Tiga bulan sebelumnya…
Kalila tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya. Sepulangnya ia bekerja shift malam di rumah sakit, pemandangan yang tak biasa sudah menyambutnya.
Budhe dan Padhe tengah duduk di ruang tamu dengan gestur sedikit kaku.
Pasalnya selama tinggal bersama kedua orang tua penggantinya itu tak pernah menganggap keberadaannya begitu spesial hingga harus disambut seperti saat ini.
“Kamu sudah pulang, Lila? Sini duduk dulu, kamu pasti capek banget pulang jaga malam.”
Kalila, masih dengan kening berkerut dalam pun menuruti perintah dari Budhe-nya.
“Ada apa, Budhe?”
Budhe Retno tak langsung menjawab, ia menoleh dan bertukar pandang kepada Padhe yang kemudian memberikan anggukan singkat.
“Kalila kamu tahu kan kalau selama ini kamu sudah merawatmu dengan baik sampai seperti sekarang?”
“Iya, Budhe.”
“Mungkin sudah saatnya kamu menikah dan ikut dengan suamimu,” cetus Budhe Retno kemudian.
Kalila terdiam, matanya mengerjap sesaat. Ruang tamu itu mendadak hening.
“Apa Budhe? Menikah?” Suaranya tercekat. “Lila nggak salah dengar kan?”
“Iya kamu nggak salah dengar, Lila. Budhe ingin kamu menikah.”
“Tapi kenapa mendadak? Kalila bahkan nggak punya pacar.” Terdengar nada kegetiran dari suaranya.
“Budhe sudah pilihkan calonnya, jadi kamu tinggal setuju dan semuanya sudah diatur.” Budhe Retno menyunggingkan senyum aneh. Senyum yang dipaksakan.
Wajah Kalila berubah pias, matanya terbelalak. “Apa maksudnya ini semua? Sudah punya calon?”
Sudut bibir wanita setengah baya itu tampak berkedut. “Budhe sudah memikirkan ini matang-matang, dia pria yang mapan. Kamu nggak akan kesusahan jika menikah dengannya.”
“Budhe mau jodohin aku sama orang yang nggak aku kenal?”
“Nanti kamu juga akan kenalan sebelum menikah, Lila. Pak Irsyad itu orang baik, dia nggak akan jahat sama kamu.”
“Pak Irsyad? Irsyad siapa?”
Dibenaknya hanya terlintas satu nama Irsyad, seorang pengusaha yang cukup dikenal di lingkungannya. Meski pria itu berkepribadian baik tapi tidak dengan anak semata wayangnya yang dijuluki biang onar.
“Irsyad Affandi.” Perkataan Budhe langsung membuat tubuhnya menegang.
“Budhe ingin Lila menikah dengan pria yang usianya 20 tahun lebih tua?” jerit Kalila seraya bangkit dari duduknya.
“Usia itu nggak penting, Lila. Kalau kamu bersamanya, kamu akan hidup terjamin.”
Kalila menatap Budhe-nya tak percaya. “Budhe, Kalila nggak ingin menikah. Lila nggak kenal sama orang itu bagaimana bisa Lila menikah?”
“Padahal semuanya sudah diatur, kamu tinggal menurut saja apa susahnya?” Budhe berdecak kesal.
Raut wajahnya yang semula terlihat ramah itu perlahan luntur. Menampilkan sosok asli Budhe Retno yang sudah Kalila kenal selama bertahun-tahun tinggal.
“Aku nggak mau menikah, Budhe. Apalagi sama orang yang nggak aku cintai.”
“Cinta nggak bisa buat kamu kenyang, Kalila. Pernikahan itu butuh uang buat hidup.” Budhe memicingkan matanya. “Jangan bilang kamu masih mengingat cinta pertama kamu yang nggak ada gunanya itu?”
Kalila terdiam. Ia meremas tangannya merasa tak nyaman dengan ucapan Budhe. Sudah lama ia berusaha untuk mengubur rasa rindu sekaligus rasa bersalah selama bertahun-tahun dan kini Budhe-nya mengungkitnya kembali.
