20 - Bangun, Sayang!

968 Words

Hujan rintik-rintik membuat malas seseorang untuk bangun memulai harinya. Selain hawanya yang dingin, Gisel memang pemalas kalau bangun pagi. Dia meringkuk di bawah selimut tebalnya. Tirai kamar juga masih tertutup rapat seperti matanya. Dok! Dok! Dok! “Uhh siapa, sih, dingin-dingin begini mengganggu tidurku!?” racaunya kesal. Dia tidak sadar bahwa dia masih tinggal di rumah Luke. “Bangun, Sayang! Ini udah jam 9!” teriak Luke dari luar pintu. “Sa-sayang?!” batin Gisel. Segeralah ia membuka matanya lebar karena terkejut mendengar kata tersebut. Bukan karena ingin bangun. Luke berteriak lagi, “Ayo keluar! Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.” “Mau kemana hujan-hujan begini?! Malas!” balas Gisel bersuara lantang. “Cepat mandi!” Geregetan, Gisel membuang selimutnya ke samping. Apapun y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD