Bab 3 - Bertemu lagi

1052 Words
Curug Ciomas di Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor mempunyai potensi wisata yang cukup tinggi. Namun sayang, curug tersebut belum dieksplorasi secara maksimal. Jika kalian dan keluarga bosan dengan wisata kota, cobalah beralih ke wisata alam, suasananya akan sangat jauh berbeda. Selain udaranya yang jauh dari polusi, wisata alam menawarkan ketenangan. Cukup banyak wisata alam di Indonesia dan jaraknya tidak begitu jauh dari Ibu Kota. Salah satunya Curug Ciomas yang berada di Kampung Tonjong, Desa Cikutamahi, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Jarak tempuh dari Jakarta ke lokasi ini hanya sekitar tiga jam perjalanan dengan kendaraan pribadi, yaitu lewati Cibubur - Cileungsi -Jonggol, Kabupaten Bogor lanjut ke Desa Cikutamahi Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, curug ini berada diperbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang. Yang menjadi pembatasnya cuma sebuah jembatan, yaitu Jembatan Ciomas. Bagi yang pertama kali berkunjung ke Curug Ciomas memang sedikit membingungkan. Karena lokasinya berada di pedalaman dan belum ada arah petunjuk menuju ke lokasi. Namun, sebagian besar masyarakat sekitar sudah tahu lokasi air terjun tersebut. Bagi yang suka wisata alam dan berpetualang, berkunjung ke Curug Ciomas merupakan perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang jalan, khususnya di Kecamatan Cariu, terdapat pesawahan disepanjang perjalanan. Meski mempunyai potensi wisata, sayang curug ini belum dieksplorasi secara maksimal. Akibatnya, curug wisata ini tidak begitu familiar di telinga masyarakat. Padahal, keberadaan air terjun ini sudah cukup lama. Sebelum menjadi objek wisata, curug ini dijadikan sebagai tempat mandi oleh masyarakat setempat. Lokasi tersebut dijadikan objek wisata baru beberapa tahun ini. Atas pesona yang dimiliknya, sebagian masyarakat setempat menyebut Curug Ciomas dengan sebutan “Green Canyon Ciomas”. Pasalnya, bentuknya hampir sama dengan Green Canyon Pangandaran yang berada di Desa Kertayasa, Ciamis, Jawa Barat. Tapi, panjang aliran Sungai Curug Ciomas tidak sepanjang Green Canyon Pangandaran yang bisa diarungi dengan sampan, yang oleh masyarakat setempat disebut ketinting. Panjang aliran Sungai Curug Ciomas sekitar 200 meter, dan ukuran sungainya tak begitu besar. Tidak seperti sungai biasa yang bagian pinggir dibatasi tebing tanah, Sungai Curug Ciomas pada bagian pinggirnya dibatasi tebing-tebing batu yang masih dikeliling hutan. Di atas tebing batu terdapat pohon-pohon besar yang akarnya menjulur ke bawah. Kehadiran tebing batu dan bongkahan-bongkahan batu, serta hutan yang berada di atas tebing batu memberikan kesan dan daya tarik tersendiri. Selain warga Bogor dan Karawang, masyarakat Jakarta pun ada yang berkunjung ke sini. Doni, warga setempat yang kini tinggal di Jakarta, menerangkan Curug Ciomas menjadi wisata alternatif. “Setiap hari libur tempat ini selalu ramai. Kalau hari biasanya hanya beberapa yang datang berenang atau sekadar duduk melihat air terjun,” ujarnya. Selain menikmati keindahan alam, pengunjung pun bisa berenang sambil mengarungi curug, dan juga bisa memacu adrenalin, yaitu cara melompat dari atas bukit batu yang tingginya sekitar 10–12 meter. Bagi warga setempat, melompat dari atas bukit batu sudah menjadi hal biasa. Berenang di antara batu, menuju air terjun menjadi tantangan tersendiri. Bagi yang baru bisa berenang dan ingin menuju air terjun, sebaiknya jangan berenang sendiri. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Kamu itu melamun aja terus, Ram. Tiga jam perjalanan loh, ayolah, sebelum bekerja kita happy dulu di Curug ini,” ucap Doni. “Ya silakan, aku nggak berselera,” sahut Rama. “Terus kamu ngapain bengong di situ? Kesambet baru tahu rasa,” cetus Doni, dia kembali berenang di bawah guyuran air Curug. Sedangkan yang dilakukan Rama adalah duduk di batu besar, selain memperhatikan sahabatnya yang sedang mandi itu, Rama berusaha untuk mencari sinyal, tetapi tidak ada juga. “Doni, udah lama banget nggak ke sini, 10 tahun lamanya, nggak ada sinyal, ya, kartu Axis di sini?” tanya Rama. “Apa? Apa? Nggak kedengaran,” teriak Doni. “Ah, Doni sialan, mendingan cari sinyal dulu deh,” ucap Rama langsung meninggalkan Doni begitu saja. Walaupun sudah lama tidak ke desa, tetapi Rama masih ingat jalanan di sana dengan ingatannya mengenang masa lalu, sampai dia tidak sadar sudah menabrak dagangan orang lain. “Heh! Punya mata teh pake atuh, jatuh semua, kan, ah!” “Eh, maaf nggak sadar tadi,” ucap Rama yang tak mengedipkan matanya. “Kamu?” Mereka kompak saling menunjuk satu sama lain. “Kita akhirnya bisa ketemu lagi, ya, di sini pula tempatnya,” ucap Rama dengan sedikit ketus pada wanita itu. “Ngapain kamu di sini? Bukannya pergi aja yang jauh.” “Aku juga malas banget sebenarnya ketemu sama kamu, cuma mau gimana lagi urusan perusahaan jauh lebih penting dibandingkan perasaan,” kata Rama. “Alah, nggak usah bawa-bawa perasaan segala deh kamu. Udah sana, pergi! Nggak mood banget jadinya.” “Kamu jualan apa itu? Boleh beli?” tanya Rama. Lalu kemudian datanglah seorang laki-laki tampan menghampiri wanita itu, bahkan dengan berani mengecup keningnya dengan mesra di hadapan Rama. “Sayang, ulah capek-capek banget, biar aku aja yang dagang,” ucap laki-laki itu. Sayang? Cium kening? Rama pun langsung mengerti, dia tidak mau menelan luka lama lagi, melenggang menjauh dari mereka yang sangat menyakitkan. *** “Hei ... Rama! Dari mana aja, sih, aku nyari ke mana-mana,” panggil Doni. “Maaf, tadi nyari sinyal.” “Nyari sinyal kok wajahnya cemberut kayak badut, abis ngapain hah? Ayo, kita secepatnya kembali ke rumah warga yang kita sewa, jangan sampai nanti malam telat,” ajak Doni. “Ya, lagian mandi kok lama banget bikin keki,” cetus Rama yang berjalan lebih dulu. Doni yang tak sengaja melirik ke arah lain pun langsung mengerti kenapa Rama menjadi badmood dan marah-marah tidak jelas, rupanya mereka sudah bertemu kembali tadi. “Sabar, Bos, hidup itu perih ha ha.” “Sialan, berisik Doni!" Dari siang sampai malam pun belum selesai juga meeting dengan orang-orang penting di desa, sampai pukul sembilan malam baru bisa selesai semuanya. Membuat Doni maupun Rama lelah dengan pekerjaannya hari ini, beristirahat pun tidak bisa, badan mereka pegal-pegal. “Urusan pekerjaan seperti ini, nih, yang bikin males, capek banget Brohh.” “Lebay, nggak punya pekerjaan lalu nganggur lebih menyiksa! Tahu rasa kalau jadi pengganguran lagi,” sindir Rama. “He he, jangan dong ah, Rama itu, kan, ganteng mana baik pula, jangan bicara seperti itu, ya,” ucap Doni merayu. “Hih, merinding sekali. Jangan gitu ah, masih normal nih,” cetus Rama lagi. Doni yang sukses menggoda pun tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang bersikap keki seperti itu di hadapannya, dia sangat tahu, yang membuat pikiran Rama kacau itu, wanita dari masa lalunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD