6. Peringatan

1081 Words
Pintu ruang kerja ibuku tertutup rapat di belakang setelah aku masuk. Ruangan ini selalu sama, rapi, teratur, dan dingin. Aroma teh melati menggantung di udara, terasa tipis. Ibuku berdiri membelakangi meja, menatap jendela besar yang menghadap taman belakang. Lampu meja menyala, menciptakan bayaran tegas di dinding. "Kau datang," katanya tanpa menoleh. Suaranya menyentak lamunanku. "Ya, baru saja aku pulang," jawabku. Diam. Hening. Beberapa saat tidak ada percakapan sama sekali. Dan ibuku hanya diam di tempatnya, bernapas teratur. Tapi aku tahu, ada gejolak di dalam dirinya yang membuatnya memilih bungkam. Hanya tinggal menghitung detik sebelum wanita cantik itu berbalik perlahan. Tatapannya mengarah lurus padaku, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak dia rencanakan. "Duduk." Nadanya mengandung perintah yang tak bisa aku bantah. Aku duduk di kursi, telat di depannya. Punggungku tegak, tapi telapak tanganku terasa dingin. "Kau tahu," katanya memulai, lalu menjeda. Tatapannya masih lurus padaku yang hanya bisa diam dan bungkam. "Aku tidak suka kejutan," lanjutnya. Aku mengangguk kecil, ya, aku tahu. "Ya, aku juga," balasku. "Tapi ... ," aku mengangkat wajah, menatap lurus padanya. "Tapi hidupku penuh kejutan yang bukan pilihanku." Rasanya aku ingin menarik kata-kata itu, mengigit lidah dalam bungkamanku, berharap tidak memperkeruh. Tapi ada rasa lega yang perlahan terungkap. Ibuku masih diam. Tapi kemudian dia mengangguk, menghela napas, lalu ibuku duduk di kursinya. "Elard ... ," ucapnya, menyebut nama itu lantas menjeda. "Dia ... Tidak cocok untukmu," katanya dengan penuh penekanan. Aku membalas tatapannya, kali ini lebih berani. Seakan nama itu memberiku sebuah dorongan. Sesuatu yang tak aku miliki untuk melawan, atau bahkan sekadar membalas ucapannya. "Aku tidak pernah cocok untuk siapa pun yang Mami pilihkan," balasku tenang. Walau tanganku terasa begitu dingin. "Kau salah," jawabnya cepat, selalu begitu. "Mereka yang Mami pilihkan adalah yang cocok untuk masa depanmu," katanya dengan raut wajah yang datar tapi tatapannya tajam. Aku tersenyum tipis. Rasanya lucu sekali. "Masa depanku, atau untuk ambisi Mami?" Tatapannya mengeras, sepertinya dia semakin marah tapi ditahannya. "Kau pikir, semua yang aku lakukan itu untuk diriku sendiri? Tidak." Dia menggelengkan kepalanya. "Aku membangun jalan agar mau tidak tersandung, seperti aku dulu. Agar masa depanmu terjamin, agar kau baik-baik saja." Kata-katanya entah bagaimana membuat aku mendengus sinis. Aku bahkan untuk pertama kali punya keberanian sedemikian rupa. Aku lihat kerutan di dahinya, sepetinya terkejut dengan reaksiku. "Untukku?" Aku mengulang, bertanya dengan nada lirih yang penuh luka. "Aku bahkan tidak tahu jalan seperti apa yang sedang Mami bangun untukku, untuk anak-anakmu. Karena aku, bahkan yang lain, tidak pernah diajak untuk memilih. Kau yang menentukan pilihan itu baik atau tidak ---" "Levina!" Dia memotong dengan suara tegas dan keras, membuat aku berhenti bicara. Dadaku naik turun, napasku cepat, dan mataku terasa panas. Dia berdiri, meletakan kedua tangannya di atas permukaan kayu jati. "Kau tahu, kau terlalu emosional untuk mengambil keputusan besar," katanya, suaranya penuh kendali. "Seperti yang kau lakukan hari ini. Saat kau mencium peria itu di depan umum ---" "Aku sama sekali tidak menyesal," potongku cepat. Dia terdiam. Ibuku menatapku sejenak, lalu tersenyum kecil, senyum yang selalu berarti peringatan. "Kau pikir itu cinta?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Atau hanya bentuk pembangkangan terhadap aku?" "Apa bedanya?" Aku bertanya balik. "Bukankah Mami selalu menganggap perasaanku sebagai gangguan?" Dahiku mengerut, rasanya terlalu sesak untuk diingat semua hal yang terjadi dulu. "Kau tidak tahu apa yang telah pria itu lakukan, dan keluarganya sebabkan. Aku yakin kau tidak lupa." "Karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk tahu. Kau hanya mengajariku untuk membenci apa yang tidak aku tahu sebabnya apa," jawabku. Ibuku melangkah, mendekat padaku. Jarak kami hanya tinggal dua langkah, dan aku hanya diam di tempatku. "Levina, dengar," katanya pelan, tapi terselip peringatan. "Kau akan terluka," lanjutnya pelan, tatapannya tajam dan tegas. Aku diam, sama sekali tidak gentar, tak akan lagi mundur kali ini, tidak. "Apa kau yakin untuk memilihnya jika itu maumu?" Pertanyaan itu nekankan sebuah ketakutan yang samar pada diriku. "Ya, aku yakin." Mulutku justru berkata sebaliknya dari hatiku yang ketakutan. Tubuhku terkendali walau tangan kian dingin. Ibuku berdiri tegap, tapi tatapannya tak lepas dariku sama sekali. "Oke. Jika itu maumu. Tapi ... ," ucapannya menggantung di udara, memberikan pesan yang membuat aku menelan ludah. Pada akhir kata yang mungkin akan dia sampaikan, bukanlah hal yang baik. "Kau akan terluka, dan saat itu terjadi, jangan datang padaku." Itu adalah peringatan. Aku berdiri dari dudukku, masih membalas tatapannya. Untuk pertama kali, aku berani melawannya. "Oke. Kalau aku terluka ... ," ucapku pelan, meniru apa yang dia katakan tadi. "Setidaknya itu lukaku sendiri, dan aku tidak akan melukai orang lain," kataku yakin. Entah datang dari mana keyakinan itu, tapi cukup untuk mendorongku. Matanya menyipit. "Elard akan memanfaatkanmu, Levina." "Mungkin. Tapi setidaknya, dia tidak berpura-pura melindungiku sambil mengikatku di sisinya." Kalimat itu keluar begitu saja, terasa semakin berat di antara kami. Ibuku mengambil langkah mundur, tubuhnya tegak, tapi suaranya kini lebih tenang. "Baik," katanya dan mengangguk. "Kalau itu pilihanmu, maka dengankan aku." Aku terdiam. "Baik. Aku mendengarkan." "Kau boleh bersamanya, tapi untuk sementara," katanya. Dadaku terasa mengencang setelah apa yang ibuku katakan itu. Untuk sementara. Itu bukan restu, tapi peringatan bahwa aku tidak akan bisa bebas sampai kapanpun. "Apa syaratnya?" Aku bertanya, yakin dengan apa yang ibuku rencanakan itu. "Tentu saja, kau memang anakku," katanya terdengar sinis. Ya, aku tahu polanya. Dia memberi kesempatan, tapi dengan syarat. Jiwa pebisnis dalam dirinya tak mungkin terkubur begitu saja. "Tentu ada syaratnya," katanya tanpa ragu, menatapku lagi dengan sorot yang berbeda kali ini. "Tidak ada skandal, tidak ada drama, dan kau ... Akan memperkenalkannya secara resmi pada acara keluarga bulan depan." Aku terdiam mendengarnya. Tapi ibuku belum selesai. "Dan jika dia gagal, kau akan mengakhiri hubungan antara kalian, tanpa debat," tambahnya seperti menjatuhkan bom yang membuat jantungku berdegup kencang. "Dan jika aku menolak?" tanyaku menantang. Ibuku menatap lurus padaku. "Maka aku akan mengakhirinya, dengan caraku, dan kau tahu itu." Aku tahu apa artinya itu. Tidak akan bisa main-main. Tidak akan bisa bebas, sebab dia sekalipun memberikan kesempatan, tapi tidak melepaskan pengawasannya. Aku mengangguk perlahan. Kembali menatapnya. "Aku tidak akan mundur," jawabku yakin. Ibuku tersenyum tipis. "Kita lihat, seberapa lama keyakinanmu bertahan, Levina." Tanganku mengepal erat, menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang kasar. Tapi kemudian aku memilih untuk berbalik. Saat tanganku menyentuh gagang pintu, aku berhenti. "Mami, asal tahu saja. Aku tidak sedang mencari pria, atau masa depanku. Aku hanya ... Sedang mencari dirimu sendiri." Setelah mengatakan itu aku membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangan kerja ibuku dengan jantung yang berdebar bukan karena takut, tapi karena ternyata aku tidak lagi tunduk. Tapi aku tahu, bawah perang ini baru mulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD