Ruang Rapat yang Gelisah Saras duduk di kursi ujung ruang rapat Rumah Lia dengan wajah letih, namun matanya menyala. Di hadapannya: Rafael, Toni, Bu Lilis, dan tiga relawan senior. Mereka baru saja selesai menyusun pernyataan terbuka kedua—sebuah manifesto moral Rumah Lia yang akan dipublikasikan lewat berbagai platform digital dan media komunitas. “Kita tidak bisa terus defensif,” kata Saras tegas. “Kalau kita hanya membantah, mereka akan bilang kita panik. Kita harus ubah arah narasi. Dari membela diri… menjadi menyerang balik ketidakadilan sistemik.” Rafael mengangguk pelan. “Bukan menyerang orang. Tapi menyerang stigma. Biar publik tahu, ini bukan tentang masa laluku. Ini tentang masa depan anak-anak yang sedang coba mereka renggut.” “Dan kita harus cepat,” tambah Toni. “Karena kit

