Berminggu-minggu kemudian, Irsyad pun akhirnya kembali dari perjalanannya ke luar kota yang ternyata molor selama beberapa hari.
Selama itu juga Kalila harus menghadapi ibu mertua yang ketus dan sikap Rangga yang sering kali membuatnya senewen. Seorang diri.
Anak lelaki itu semakin memperlihatkan perang yang terjadi diantaranya. Mulai dari terang-terangan tidak masuk sekolah atau kelayapan hingga larut malam yang hampir membuatnya tak bisa tidur.
Menjelang siang ketika sehabis dari kamar Lidya untuk membawakan obat, ia mendapati Rangga tengah duduk di meja makan mengenakan pakaian rumah.
“Rangga! Bukannya ini minggu ujian? Kenapa kamu masih disini?”
“Malas,” ujarnya santai. Tangannya meraih satu lembar roti sandwich dan memasukkan ke dalam mulut. Wajahnya tampak sembab seperti orang yang belum tidur semalaman.
Kalila mendesah pelan. “Kamu sudah tidak masuk berhari-hari, pihak sekolah pasti akan segera menghubungi ayahmu. Dan aku tidak bisa membantumu.”
“Siapa bilang aku butuh bantuanmu?”
“Seenggaknya kamu harus datang pada saat ujian. Ini akan menentukan nilai kamu.”
Kalila diberitahu bahwa Rangga sebenarnya adalah pria yang cerdas, dia tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mempelajari sesuatu. Hanya saja keunggulannya tertutupi oleh sikap nakal yang sekarang menjadi julukannya di sekolah.
Rangga terdiam sesaat. “Kudengar kamu adalah perawat. Cukup berpendidikan untuk menjadi seorang istri muda yang hanya mengincar harta dari pria tua?”
Dia mulai lagi, kata Kalila dari dalam hatinya.
“Kamu bahkan tidak khawatir saat suamimu tidak pulang berminggu-minggu?”
“Ayahmu itu pergi untuk bekerja dan dia selalu mengabariku. Jadi buat apa aku khawatir?” jawabnya tidak sepenuhnya berbohong.
Irsyad memang tidak setiap hari menghubunginya, ada kalanya dia menelepon Kalila hanya untuk memastikan bahwa kondisi Lidya yang aman terkendali dan memaklumi sikap Rangga yang sering membolos.
“Biasanya pengantin baru pasti mau selalu bersama kan?” Rangga kemudian bangkit dan beringsut mendekat.
Kalila memasang sikap siaga.
“Apa kamu merasa rindu dengan suamimu? Atau kalian … belum pernah bersentuhan?”
“Kamu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Rangga. Jadi sebaiknya jaga sikapmu.”
Rangga menyeringai. “Apa kamu tidak merasa kesepian? Kamu masih muda, seharusnya bisa mendapatkan pria yang lebih pantas untuk usiamu. Bukannya malah menggoda pria tua kaya raya.”
Tangannya yang terkepal itu sudah siap akan menampar Rangga, namun tepat beberapa senti telapak tangannya menyentuh pipi Rangga, ia mengurungkan niatnya.
“Kenapa? Apa yang aku katakan benar, bukan?”
Kalila memberikan tatapan tajam. “Semoga kamu menyesali setiap perkataanmu.”
***
Apa yang ditakutkan Kalila pun akhirnya terjadi. Bertepatan dengan pulangnya Irsyad, sebuah surat panggilan dari sekolah Rangga yang menyatakan ketidaksanggupannya dalam menghadapi akumulasi tingkahnya.
Tak ada yang berbicara dalam suasana hening dan menegangkan pada malam hari itu.
Irsyad Affandi selama beberapa saat hanya menatap anak semata wayangnya yang duduk di samping tampak tak terpengaruh dengan suasana malam itu.
Sementara Kalila duduk diantara ayah dan anak. Kepalanya tertunduk dalam tak bersuara. Masih teringat bagaimana pertengkarannya dengan Rangga beberapa hari yang lalu.
“Jadi Papa harus datang ke sekolah kamu dengan permasalahan yang sama lagi?” Sang Ayah membuka suara.
“Aku sudah bilang begitu tadi,” jawab anak lelakinya sembari mengangkat kedua bahunya.
“Bukannya kita sudah sepakat kalau Papa nggak mau melihat kamu buat onar lagi di sekolah? Tawuran? Balapan liar? Dan sekarang menolak ikut ujian?” Pria itu memijat pelipisnya.
“Aku nggak pernah sepakat.”
“Jangan pura-pura lupa kejadian yang bisa langsung mengambil nyawamu, Rangga.”
“Mungkin seharusnya dulu aku mati saja biar bisa langsung ketemu Mama,” cetus Rangga menatap sinis ayahnya yang kini telah menatapnya tajam.
Hening. Tak ada yang bicara. Kedua mata itu saling bertemu bukan dengan tatapan hangat tapi saling menusuk.
“Jaga mulutmu,” desis Irsyad.
“Kalau aku mati toh Papa juga nggak akan merasa kehilangan.”
“Rangga, hentikan.”
“Papa masih bisa hidup dengan istri baru Papa. Punya anak lagi yang bisa Papa atur sesukanya.” Rangga terus nyerocos. Matanya melirik tak sudi ke arah tempat seorang wanita muda yang duduk di samping ayahnya dan mendecih tak suka.
Kalila menahan napas dan mengerjap. Tak tahu harus bersikap seperti apa.
“Rangga! Hentikan ucapanmu sekarang juga. Apa Papa pernah mengajarimu berkata kurang ajar seperti itu?” Irsyad tak lagi bersikap tenang seperti sebelumnya.
Namun, bukannya berhenti, Rangga tampak tak terpengaruh dengan bentakan ayahnya.
“Mengajari?” dengusnya semakin sinis. “Sejak kapan Papa mengajariku? Papa hanya sibuk bekerja sampai mengabaikan Mama disaat kritisnya. Lalu sekarang menikahi wanita muda?”
Irsyad tak lagi bersuara melainkan menggebrak tangannya di atas meja makan. Baik Rangga maupun Kalila sama-sama terlonjak kaget mata mereka sempat bertemu sebelum akhirnya sama-sama berpaling.
Sedetik kemudian, pria itu bangkit. Tak lama kemudian disusul Rangga yang merasa tak sudi berada dalam satu meja dengan Kalila.
Kalila memasuki kamar tak lama kemudian, dan tak menemukan suaminya disana.
“Saat ini, dia pasti mengurung diri di ruang kerjanya,” pikir Kalila dan selama ini ia perhatikan jika Irsyad sudah mengurung di sana membutuhkan waktu yang lama.
Terlebih sebelumnya ada kejadian yang mungkin membuatnya marah.
Namun, Kalila bukannya ingin menyusul suaminya, ia malah melangkah menuju salah satu ranjang di sisi sebelah kanan dan kemudian terduduk lemas.
Disaat sendirian seperti inilah saat dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri, dimana ia tak harus berpura-pura di depan banyak orang. Baik itu di depan suaminya yang tidak ia cintai, di depan anak tirinya yang membencinya, di depan ibu mertua yang tak menganggapnya.
Kalila tak pernah diberikan pilihan dalam hidupnya.
Bahkan untuk sesaat kemudian ketika Irsyad memasuki kamar membuatnya terkejut.
“Kalila,” panggilnya tanpa ekspresi. “Katamu kamu ingin bekerja lagi kan?”
Masih dengan rasa terkejutnya Kalila mengangguk.
“Lusa kamu bisa mulai bekerja.”
“Benarkah? Saya boleh bekerja lagi?” Kalila pun tak kuasa mengembangkan senyumannya. Matanya berbinar melihat raut wajah suaminya.
Setelah sebulan ia dinikahi oleh Irsyad Affandi, ia diminta untuk berhenti bekerja. Selama itu pula lah ia merasa waktu berjalan sangat lambat terlebih ia harus berhadapan dengan Rangga yang selalu ketus.
“Sekolah Harapan Nusantara.”
Sekali lagi Kalila mengerjap. Keningnya berkerut dalam. “Itu bukannya sekolahnya Rangga?”
Di hadapannya, Irsyad mengangguk singkat.
“Kenapa?” tanya Kalila. “Kenapa harus disana?”
“Saya ingin kamu sambil memperhatikan Rangga selama di sekolah.”
“Tapi bahkan Rangga tak pernah masuk sekolah lagi belakangan ini.”
“Dia akan kembali datang bersekolah,” ujarnya yakin.
Kalila terdiam. Matanya menatap raut wajah pria itu yang terlihat sedang banyak pikiran. Tatapannya yang semula sendu itu kini semakin memprihatinkan.
Dalam hati ia bisa merasakan, bahwa meskipun Irsyad tampak seperti seorang ayah yang cuek tapi jauh dari dalam lubuk hatinya ingin memperbaiki hubungan mereka yang telah lama renggang.
***