggendongku sampai ke apartemennya anggap saja hukuman karena sudah membuat kakiku terkilir.
“Eri, bangun.”
Hentakan bahunya membangunkan tidur singkatku. Entah kapan aku tertidur dan sudah berapa lama kami sampai karena saat membuka mata aku masih memeluk leher Revan, bedanya sekarang posisiku tengah dalam pangkuannya dan menatap mata Revan.
“Aw…”
Saking terkejut sadar bercampur malu, aku menjatuhkan kakiku dari pangkuan Revan melupakan pergelangan kakiku yang terkilir. Saat berhasil berdiri menghentak sedetik kemudian akupun terjatuh lagi dipangkuan Revan.
“Sudah tahu keseleo masih juga pecicilan.” Sahutnya meringis menahan tubuhku yang menimpanya lagi.
“Ck, kenapa juga ngak bangunin aku.”
“Siapa yang nyuruh kamu tidur, gadis bodoh! Tidur kamu seperti orang mati, dipanggil berkali-kali ngak bangun. Kamu pikir badan kamu kayak kapas. Dasar tidak tahu diuntung, bagus aku tolong.”
“Punya suami kayak kamu yang bikin aku cepat mati!”
“Jangan cepat mati dulu, permainanku sebenarnya belum dimulai, Sayang. Atau mungkin kamu mau merasakan seperti apa rasanya mendekati mati.” Celetuknya menyeringai begitu menyebalkan.
“Kamu…”
Lihat kan, berdebat sama iblis ini tidak akan pernah menang. Mana mungkin dia bisa jadi suami idaman. Tidak mati dibunuh dulupun mungkin umurku tidak bakalan panjang karena darah tinggi dan serangan jantung mendadak menghadapi si muka iblis ini.
Dia beranjak setelah memindahkanku lalu masuk ke kamar sebentar kemudian keluar membawa sebotol arak gosok dan kembali duduk di sampingku menaikkan kedua kakiku diletakkan dalam pangkuannya. Tanpa banyak bicara Revan menuangkan arak gosok tersebut ke telapak tangannya lalu ia gosokkan dengan lembut pada pergelangan kakiku yang sakit.
“Shh… Pelan-pelan sakit…”
Mendecih sambil menggelengkan kepala Revan menatapku dengan aura mengejeknya.
“Belum juga diapa-apain sudah KO duluan.”
Kesal sendiri, aku berusaha mengambil botol arak gosok disampingnya. Kakiku begini juga karena ulah dia main asal seret orang.
“Aku bisa sendiri, ngak usah repot kalau ngak ikhlas nolong.”
“Memang siapa yang bilang ikhlas.” Celetuknya cepat sekali berhasil menaikkan kadar emosiku.
“Yah sudah, aku ngak minta juga. Minggir, aku bisa sendiri.” Sambil memajukkan tubuhku berusaha merebut botol itu namun Revan seperti sengaja menghalangi niatanku.
Namun tubuhku mendadak kaku ketika tanpa sadar memperebutkan botol tersebut, wajah kami malah ikutan mendekat sampai aku dapat merasakan hangat dari hembusan nafasnya mengenai wajahku.
“Ngak sudi nikah sama aku tapi nyosor duluan.”
“Ngawur kam… ehmp…”
Bola mataku membulat saat protesku dibungkam oleh bibir Revan. Tangannya menarik tengkukku agar bibir kami menempel lalu dengan kurang ajarnya dia melumat menikmati ciuman kami. Emosiku semakin menjadi berusaha mendorong bahu Revan meski hasilnya nihil dan berakhir dengan kebodohanku pasrah menerima perlakuan kurang ajarmya itu.
“Balas ciumanku, Yang.”
Bak kerbau dicucuk hidungnya, aku pun menurut mempersilahkan Revan mengobrak-abrik isi mulutku sepuasnya. Otakku terasa mati tapi jantungku justru berdebar tidak karuan merasakan sensasi yang sama disaat Revan menyiumku di taman rumah kemarin. Aroma arak gosok menyengat pun dikalahkan oleh dorongan perasaan aneh seperti setrum yang menyengat di beberapa di sekujur tubuhku. Bahkan aku membiarkan Revan mengangkat tubuhku berjalan membawaku masuk ke dalam kamarnya dan meletakkanku di atas kasur dengan kedua kakiku menjuntai ke bawah.
Apa! Kamar? Aku di atas kasur? Oh, tidak!
“Revan, stop ehmp…”
Bibirku kembali dibungkam, kali ini kedua tanganku ia letakkan di atas kepalaku dan menguncinya dengan satu tangan. Tubuhku mulai gemetar berusaha meronta sebisa mungkin dan berakhir sia-sia membuatku benar-benar takut Revan akan melakukan hal gila sebelum kami resmi menjadi suami istri. Meski masih kuliah tapi aku sudah mengerti apa itu pergumulan panas dua sejoli di satu kamar. Tentu saja aku juga pernah mengalaminya sendiri dengan Revan di malam pengantin kami dulu.
Bibirnya turun mengecupi leher dan bahuku. Kali ini aku mengutuki diri sudah berpakaian minim seperti sekarang. Niatan ingin membuat Revan jijik malah berbalik membuatku terjebak tanpa bisa melawan dalam permainan panas seorang Revan. Tangan satunya turun menyusup dengan mudahnya karena kaos kurang bahan yang kupakai sekarang. Kulit tubuhku meremang ketika tangan Revan menempel di sana bercampur dengan debaran menggila takkala jemarinya membelai hangat membekap salah satu bongkah milikku. Seperti tersengat listrik yang ujungnya berkumpul pada satu titik di perut membuatku tanpa sadar mengeluarkan suara desahan kecil meskipun otakku tengah berjuang memberontak dilepaskan.
“Revan, jangan…” Pintaku memohon lirih, air mataku pun mengalir. Terpaksa menurunkan ego daripada Revan melakukan lebih dari ini dan membuatku hidup dalam penyesalan seumur hidup dan menghancurkan tujuanku hidup kembali di dunia ini.
Seiiring mendengar suara serakku Revan pun berhenti,menarik tangannya keluar lalu membelai wajah dan menghapus bulir air mata yang mengalir. Mensejajarkan wajahnya menatapku dengan seringai meledeknya seakan memproklamirkan diri kalau dia lagi yang jadi pemenangnya. Mengecup bibirku lagi sesaat dan menatapku kembali. Sumpah, aku sampai bingung mengartikan debaran jantungku apakah karena rasa takut atau karena efek samping dari tatapan matanya.
“Kenapa? Takut? Aku pikir kita akan bersenang-senang. Bukankah ini tujuanmu memakai baju kurang bahan, untuk menggodaku kan? Sepertinya kamu juga menikmati ciumanku bahkan aku tidak keberatan untuk melanjutkannya kembali.”
Hanya gelengan cepat kepalaku sambil menatapnya kesal sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan, bahkan isak tangispun terdengar selanjutnya. Apa-apaan dia mengatakan kalimat seolah aku ini perempuan gatal yang memohon untuk disentuh.
“Jangan seperti ini, aku takut.”
“Tapi tubuh kamu mengatakan sebaliknya, belum lupa kan bahkan aku masih ingat suara desahanmu barusan.”
Sekali lagi aku menggeleng berusaha menyembunyikan kemarahanku dan hal ini malah membuat Revan tertawa geli.
Revan beranjak duduk disampingku sambil menarikku bangun kemudian membawa tubuhku dalam pelukannya membiarkanku mengeluarkan semua emosi dan rasa takut dalam bentuk tangisan.
“Seperti kataku, jadi perempuan penurut dan hidupmu akan baik-baik saja. Kalau kamu menantangku maka aku tidak akan pikir dua kali untuk membalikkan rencana busukmu untuk menghentikan pernikahan kita. Paham?”
Lihat saja, ucapannya benar-benar kontras dengan belaian tangannya mengusap kepalaku. Tapi aku bisa apa, kejadian tadi menakutkan meskipun rasanya aneh dan membuatku penasaran.
“Sekali lagi kamu berpakaian kurang bahan maka aku akan menganggap kalau kamu sudah siap menjalani malam pertama kita. Atau… Jangan-jangan bukan aku yang pertama.”
“Kamu!”
“Aku salah? Apa yang ada dalam pikiranmu jika melihat gadis-gadis berpakaian seperti yang kamu pakai bersama pria yang baru dikenalnya? Tidak mungkin minta diajak bermain hulahup kan?”
Malas berdebat, aku memilih tidak lagi berdebat. Bagaimanapun Revan seorang iblis dan aku hanya manusia biasa yang bereinkanasi kembali. Jadi tidak akan mungkin menang menghadapi sisi iblisnya yang sedang kumat. Tenagaku juga sudah habis meronta tadi akhirnya aku pun menunduk.
Revan mengangkat daguku lagi saling menatap.
“Jangan suka menunduk. Aku tidak akan iba melihat wajah memelas kamu. Mengerti?”
Setelah mengangguk aku berusaha melepaskan pelukan kami menggeser posisi menjauh dan menatapnya.
“Boleh ke kamar mandi ngak? Kamu bikin aku takut sampai-sampai aku kebelet mau pipis.”
Bukannya menjawab, Revan malah tertawa aneh kemudian mengecup keningku. Lalu beranjak dan menggendongku kembali.
“Revan, aku bisa jalan sendiri.” Teriakku panik.
“Lupa kalau kaki kamu keseleo?” Ucapnya sambil tersenyum geli membuatku tertegun menatapnya. Ternyata dia benar-benar tampan tersenyum dan memang senyum juga tatapan hangat seperti sekarang yang membuatku jatuh cinta pada Revan.
Yah Tuhan, kenapa juga otakku jadi sebodoh ini sampai lupa kalau kakiku keseleo. Argh! Otakmu yang kurang setengah ons sekarang, Erika!