Pertemuan Dua Penebus Pagi harinya, Rafael kembali ke Rumah Lia. Matanya merah, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Tapi langkahnya tetap tenang. Ia langsung menuju ruang kerja kecil di belakang perpustakaan, tempat Pak Gilang biasa memberi konsultasi hukum kepada anak-anak dan pengurus. Pak Gilang sedang merapikan berkas. Ketika Rafael mengetuk pintu, pria tua itu tersenyum ramah. “Mas Raf, ada yang bisa saya bantu?” Rafael menutup pintu, duduk, dan menatap pria yang telah begitu ia hormati selama ini. Tapi hari ini, ia tak bisa lagi berpura-pura. “Ada yang harus saya tanyakan, Pak.” Pak Gilang mengangguk pelan. “Saya dengarkan.” Rafael membuka amplop dari Davin. Ia tidak membukanya, hanya meletakkannya di meja. “Apakah Bapak tahu... bahwa saya yang pernah... ‘meminta’ seseorang u

