Aku menutup pintu kamarku sedikit keras dari biasanya. Bukan dibanting, karena aku sudah terlalu terlatih untuk tidak membuat suara. Tapi juga cukup keras untuk melampiaskan sesuatu yang mendesak di dadaku.
Aku bersandar di pintu, menarik napas panjang. Lalu melepaskannya dengan perlahan sedikit gemetar.
“Tidak akan pernah,” gumamku.
Kalimat ibuku kembali bergaung di kepalaku, dingin dan pasti, seolah dia sedang membaca vonis.
"Apa pun keputusanmu, apa pun pilihanmu, kau tidak akan bisa bebas begitu saja. Tidak sekarang, tidak juga nanti, dan tidak akan pernah."
Aku melangkah ke tengah kamar, melepaskan sepatu dengan gerakan kasar. Tas aku taruh sembarangan di sofa kecil dekat jendela. Tanganku gemetar saat meraih vas kecil di meja rias. Aku mengangkatnya, termenung beberapa saat lalu meletakkannya kembali. Aku tidak ingin merusak apa pun. Tapi aku hanya ingin bernapas.
“Kenapa selalu begini?” bisikku, suaraku pecah. “Kenapa aku tidak pernah cukup dipercaya?” Rasa getir menusuk dadaku. Sejak dulu, sejak aku tahu apa itu dunia, ibuku dengan cepat mengambil alih, mengontrol duniaku.
Aku berjalan mondar mandir. Tirai tipis bergerak pelan diterpa angin malam yang masuk dari jendela sedikit terbuka. Hujan masih turun, menyisakan aroma tanah basah. Biasanya, aroma itu bisa membuatku tenang, aroma tanah basah tapi kali ini tidak. Aku seperti kesulitan untuk menenangkan diri.
Ibuku benar.
Sekalipun aku memilih Elard, atau siapa pun itu, tidak akan serta-merta membebaskanku. Bahkan tindakanku hari ini, yang mencium Elard di depan umum, menyeretnya sebagai tameng, itu pun tetap berada dalam jangkauan kendalinya. Justru kesadaran itu yang paling menyakitkan.
“Aku bahkan tidak melawan,” kataku lirih. “Aku hanya mengganti sangkar.”
Aku duduk di tepi ranjang, menutup wajah dengan kedua tangan. Napasku memburu.
Aku tidak mencintai Elard, belum. Tapi aku menggunakan namanya untuk memprovokasi ibuku, dan itu berhasil walau hanya sebagian. Namun alih-alih lega, yang kurasakan justru muak. Bukan pada Elard, melainkan pada ibuku. Pada cara dia berbicara seolah masa depanku adalah properti keluarga, pada cara dia memberi pilihan yang sebenarnya bukan pilihan, dan pada keyakinannya bahwa aku tidak akan pernah bisa berdiri tanpa kendalinya.
“Aku membencimu,” bisikku pelan, nyaris tanpa suara. Kata itu terasa asing di lidahku, berat, tapi aku merasa jujur.
Aku tidak membencinya karena dia mengatur. Tapi aku membencinya karena dia tidak pernah percaya bahwa aku bisa hidup tanpanya.
Air mata jatuh satu tetes, lalu berhenti. Aku mengusap pipi dengan kasar dan berdiri, menatap pantulan diriku di cermin, gaun rapi, rambut masih sempurna, wajah tanpa retakan. Ini adalah topeng yang sama, sempurna dari kacamata orang lain, tapi cacat dari kacamataku sendiri.
“Tapi, aku tidak akan berhenti,” kataku pada bayangan diriku di cermin itu. “Sekalipun kau bilang aku tidak akan pernah bebas.”
Aku tahu jalan ini berbahaya, aku tahu menyeret Elard ke dalam hidupku bukan keputusan bersih. Namun, jika ibuku yakin aku tidak akan pernah bebas, maka aku akan memastikan satu hal, jika aku tidak akan kembali menjadi putri penurut yang dia bentuk, dan jika kebencian ini yang harus menjadi bahan bakar, maka aku akan menggunakannya, secara pelan, tapi pasti.
***
Pagi ini, saat aku akhirnya memutuskan sesuatu semalam, aku sudah bertekad untuk menunjukan pada ibuku, dan untuk diriku sendiri. Jadi aku kuatkan diri, meyakinkan bahwa keputusan yang aku ambil ini tepat. Setidaknya, sebagai langkah awal untuk aku keluar dari jeratan ibuku.
Meja makan masih lengkap. Ada ayah dan ibu di sana. Hening, dingin, dan sama sekali tidak ada kehangatan di sana, dan aku sama sekali tidak lagi tertarik untuk duduk walau suara berat ayah memerintahkan untuk bergabung.
"Aku makan di kantor saja, Yah, udah siang juga, ada rapat," kataku sambil menghampiri meja makan.
Ayah tidak banyak berkomentar, tahu bahwa aku tidak akan bisa dibujuk jika satu kali aku bilang tidak.
"Liona, Aunty pergi dulu, ya. Yang pinter sekolahnya," ucapku pada Liona, keponakan yang ditinggalkan ibunya, kakakku.
"Iya, Aunty. Nanti pulang kerja beliin Lili permen," kata manja. Binaran matanya membuatku melupakan apa yang sempat aku rasakan dari tatapan ibuku yang mengawasi setiap langkah dan gerakku.
"Tentu. Sampai jumpa nanti. Aunty sang Lili." Aku mengecup puncak kepala Liona penuh kasih sayang. Aku begitu menyayanginya, dan dialah alasanku menurut pada ibuku.
Aku menatap wanita itu sekarang, yang duduk diam, fokus pada sarapnnya, secangkir teh hangat beraroma melati.
"Aku berangkat," kataku. Setidaknya, aku berpamitan lebih dulu walau mereka tahu aku dan ibu tenang perang dingin.
Berbalik meninggalkan ruang makan. Aku berpapasan dengan kakakku di tengah jalan. Adrian menatapku beberapa saat, matanya seperti memberi kode padaku.
"Seseorang menunggumu di depan, Lev," katanya dengan bisikan seolah dia berhati-hati dengan ibuku.
Dahiku mengerut. Seseorang menungguku? Siapa?
"Siapa?" Aku bertanya.
"Kau akan tahu begitu ke depan. Hari ini jangan bawa mobil. Biar aku yang jemput kau sepulang kerja nanti. Sepertinya dia datang untuk menjemputmu. Aku sempat menyapa tadi," jelasnya.
Satu nama yang muncul di benakku. Aku menatap Adrian cukup lama, dan dia mengangguk. Mengiyakan apa yang aku pikirkan. Gegas saja aku berlari menuju depan rumah. Benar saja, dia di sana. Bersandar pada bodi mobil hitam miliknya.
"Pagi," sapaan yang singkat tapi mampu membuat aku menghadirkan seribu tanya.
Aku melangkah semakin dekat dengannya, mengikis jarak, lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa di sini?" tanyaku. Aku memang berniat menghubungi Elard, tapi semalam, bahkan pagi ini aku belum menyentuh ponselku sama sekali. Kenapa dia ada di sini?
"Aku menghubungimu, tapi kau nggak on, jadi ya udah, aku datang tanpa diundang. Suprise," katanya dengan senyum yang entah bagaimana hari ini terlihat aneh.
Aku terdiam, sama sekali tidak menyangka dengan kedatangannya, dengan sikapnya itu.
"Aku ---"
"Aunty." Suara Liona terdengar dari arah belakang, menghentikan ucapanku padanya. Aku menoleh, gadis kecil itu berlari ke arahku, berdiri tepat di sampingku. Tingginya hingga pinggangku. Dia anak berusia lima tahun yang masih bersekolah di taman kanak-kanak. Pengasuh mengikuti dari belakang.
"Halo, cantik. Mau sekolah?"
Aku segera menoleh lagi pada Elard yang posisinya menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Liona.
"Halo. Kamu siapa?" Anak itu bertanya dengan berani. Bahkan tidak menunjukan takutnya sama sekali pada orang asing.
Elard terkekeh. "Kamu manis sekali, persis Aunty-mu," katanya. Aku mengerutkan kening mendengar apa yang dia katakan. Elard sempat melirikku tanpa mengubah posisinya.
Tapi Elard mengubah posisinya sekarang, berjongkok di depan Liona.
"Ayo kenalan, mau tidak?" Tawarnya. Aku terdiam, sama sekali tidak berekspektasi dengan sikapnya Elard.
"Tentu. Kamu siapa?" Liona mengulang, bertanya dengan mata mengerjap polos.
Sesaat Elard kembali melirikku yang hanya diam saja. "Pacar Aunty-mu, namaku Elard. Kamu bisa memanggil aku Om, mungkin?" Katanya.
Aku tertegun. Aneh. Dia sungguh aneh hari ini, tidak seperti kemarin. Apakah dia salah makan sesuatu?
"Oh, halo Om ganteng. Aku Liona, kesayangannya Aunty Levi," balas Liona.
Elard terkekeh.
"Ya, tentu. Oh, kau mau sekolah? Bagaimana kalau aku tawari tumpang? Mau tidak?"
Aku melotot. "Elard ...."
"Mau, mau." Liona lebih dulu menimpali membuat aku menatap bocah itu tak percaya. Tidak mungkin.
Elard tersenyum puas, seperti kemenangan.
Sialan. Apa tujuannya? Aku yakin, ada maksudnya.