Bab 3: Genderang Perang

842 Words
Waktu terus bergulir dan Kalila berusaha menjalankan perannya seperti yang sudah disepakati. Irsyad pun menepati janjinya, setelah ia dikenalkan dengan ibunya yang mengalami kelumpuhan parsial dan tentu saja tak menerima dengan sukacita tentang kehadirannya. Ia juga harus berhadapan dengan anak tiri yang sering kali membuatnya hampir ingin menangis hanya dari tatapan sinis. Namun ia harus ingat bahwa Irsyad pernah mengatakan meskipun Rangga bersikap menyenangkan, pria itu memintanya untuk memperhatikan remaja lelaki itu. Tentu saja, Kalila tak punya pilihan. Pagi itu, Kalila melakukan pengecekan awal untuk menemui ibu mertuanya, Lidya di dalam kamarnya sembari membawakan nampan berisi makanan. “Sarapannya, Bu.” Kalila berkata seraya melangkah mendekati wanita bertubuh kurus itu yang hanya bisa berbaring di atas ranjang. Lidya hanya mendengus kasar begitu melihat kehadirannya. “Mau makan sekarang sarapannya, Bu?” Kalila membantu membangunkan tubuh mertuanya dan menyandarkannya di kepala ranjang. Kemudian ia mengambil meja lipat untuk ditaruh diantara paha Lidya untuk menaruh nampan beserta makanannya. “Kamu tidak menaruh racun di dalam sop ini kan?” tanya Lidya membuka suara. Kalila mendesah pelan. “Mana mungkin aku begitu sama Ibu? Mbok Asih yang nyiapin makanan.” Namun, tatapan Lidya memancarkan ketidakpercayaan. “Bisa aja kamu menaruh sesuatu saat nganterin kesini?” “Tidak ada apa-apa di dalam sop ini.” “Coba kamu makan dulu, saya mau lihat.” Kalila menurut. Ia mengambil sendok dan memberikan satu sendok kuah sop ayam ke dalam mulutnya. Mengunyah perlahan lalu menelannya. “Apa minumnya juga mau dicicipi dulu?” tanyanya lagi. Tidak berniat sinis. “Tidak usah.” “Ya udah, kalau butuh apa-apa, panggil aja ya, Bu. Aku ada di depan.” Lidya hanya bergumam tak jelas sembari menyuapkan sendok sop ayam ke dalam mulutnya dan melambaikan tangan sebagai tanda mengusir dirinya. Melihat itu, Kalila sudah terbiasa dengan sikap ketus dari ibu mertuanya yang secara terang-terangan menuduhnya menikahi anaknya bukan karena cinta tapi karena ada sesuatu. Yang mana hal itu tak dapat Kalila bantah. Meski tuduhannya tak sepenuhnya benar. Setelah resign dan harus mengikuti suaminya, Kalila tak punya banyak kegiatan. Dari yang biasanya dia selalu disibukkan dengan pekerjaan yang menyita waktu, kali ini dia banyak terdiam. Sesekali matanya menyusuri penjuru rumah yang luas dan mewah namun terasa asing dan dingin baginya. Ia tak benar-benar diterima disini. Dulu, Kalila pernah punya impian untuk pergi keluar dari rumah Budhe dan Padhe-nya jika ia sudah punya cukup uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia memang telah resmi meninggalkan rumah satu-satunya keluarga yang mau menampungnya pasca kedua orangtuanya meninggal. Namun, bukan dengan cara seperti ini. Tanpa disadarinya, Kalila mengepalkan tangan di atas counter dapur. Sebelah tangannya masih mengaduk kopi panas untuknya. “Bagaimana rasanya?” Kalila tersentak dengan suara yang muncul dari belakangnya. Ia sontak berbalik badan dan mendapati Rangga sudah berada disana. Berdiri dengan menyilangkan tangan di depan dadanya. “Rangga? Kenapa kamu ada disini?” “Bagaimana rasanya menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua?” Bukannya menjawab, Rangga malah bertanya balik. “Seharusnya kamu sudah berada di sekolah. Jam berapa ini?” Kalila tak menjawab. Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari jam dinding tapi tak menemukannya. “Aku tak berniat datang ke sekolah hari ini.” “Membolos lagi?” Kalila mendesah pelan. “Apa pedulimu aku membolos atau tidak.” “Tentu saja aku peduli. Kamu tuh sudah tinggal sekolah tanpa mikirin biaya tapi malah membolos. Apa yang harus aku katakan pada ayahmu nanti?” Benaknya sudah mulai berpikir keras mengenai laporan yang harus ia sampaikan kepada ayahnya Rangga ketika ia sudah kembali dari luar kota. Yang ia yakini pasti pria itu akan dikut senewen melihat kelakuan Rangga yang tak menunjukkan perubahan. “Kamu belum jawab pertanyaanku,” tukas Rangga. Kalila mengerjap acuh. “Pertanyaan itu tak perlu dijawab. Sekarang pergilah, masih ada waktu untuk mata pelajaran selanjutnya.” Rangga mendengus kasar. “Kamu pikir, kamu sudah bisa bersikap seperti nyonya di rumah ini?” “Menurutmu bagaimana?” Pria itu mengambil langkah besar mendekatinya. Kalila masih bergeming. “Kamu pikir dengan kamu sudah menikah dengan ayahku bisa langsung membuatmu bersikap seperti ibuku?” “Aku tak pernah bilang menjadi pengganti ibumu.” Pertanyaannya sontak membuat darah Rangga mendidih. Mata pria itu terbelalak, wajahnya perlahan menjadi merah padam dan rahangnya terkatup rapat hingga mengeluarkan bunyi gemeretak yang sedikit menyeramkan. “Tentu tidak. Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi ibuku sedangkan usia kita saja tak jauh beda.” Rangga menyeringai dan melangkah maju. “Padahal kamu bisa mendapatkan pria yang seumuran. Contohnya denganku.” Kalila menatap Rangga dengan nanar. Tangannya terkepal. “Aku memang sudah menikah dengan ayahmu. Dan aku ingatkan kita tidak seumuran, Rangga. Aku setidaknya delapan tahun lebih tua darimu. Jadi sudah sepatutnya kamu bersikap sopan sama yang lebih tua, bukan?” Rangga berdecih dan memberikan tatapan nyalang kepadanya. “Ternyata uang sudah bisa membuat nyali sebesar ini.” Kalila terdiam. Tak membenarkan maupun tak mengelak. “Kita lihat saja sampai mana kamu akan bertahan,” ucapnya kemudian seraya berbalik meninggalkannya. Detik itu juga Kalila merasakan lututnya lemas. Ia meyakini dalam hati bahwa apa yang ia lakukan sudah benar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD