Pagi cuaca turun dua derajat lebih dingin dari biasanya. Awan kelabu pun masih menggantung menurunkan rintik hujan awet sedari subuh.
Seharusnya ia berangkat bersama sopir yang akan selalu siap sedia mengantarkan Sang Nyonya Irsyad Affandi, namun Kalila memilih mengendarai motor matic-nya dan melapisi tubuhnya dengan jas hujan.
Semua itu ia lakukan demi bisa menjadi dirinya sendiri.
Bukan sebagai istri dari Duda Kaya Raya. Bukan juga sebagai ibu tiri dari anak yang sudah remaja.
Sesampainya di sekolah, hujan sudah benar-benar berhenti. Kalila memarkir motor di parkiran khusus guru dan staff dan melangkahkan kakinya menuju kantin yang tentunya masih sepi.
“Eh ada Suster Kalila, tumben pagi bener datengnya?” sapa seorang Penjual Bubur Ayam di kantin sekolah.
“Iya nih, sengaja datang cepet biar bisa jadi pelanggan pertama Bubur Mbak Wulan.” Kalila menyengir lebar.
Wanita setengah baya yang bernama Wulan itu pun terkekeh mendengar candaan Kalila. “Seperti biasa kan pesenannya?”
“Iya, Mbak. Nggak pakai daun bawang yah. Minumnya teh tawar hangat saja.”
Mbak Wulan mengangguk sembari mengacungkan dua jempolnya tanda mengerti sebelum akhir berbalik ke dalam kedainya.
Sementara Kalila duduk di salah satu kursi yang menghadap ke sebuah lapangan basket yang masih basah. Matahari belum juga mau menunjukkan sinarnya meski hujan telah sepenuhnya berhenti.
Satu hal yang ia syukuri saat ini adalah bahwa ia bersyukur bersikeras untuk datang lebih pagi meski harus menerjang hujan dengan sepeda motornya, demi mendapatkan suasana tenang dan syahdu seperti ini.
“Setidaknya beberapa jam sebelum Rangga datang merecokiku kembali,” gumamnya teramat pelan.
Tak butuh waktu beberapa lama kemudian, Mbak Wulan datang memegang nampan berisi pesanannya.
“Selamat menikmati sarapannya, Suster. Pas banget dingin-dingin gini makannya bubur ayam.”
“Makasih Mbak Wul.”
Mbak Wulan menyunggingkan senyum ramah dan akhirnya berlalu meninggalkan Kalila yang menikmati sarapan sederhananya pagi itu.
Ia sengaja melewatkan sarapan di rumah karena Irsyad sedang ke luar kota, dan Kalila tak ingin berhadapan dengan Rangga yang akan semakin berulah jika tak ada ayahnya.
Suapan demi suapan ia nikmati dengan perlahan. Tanpa terburu-buru atau tanpa perasaan sungkan dan tak nyaman.
Namun, keheningan itu tak berlangsung lama ketika samar-sama ia mendengar suara geberan motor yang berasal dari luar gerbang sekolah diikuti suara klakson.
“Eh ya ampun! Geng motor itu datang lagi.” Mbak Wulan keluar dari bilik kios.
“Geng motor? Ngapain Mbak?”
“Biasa itu, geng motor sekolah seberang suka sleg sama sekolahan sini.”
“Loh emang ada masalah apa?”
“Biasa, siapa yang paling keren dan masalah cewek palingan.” Mbak Wulan masih menatap sumber keributan yang cukup jauh di mata. “Palingan nyariin pentolan geng motor sini.”
“Siapa, Mbak?”
“Siapa lagi kalau bukan Rangga.”
“Rangga-nya kan juga belum datang.”
Kalila yakin Rangga juga masih berada di rumahnya saat ini. Nggak mungkin ia akan datang sepagi ini?
“Kok Suster Kalila tahu?” Mbak Wulan kini sudah menatapnya.
Kalila mengerjapkan matanya. Menyesali perkataannya yang keluar tanpa ia pikirkan lebih dulu.
“Karena masih pagi kan, Mbak Wulan. Saya juga tadi lewati kelasnya Rangga, masih pada kosong,” tukas Kalila cepat-cepat.
“Oh iya, bener juga. Ah palingan si ketua geng itu cuma mau menggertak.”
Saat Mbak Wulan sudah akan membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara gerbang yang didobrak paksa. Seketika saja suara motor itu semakin terdengar jelas diikuti dengan riuhannya.
Kalila sontak berdiri dan tanpa berpikir panjang pun pergi meninggalkan kantin menuju tempat keributan itu terjadi. Bersama dengan beberapa siswa yang sudah datang.
Saat ia sudah berada di koridor utama, terlihat jelas segerombolan siswa dengan seragam yang berbeda sudah berdiri di tengah-tengah lapangan basket. Salah seorangnya berdiri paling depan dengan membawa tongkat bisbol.
“Rangga! Mana Rangga!” teriak remaja pria yang memegang tongkat. Kalila menduga dia adalah ketuanya.
Tidak ada yang menjawab. Yang terjadi hanyalah bisik-bisik dari beberapa siswa yang menandakan ketidaktahuannya. Sementara beberapa satpam sekolah sudah tergopoh-gopoh dan menyuruh para tamu tak diundang itu segera keluar.