“Sudahlah. Tak usah dijawab. Pokoknya kamu harus menikah dengan Pak Irsyad Affandi. Tanggal pernikahan sudah diatur dan kamu harus menurut,” kata Budhe lagi tegas.
“Kenapa Budhe begitu memaksa begini? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kali ini giliran Budhe Retno yang terdiam, wanita setengah baya itu pun juga memalingkan wajahnya menghindari tatapan Kalila penuh selidik.
“Aku yakin pasti ada yang disembunyikan.” Kalila menyimpulkan.
Budhe tak menjawab.
“Lebih baik kita katakan yang sebenarnya. Kalila berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Suara Padhe memecah keheningan.
Kalila menatap Budhe dan Padhe secara bergantian.
“Padhe, ada apa?” tanya Kalila pelan kepada Padhe–kakak dari mendiang ayahnya.
“Kita sedang tertimpa musibah, Lila. Kakak sepupumu terlilit hutang pinjol cukup besar dan sekarang dia sedang dikejar-kejar rentenir. Kita butuh uang yang sangat besar untuk melunasi hutangnya.”
“Apa?! Bagaimana bisa?”
“Dia terjerumus judol hingga rela mempertaruhkan semuanya sampai hutang besar menjeratnya.”
Kalila terdiam sesaat. Tampak berpikir. “Berapa nominal hutangnya, Padhe?”
“Tiga ratus juta.” Suara Padhe tercekat. Bahunya perlahan terkulai.
Mata Kalila sontak terbelalak. “Darimana mengumpulkan uang sebanyak itu?”
“Solusi saat ini cuma Pak Irsyad mampu memberikan uang sebanyak itu dalam waktu dekat.” Budhe kembali bersuara.
“Jadi kalian menjualku kepada pria tua demi membayar hutang Kak Arifin?”
“Hanya itu satu-satunya solusi. Karena kalau tidak, Arifin bisa dikejar rentenir. Dua hari yang lalu dia sudah mendapatkan ancaman. Bagaimana nanti kalau orang itu melakukan sesuatu yang buruk?”
“Kenapa Kak Arifin yang berbuat sementara aku yang menanggung akibatnya? Kalian dengan tega menyerahkanku sama orang yang jauh lebih tua? Yang anaknya hanya selisih beberapa tahun dariku, Budhe, Padhe?”
Diluar dugaan, wanita setengah baya itu menggeser tubuhnya mendekati Kalila.
“Budhe?” Kalila terkejut melihat saat ini Budhe tengah berlutut di hadapannya dengan air mata yang sudah terurai.
“Tolongin Budhe, Lila. Tolong Arifin, kakak sepupumu. Hanya kamu yang bisa menolong kami.”
Kalila terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Batinnya sedang mengalami pergulatan yang hebat namun disisi lain ia cukup terenyuh melihat Budhe pertama kali meminta tolong padanya. Hal yang tak pernah wanita itu lakukan selama ini.
“Lila, kalau tidak, anggaplah ini sebagai balas budi kamu selama ini karena kami telah merawatmu setelah kedua orang tuamu meninggal. Kamu bisa hidup sampai sekarang, bekerja di rumah sakit besar juga bagian jasa kami berdua,” ujar Budhe kemudian.
Hati Kalila sontak mencelos.
Bagaimana bisa Budhe-nya mengatakan dua hal yang bertolak belakang dalam kurun waktu kurang dari satu menit?
Namun, ketika Padhe ikut bersimpuh di depannya sambil menangis itu langsung meluruhkan pertahanannya.
Jika sikap Budhe padanya tak pernah baik, tapi Padhe selalu berusaha menghiburnya dikala sedih. Meski pria itu tak bisa terlalu kentara menunjukkan kasih sayangnya di depan Budhe yang kurang bisa menerima kehadiran Kalila.
“Padhe tahu ini harusnya masih menjadi tanggung jawab Padhe sebagai kepala keluarga yang harusnya menjadi pelindung bagi kalian semua. Tapi Padhe juga tak berdaya, Lila. Tolonglah kami, maka seumur hidup kami akan berhutang budi kepadamu.”
Detik itu Kalila tahu bahwa ia tidak punya pilihan atas hidupnya sendiri.
***