“Revan…” Syena langsung menghampiri Revan dengan wajah merajuk manja lalu melingkarkan tangannya memeluk lengan Revan dan dengan cepat ditepis kasar oleh Revan. “Apa-apaan kamu! Siapa yang suruh masuk ruanganku tanpa ijin apalagi menguncinya dari dalam!” Erika menyeringai menatap Revan yang sedang kesal ditambah alergi digelendoti kucing montok. Dari siluetnya saja Erika bisa menebak kalau perempuan itu menyukai Revan saja. “Oke, jadi dia bukan pacarnya Revan.” Gumam Erika dibatinnya. Tidak terima dengan penolakan dan teguran Revan, Syena pun membela diri dengan menuding ke arah Erika untuk mengalihkan perhatian Revan. “Loh, dia juga ada di sini duluan sebelum aku masuk. Harusnya kamu pecat sekretaris kamu itu sembarangan main masukkin perempuan kemari, anak bau kencur lagi.” “Hais

