Bab 5: Perawat Sekolah

1175 Words
Bukan hal yang sulit bagi seorang Irsyad untuk menempatkan Kalila di sekolah anak tirinya, yang secara kebetulan sedang membuka lowongan untuk perawat sekolah yang sebelumnya resign. Meskipun menjadi perawat di UKS (Unit Kesehatan Sekolah) ini sedikit berbeda saat dirinya menjadi perawat di salah satu rumah sakit besar, tapi Kalila bersyukur karena berkat Irsyad, ia bisa mengesampingkan perannya sebagai istrinya di depan ibu mertua dan anak tirinya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Sesuai dengan apa yang dikatakan Irsyad bahwa Rangga akan segera kembali masuk ke sekolah pun akhirnya terbukti. “Rupanya benar, Papa membuatmu masuk ke sekolah ini.” Rangga muncul pertama kalinya di ruang UKS tempat Kalila ditempatkan. Kalila tak menampik bahwa ia sedikit terkejut dengan kemunculan Rangga yang kembali hadir di sekolah. “Rupanya kamu sudah mau masuk sekolah.” “Karena rupanya di sekolah ada yang lebih menarik,” jawab Rangga mengulas senyum tipis sembari melangkah masuk ke dalam ruang UKS lalu menutup pintu. “Sebaiknya kamu tidak macam-macam disini.” “Kenapa? Kamu takut?” Senyuman tipis itu perlahan berubah menjadi seringaian. “Karena disini tidak ada yang tahu bahwa status kita ada hubungan keluarga.” Diluar dugaan, Rangga tidak terkejut sama sekali. “Aku sudah menduga. Papa pasti kongkalikong sama kepala sekolah agar kamu bisa masuk kesini hanya untuk bisa mengawasiku, benar bukan?” Kalila mengangkat kedua bahunya acuh. “Itu bukan urusanku, Rangga. Jadi mau apa kamu datang kesini?” “Untuk melihatmu.” “Kalau tidak ada kepentingan, sebaiknya kamu kembali ke kelasmu sekarang juga.” Namun bukannya berbalik badan, Rangga malah melangkah menuju salah satu ranjang dan merebahkan dirinya di sana. “Apa yang kamu lakukan?” “Istirahat. Ini kan UKS. Jadi aku bebas beristirahat.” “Kalau tidak ada alasan kesehatan, itu namanya membolos pelajaran.” Kalila menghembuskan napas berat. Rangga melirik lalu memiringkan tubuhnya agar bisa leluasa melihat Kalila yang tengah menatapnya dengan kening berkerut dalam. “Ada kok. Aku habis mengikuti ujian susulan jadi sekarang aku mengalami kelelahan dan kepalaku agak berat. Kamu kan tahu aku tidak mengikuti ujian minggu lalu karena tidak masuk, jadi pihak sekolah memberikan dispensasi untuk mengikuti ujian susulan.” Kalila memberikan tatapan datar, setengah mempercayai ucapannya. Meskipun baru seminggu ia bekerja sebagai perawat sekolah, ia sudah mendapatkan beberapa informasi penting. Salah satunya adalah mengenai tabiat Rangga yang dikenal sebagai biang onar dengan otak yang cerdas. Satu-satunya alasan mengapa Rangga masih dipertahankan di sekolah adalah karena Irsyad merupakan donatur yayasan ini, maka dari itu meski pihak sekolah sudah pernah melayangkan pernyataan ketidaksanggupan menghadapi Rangga, jeda tak lama kemudian mereka masih sanggup menerima Rangga dengan segala tingkah lakunya yang seringkali membuat para guru senewen. Jika saja Rangga menjadi anak yang penurut, pastilah saat ini dia sudah meraup banyak prestasi gemilang yang akan mengantarkannya ke perguruan tinggi bergengsi. “Kalila ….” Rangga memanggilnya. “Suster. Suster Kalila. Kalau disini kamu harus memanggilku itu.” Kalila berkata tegas diikuti dengan tatapan tajam kepada Rangga. Namun, bukannya takut, pria itu justru tertawa dengan nada meremehkan. “Aku cuma membayangkan, bagaimana jadinya kalau pihak sekolah tahu kalau kamu adalah ibu tiriku?” “Sebaiknya kamu tidak membocorkan hal itu.” “Kenapa tidak?” “Karena untuk menjaga reputasi ayahmu,” jawab Kalila singkat. Rangga berdecak. “Dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Kamu tidak tahu ya? Kalau sebelum menikahimu, Papa dikelilingi banyak wanita yang tentu saja hanya mengejar hartanya.” Mendengar itu, Kalila hanya terdiam. Lebih tepatnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Gosipnya sudah sampai ke seluruh penjuru lingkungan. Di rumah, di kantor dan juga di sini.” Sekali lagi, Kalila memilih untuk tidak merespon. “Ternyata kamu memang tidak peduli,” cetus Rangga. “Itu sudah masa lalu, Rangga. Semua orang punya masa lalu.” “Oh ya? Lalu masa lalumu seperti apa?” Rangga menaikkan sebelah alisnya. Menyadari bahwa pembicaraan menjadi sedikit menarik. Kalila mengerjap sesaat. “Tidak ada yang spesial dan tidak terlalu penting juga untuk diceritakan.” Rangga mengulas senyum miring. “Jangan-jangan kamu sudah pernah menikah juga dengan pria berdompet tebal lain.” Sontak saja Kalila mendelik dan kembali memberikan tatapan tajam pada remaja lelaki yang kini, suka atau tidak suka telah menjadi anak tirinya, meskipun usia mereka lebih cocok menjadi kakak adik. “Jangan keterlaluan, Rangga. Aku ini istri ayahmu, jangan lupakan itu.” “Kurasa kamu tidak mau menganggap dirimu sebagai ibu tiriku.” Kalila mendesah pelan. “Setidaknya bersikaplah sopan jika di sekolah. Atau aku akan melaporkan hal ini pada ayahmu.” “Sekarang sudah berani mengancamku.” Rangga mendengus kasar. “Sudahlah, kalau kamu masih mau disini dengan alasan istirahat. Terserah, tapi jangan ganggu pekerjaanku.” Kalila bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri ranjang UKS yang ditempati Rangga lalu menutup tirainya. “Kamu—” Pintu UKS tiba-tiba terbuka menginterupsi keduanya diikuti dengan seorang siswi berparas cantik itu seketika berhenti diambang pintu. “Rangga? Kamu ngapain ada disini?” tanyanya. Remaja itu tidak menjawab, ia hanya mendengus kasar dan bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar melewati gadis itu tanpa perlu meliriknya. Namun, langkahnya harus dihentikan karena gadis itu mencekal tangannya. “Aku dengar kamu ada di UKS, aku khawatir sama kamu.” “Bukan urusanmu,” jawab Rangga ketus sebelum akhirnya remaja itu melesat meninggalkan si gadis yang sudah mengerucutkan bibirnya. Sementara Kalila yang masih berdiri itu hanya bisa mengerjapkan mata menyaksikan interaksi dua orang remaja di depannya. *** Setelah kejadian hari itu, Kalila menjadi tahu bahwa ternyata Rangga mempunyai banyak penggemar di kalangan kaum hawa. Namun, sikapnya yang kelewat dingin itu memberikan tembok besar yang tak bisa ditembus. Namun, sepertinya tidak dengan gadis yang datang pada pagi hari itu. Yang terlihat secara terang-terangan bahwa ia menyukai Rangga. Kalila mendengar namanya dari obrolan para siswi jika berada di UKS atau di sudut sekolah lain jika ia tak sengaja mendengarnya. Termasuk hari ini, Rangga tidak datang ke ruang UKS yang kali ini dipenuhi dengan para siswi yang menemani temannya terbaring lemah karena nyeri perut khas pramenstruasi pada saat jam pelajaran olahraga. “Lo udah dengar belum kalau nanti akan ada counselor baru,” ujar salah satu siswi berambut panjang dari balik tirai. “Iya. Kata Bu Hanifah juga bilang begitu. Jadi sekarang counselor akan ditambah. Katanya gurunya laki-laki ya?” ujar temannya. “Iya. Apa jangan-jangan kemarin yang sempat datang ketemu kepsek ya?” “Oh yang itu!” seru yang lain juga tampak membenarkan. “Yang ganteng itu ya?” Temannya yang lain tampak memberikan anggukan setuju diikuti dengan mata yang berbinar dan senyuman yang tersungging di bibir masing-masing. Kalila melihat itu semua dari tempatnya duduk di dekat pintu masuk pun juga tak kuasa ikut tersenyum. Hiburan masa sekolah, pikirnya. “Kalau nggak salah namanya Pak Shaka ya?” Namun senyuman itu perlahan hilang setelah mendengar celetukan dari salah satu siswi yang menyebutkan nama guru baru yang akan hadir. Shaka, sebutnya lirih. Tangannya yang sedari tadi memegang bolpoin pun seketika terlepas dari genggamannya. Pikirannya mulai berkelana jauh dari raganya. Nggak mungkin lah, pasti beda orang. Kalila menggelengkan kepalanya keras. Menepis semua hal yang sedang berlarian di dalam benaknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD