“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Kalila setengah panik begitu melihat sosok pria yang selama ini masih ada di dalam hatinya.
Beberapa menit yang lalu ia menerima pesan bahwa pria itu akan menemuinya di persimpangan jalan diujung rumahnya.
“Menjemputmu.”
“Apa?” Suaranya tercekat. Matanya melebar dan berharap ia tidak salah mendengar ucapan dari pria itu.
“Katamu kamu masih mencintaiku kan?”
Wanita itu tak menjawab, tenggorokannya tercekat. Sesekali ia menoleh ke belakang. Ke sebuah rumah besar berdiri megah yang menurutnya selama ini sudah bagai penjara.
Penjara itu bernama pernikahan yang tak pernah diinginkannya.
“Kalila, jawablah.” Pria itu mendesaknya.
“Aku selalu mencintaimu, sampai kapanpun.” Wanita itu menjawab mantap. “Tapi kamu harus pergi dari sini. Kalau sampai ketahuan, aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu.”
Pria itu berdecak. “Aku tak perduli, Kal. Aku hanya ingin kamu. Aku tidak ingin kehilangan semuanya lagi.”
Air matanya merebak dan sesaat kemudian luruh membanjiri pipinya. Kalila menghambur diri ke dalam pelukan erat pria itu yang menerimanya hangat. Mendekapnya dengan sikap posesif lalu bibirnya menemuinya.
Kecupan itu awalnya hanyalah sebuah kecupan singkat namun perlahan berubah menjadi lebih menuntut di bawah temaram lampu jalan.
Keduanya saling mengisi satu sama lain. Seolah tak mempedulikan bahwa saat ini mereka tengah berada di sebuah jalan umum meskipun saat ini tak ada orang yang lewat.
Pada detik berikutnya, Kalila melepaskan pagutannya. Keduanya saling menatap dalam diam. Terengah-engah.
“Ayo. Sebelum mereka menemui kita.” Pria itu menggamit tangannya.
Tapi Kalila menahannya. Pria itu berbalik dan sorot matanya menatap keheranan.
“Aku tidak bisa,” ujarnya tercekat.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa pergi denganmu.”
“Kamu mencampakkanku lagi?”
Kalila menggeleng lemah, terisak.
“Bertahun-tahun yang lalu kamu juga mengucapkan hal yang sama, lalu kini kamu menggunakan alasan yang sama?”
“Shaka, dengarkan aku. Ini semua demi kebaikanmu. Kamu tak tahu siapa yang kamu hadapi.”
“Jangan meremehkanku, Kalila. Kamu tahu betul aku lebih dari mampu memaksamu kembali bersamaku. Bahkan sekarang aku mampu menghadapinya.”
Kalila menggelengkan kepalanya kuat. Ia menggenggam tangan pria itu. Menahannya. Setengah berharap bahwa hal itu bisa membuat Shaka berpikir logis.
Sebelum pria itu mulai membuka mulutnya kembali, seseorang yang sudah sempat ia khawatirkan muncul dari belakang menembus kegelapan malam di jalan yang sepi.
“Kalila,” panggilnya. Suaranya rendah namun terdapat ketegasan yang tak boleh diremehkan. “Kembalilah.”
Kalila memejamkan mata, tahu bahwa waktunya sudah benar habis dan ia tak punya pilihan.
***