Luka yang Mulai Bersambut Setelah penonaktifan Pak Edwin, suasana Rumah Lia tidak langsung membaik. Justru mulai muncul gejolak dari dalam. Anak-anak yang sebelumnya diam, satu per satu mulai membuka suara. Tidak semua bercerita tentang kekerasan, tapi banyak yang menceritakan ketakutan-ketakutan lama yang selama ini mereka simpan sendiri. Di ruang seni, seorang anak laki-laki bernama Rio berkata lirih pada Saras: “Aku takut angkat tangan di kelas karena dulu setiap kali salah jawab... aku dipukul pakai penggaris.” Di lapangan, Elsa menangis saat bermain dan akhirnya mengaku, “Aku dulu suka pipis di celana waktu malam. Tapi dimarahin, bukan ditanya kenapa.” Cerita-cerita itu datang seperti ombak kecil, tapi terus menerus. Menghapus ilusi bahwa hanya satu orang yang menyakiti—karena ke