“Panggil Rangga suruh kesini!” teriaknya lagi. Mengindahkan satpam sekolah yang masih mendorong tubuhnya.
Sekali lagi, tak ada yang berani menjawab. Kalila menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat para siswa yang juga sepertinya tak begitu terkejut dengan situasi sepagi ini.
Namun pucuk dicinta ulam-pun tiba, sosok Rangga tiba-tiba muncul dari gerbang sekolah. Berjalan dengan santai.
“Ada apa ini ribut-ribut?”
Si ketua geng seketika menoleh dan berbalik badan. Tak menunggu lama, ia menyeruak kawanannya dan menarik kerah baju Rangga.
Kalila memekik pelan dan juga beberapa para siswa yang lain.
Namun, dilihatnya Rangga seolah tak terusik. Ia bahkan tak repot-repot menarik dirinya dari cengkraman tangan besar itu.
Mereka terlibat sebuah perbincangan kecil. Tak ada yang bisa mendengarnya, termasuk Kalila. Namun terlihat jelas bahwa situasi kian menegang.
Melihat itu Kalila meremas tangannya dan menggigit bibir bawahnya.
Apa yang harus aku lakukan?
Teringat pesan Irsyad bahwa alasan ia kesini adalah untuk membuat Rangga menjauh dari masalah. Tapi kini ia harus dihadapkan dengan sebuah masalah besar.
Apa yang sebenarnya Rangga lakukan?
Setelah para satpam menyerah untuk mengusir para geng motor itu, para guru yang kebetulan baru datang itu kini berusaha untuk menghubungi pihak berwajib tapi tak ada yang berani mendekatinya.
Seorang pria bertubuh tinggi, mengenakan kemeja hitam dan celana bahan berwarna abu-abu itu melangkahkan kakinya mantap ke tengah lapangan. Kehadirannya membuat seluruh pandang mata tertuju padanya. Tak terkecuali Kalila.
Siapa dia? Apakah guru baru?
Kalila mengerutkan keningnya selagi terus memandangi punggung pria itu yang bidang.
“Kami sudah memintamu pergi dengan baik-baik, tapi rupanya tak kamu lakukan.” Pria itu bersuara.
Suara itu tidak asing, pikir Kalila.
“Saya tak punya urusan dengan anda,” ujar si Ketua Geng angkuh.
“Tentu saja punya. Kamu bukan hanya berurusan dengan saya, tapi semua yang ada disini. Bukan hanya guru tapi juga dengan murid yang lain.” Pria itu berhenti sebentar. “Walaupun yang kamu cari hanyalah satu orang tapi, kamu salah menentukan tempatnya.”
Ketua Geng itu mendesis. Lalu memalingkan kembali wajahnya kepada Rangga yang masih bergeming.
“Lo ikut gue keluar!”
“Kamu nggak bisa seenaknya begitu, dia sudah masuk ke dalam sekolah dan jika kamu ingin berbicara padanya, silahkan tunggu jam sekolah selesai.”
Remaja itu berdecih tak terima.
“Begitulah aturan di sekolah ini. Sekarang, kamu harus pergi atau kami dengan terpaksa meminta pihak berwajib untuk menyeretmu keluar.”
Pria itu pun tampak merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dan mengangkatnya seolah sedang menunjukkan bahwa niatnya tak main-main.
Aksi itu pun sedikit banyak meluruhkan niat para gerombolan siswa sampai pada ketuanya yang pada akhirnya pun mundur teratur, walaupun si ketua sempat melontarkan ancaman pada Rangga sebelum akhirnya berbalik keluar sekolah.
“Kalian bisa bubar. Dan kamu Rangga, silahkan ikut saya ke ruangan.” Pria itu membalikkan tubuhnya.
Seketika saja, tubuh Kalila menegang dan matanya terbelalak.
Pria itu kini sudah berjalan menjauhi lapangan basket, dan Rangga mengikutinya tanpa penolakan.
Langkahnya tertuju pada Kalila berdiri mematung sambil menahan napas. Degup jantungnya pun kian meningkat.
Ingin rasanya ia pergi dari sini tapi kakinya menahannya. Seolah ada lem kuat yang merekat di sol sepatunya.
Pria itu kini sudah semakin mendekat. Tatapan mereka pun kini bertemu dan sontak saja langkahnya berhenti.
Ia pasti terkejut. Tentu saja.
Kalila pun tak kalah terkejutnya. Hingga membuat tenggorokannya tercekat.
Bagaimana bisa ia kembali dipertemukan dalam situasi seperti ini?
Namun beberapa detik kemudian, pria itu kembali berjalan. Melewati Kalila tanpa meliriknya sedikitpun menuju sebuah ruangan yang entah kenapa persis berada di belakangnya yang bertuliskan Counseling Room.
Kalila pun mencelos dan bahunya sontak terkulai.
Jadi … guru baru yang bernama Shaka itu sama dengan Shaka yang ia kenal?
Shakawira Aditama. Mantan pacarnya bertahun-tahun yang lalu.
***