5. Drama Romansa Dadakan

1279 Words
Mobil Elard melaju stabil, terlalu tenang untuk aku yang riuh di dalam kepala. Di kaca spoin, aku melihat mobilku sendiri dari belakang, dikemudikan oleh asistennya Elard. Semua terasa ganjil. Aku duduk di kursi penumpang tanpa melakukan apapun, hanya diam, sementara Elard fokus pada jalan seolah sorew ini hanyalah jalanan biasa sepulang kerja. “Sebenarnya, kamu tidak perlu mengantarku,” kataku akhirnya memecah hening. Elard tidak menoleh, hanya fokus pada jalanan tapi dia menjawab, “aku tahu.” “Lalu kenapa —” “Karena aku tahu ibumu akan melihatnya. Aku yakin, dia bahkan menunggu kita. Selain itu, kita sudah sepakat untuk tidak setengah-setengah,” katanya memotong perkataanku tadi. Aku mendesah. “Kesepakatan kita tidak sampai sejauh ini,” kataku. “Belum,” jawabnya singkat. Aku menoleh padanya. “Kau selalu bicara seolah semua sudah kau perhitungkan.” . Dia melirikku sekilas. “Memang begitu,” katanya santai. Mobil memasuki kawasan rumahku tidak lama kemudian. Aku menurunkan kaca jendela mobil untuk memberi tahu penjaga bahwa yang datang bukanlah orang asing. Gerbang besi terbuka perlahan, halaman luas terbentang dengan lampu taman berbentuk bulan menyala satu persatu. Langit mulai gelap bersama mendung yang menggantung. Rumah besar itu terlihat anggun tapi juga menakutkan. Elard menghentikan mobilnya di depan teras. “Dengar, kita cukup sampai di sini. Aku bisa turun sendiri,” kataku cepat, tanganku refleks menyentuh sabuk pengaman. “Diam sebentar,” katanya pelan. Nada suaranya bukan perintah keras, tapi cukup untuk membuat aku berhenti bicara. “Apa lagi?” tanyaku, sedikit kesal. “Percaya saja padaku,” katanya lalu mematikan mesin. “Itu permintaan yang terlalu berani,” kataku hampir tertawa. Namun, sebelum aku mengatakan sesuatu lagi, dia sudah lebih dulu membuka pintu dan turun dari mobil. Aku mengernyit, tidak mengerti dengan tindakannya itu. “Elard?” panggilku melalui kaca. Tapi dia tidak menjawab. Aku melihatnya memutar langkah, berjalan ke sisi mobil tempat aku duduk. Tidak mungkin. Tidak lama, terdengar suara klik dan pintu terbuka kemudian. Aku tertegun. Dia berdiri di sana, satu tangannya menahan pintu, posturnya santai tapi tatapannya fokus padaku, seakan dia sudah terbiasa begitu. Ia berdiri di sana, satu tangan menahan pintu, posturnya santai tapi tatapannya fokus padaku. “Ayo, keluarlah,” katanya lembut. “Ini berlebihan,” bisikku. “Tidak untuk orang yang menonton kita dari jendela,” jawabnya pelan. Aku menelan ludah, tahu apa maksudnya, lalu turun dari mobil. Begitu kakiku menyentuh lantai cor, aku bisa merasakan tatapan itu dari balik tirai rumah besar di depanku. Elard memang tidak menyentuhku, tapi caranya berdiri cukup dekat denganku sudah menciptakan ilusi yang intim. “Terima kasih sudah mengantarku hari ini, dan menemani aku,” katanya dengan suara yang hangat. “Jaga dirimu baik-baik.” Aku mengerjap, lalu menatapnya tajam. “Kau seperti sedang menikmati ini?” Sindirku. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Sedikit,” jawabnya membuat aku nyaris saja mengumpat. Lalu, tanpa peringatan, dia menunduk dan mengecup dahiku singkat. Tubuhku seketika menegang. Apa yang dia lakukan? “El —” Aku berbisik, napasku tercekat. Dia balas berbisik pelan, hanya terdengar olehku, “Tenang saja, jangan mundur.” Aku mematung, jantungku berdentum keras. “Ini tidak ada rencana,” kataku. “Rencana terlalu biasa,” balasnya ringan. Dia kemudian mundur satu langkah. “Sampai jumpa, Lev,” ucapanya kemudian. Aku mengangguk. “Sampai jumpa, El,” balasku kaku. Saat aku pikir itu sudah selesai, ternyata aku salah. Ketika aku hendak berbalik dan baru saja setengah langkah menuju rumah, Elard kembali meraih tanganku, tidak kuat tapi cukup untuk menghentikanku. Saat aku menatapnya untuk bertanya ada apa lagi, dia justru berbisik yang membuat tubuhku tegang. “Ini untuk melengkapi,” bisiknya dan kembali menunduk. Aku hanya bisa mematung ketika benda kenyal miliknya menempel bibirku. Aku menahan napas, tidak pernah menyangka dengan tindakannya ini. Kecupan bibirnya di bibirku itu terasa singkat tapi tegas dan pasti. Bukan ciuman ragu atau palsu. Ini nyata, terlalu nyata hingga membuat kepalaku terasa kosong, tubuhku kaku, dan aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Dia menarik diri secepat saat dia mendekat, lantas tersenyum. “Bernapaslah, Levina,” katanya menggoda lalu tertawa. Aku mengambil napas. Sial. Ada apa dengannya? Raut wajahnya itu terlihat begitu nyata. “Selamat malam, Levina. Sampai jumpa besok,” katanya tenang, seolah barusan itu tidak terjadi apa-apa. “Kau gila.” Aku menatapnya tidak percaya. Dia terkekeh. “Mungkin,” jawabnya singkat dengan senyum kecil di wajahnya. “Ini tidak ada di kesepakatan kita,” desisku. “Benar,” dia mengangguk. “Tapi ini pilihanku,” katanya santai. Aku terdiam. Dia melangkah kembali ke mobil. Asistennya memberikan kunci mobilnya pada Elard, dia kembali mendekat. “Tapi sekarang, ibumu tidak akan meragukan apa pun, hanya akan terganggu. Jadi, bersiaplah untuk kemarahannya. Semakin dia marah, sepertinya akan semakin menarik.” Seringainya muncul begitu saja. Saat dia memberikan kunci mobil dengan gerakan lambat yang disengaja, menimbulkan kesan intim sekali lagi, dia mengedip genit. Lalu berbalik, kali ini benar-benar ke mobilnya. Tapi sebelum masuk, dia sempat mengangguk sekilas ke arah teras. Aku menoleh, mendapati ayahku di sana, berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Sial. Elard pasti sengaja. Mesin mobil menyala, lantas dia pun pergi. Benar-benar pergi sekarang, meninggalkan aku yang berdiri di halaman rumah yang luas. Jari-jariku terasa gemetar, bibirku masih terasa hangat oleh sentuhannya yang tiba-tiba tadi. Tapi aku sadar, ini adalah pertama kali sejak aku beranjak dewasa, dan semuanya telah dimulai sekarang, sandiwara yang aku buat sendiri. Tapi aku menyadari sesuatu yang membuat aku takut, bahwa Elard tidak sedang berakting, tapi dia sedang mengambil alih kendali. aku berbalik dan berjalan menuju rumah. Di teras ayah masih berdiri, posturnya tegap meski rambutnya sudah mulai putih karena uban. Tatapannya tenang, seperti biasa. Tidak ada ekspresi menilai, atau kemarahan. “Ayah,” sapaku singkat. Dia menoleh, tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah membuat aku takut. “Kau basah,” katanya tiba-tiba. Aku melihat bajuku sendiri, langit memang hujan tapi apa yang Elard lakukan tadi membuat aku tidak menyadari gerimis yang turun membasahi bumi. “Sedikit,” jawabku. Ayah menyentuh bahuku pelan, tidak ada tekanan, hanya dukungan seorang ayah yang tahu tekananku. Tidak ada pertanyaan, ceramah, atau tuntutan penjelasan. Justru itu yang membuat tenggorokan aku terasa begitu sesak. Aku merasa lebih baik. Kami masuk bersamaan, pintu tertutup di belakang kami, menjadi pemisah antara hujan yang mulai turun dengan perlahan. Aku bisa merasakan ketegangan di rumah besar ini. Di ruang tamu kulihat seseorang tengah duduk. Dia adalah kakak keduaku. Dia mendongak saat melihatku. Dia tenang, ekspresinya sulit dibaca seperti biasa, persis tenangnya ayah, misteriusnya ibu. Adrian, itu namanya. Dia tidak berdiri dari duduknya, hanya tersenyum kecil lalu berkata, “Mami di ruangannya, menunggumu.” Aku hanya mengangguk. Ketegangan makin terasa ketika aku melangkah menuju ruang kerja ibuku di lantai satu, di dekat tangga. Berdiri di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat dengan ketegangan yang nyata ini adalah hal yang paling aku benci. “Dia tahu?” Aku bergumam. “Mami selalu tahu lebih dulu.” Suara Adrian menjawab gumamanku. Aku menoleh lalu menghela napas. “Kau tidak akan menasihatiku?” Dia menatapku sejenak lalu menggeleng dan tersenyum samar. “Tidak. Kau sudah cukup dewasa untuk mengambil pilihan sendiri, Lev. Aku percaya, soal baik buruknya, kau pasti tahu.” Itu sederhana, tapi juga berat. “Aku yakin kau tahu siapa dia,” kataku. Adrian terkekeh. Dia menepuk bahuku. “Sejujurnya, aku menantikan apa yang akan terjadi. Aku cukup mengenal Elard, Lev,” katanya. Dia kemudian melangkah pergi, meninggalkan aku yang berdiri di depan pintu ruang kerja ibuku dengan jantung berdebar. Selama ini, ruangan ini yang paling aku hindari. Aku menghela napas panjang dan berat, didalam sana tidak ada Elard, hanya ada bahasan yang menyangkut pria itu. Tanganku terangkat memegang knop pintu. Hujan di luar terdengar samar. Aku berharap, kemarahannya tidak menghancurkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD