CHAPTER 2

1221 Words
Kyle James Bluewhite. Cowok jangkung, putih pucat, dan blasteran juga sering bermain bareng Keana semasa kecil. Mereka itu teman main bareng anak-anak yang lainnya dulu. Keana kecil sering nempelin Kyle lantaran rumah mereka juga paling dekat. Tapi, Kyle kecil dulu suka kasih panggilan aneh-aneh ke Keana seperti; ‘Heh, ceking’, ‘apaansi nyet’, ‘woi kelereng!’, ‘begeng main yok!’, dan lebih parahnya lagi, ‘jangan deket-deket lo sama gue, jijik!’. Sebenarnya ada yang lebih parah lagi dari itu, tapi Keana nggak mau ingat-ingat berbagai macam panggilan yang selalu bikin sakit hati, bahkan nangis. Dulu, Keana akui dia pernah demen sama Kyle karena dia cowok paling cakep di antara yang lain. Tapi pas dia ikut-ikutan Brian yang duluan ngatain Keana, nggak jadi demen. Dari situ Keana mulai nggak suka sama Kyle karena cowok itu yang paling sering ngatain. Dulu, anak satu perumahan itu ada sekitar 20 orang yang umurnya sepantaran. Kalau sore tiba, suka keluar buat jalan-jalan doang. Malamnya mereka main petak umpet, tak jongkok, polisi-maling, lempar sendal, sama SOS, dan permainan tradisional lainnya di masa itu. Apalagi kalau bulan ramadhan tiba, sehabis sholat subuh, suka main petasan di belakang perumahan yang masih jadi tanah merah. Di sana, dijadiin tempat main sampai jam tujuh pagi. Dan, dulu yang selalu nyamper buat main itu selalu Kyle. Dia kadang suka teriak, “KEKET MAIN YOK! Di depan rumah Keana dan mama Keana masih belum sadar siapa keket. Pas disamperin, Kyle nyengir tak berdosa, “Mamanya Ana, Ananya boleh main, nggak?” “Oh, boleh! Tunggu sebentar, ya, Kyle.” Kyle mengangguk dengan tampang sok polosnya selagi tunggu Keana keluar. Sementara Keana sendiri sudah tahu dan ngumpet dibalik gorden dekat pintu utama. Rasanya Keana mau cabik-cabik cowok itu tapi apalah dayanya dia hanyalah seorang gadis kecil, lemah, dan yang sering dijadiin objek guyonan kawan-kawannya dulu. “Ayok maen,” kata Kyle saat melihat Keana yang akhirnya keluar juga dari persembunyiannya. Kyle jalan duluan, Keana di belakangnya. Mereka jalan menuju lapangan basket tempat berkumpulnya anak-anak lainnya saat itu. Kalau kalian tanya, kenapa Kai yang samper? Ya karena rumahnya paling dekat. “Buruan napa, Ket!” Kyle mendengus saat menoleh, lihat Keana yang jalannya lama banget dari dia. “Iya sih, sabar,” balas Keana bikin Kyle ketawa ngeledek. Keana kalau nggak lemah, pasti sudah jambak rambutnya Kyle saat itu juga. Ada lagi keisengan lainnya saat kecil. Seperti saat mereka ngaji, sendal Keana suka diumpetin sampai-sampai hampir seminggu dia beli sendal empat kali, main petak umpet dan giliran Keana yang jaga Kyle malah ngajak temen-temennya buat ke rumahnya makan, bukannya ngumpet sampai Keana keliling komplek hampir maghrib. Sendirian. Itu paling keterlaluan sih sampai akhirnya Keana nyerah, dan pulang dia malah ngelihat temen-temennya yang harusnya ngumpet keluar dari rumah Kyle, Keana mau nangis saat itu juga. Saat Keana mulai kelas 4 SD, dia sudah jarang main karena harus les sampai pukul delapan malam. Pulang sekolah langsung siap-siap buat berangkat les dan pulang malam, baru tidur. Membuatnya jadi jarang bertemu dengan teman-temannya. Berlangsung sampai liburan masuk SMP, Keana mendengar kabar dari mamanya kalau Kyle mau pindah ke Inggris bareng ayahnya. Tapi, saat Keana ke rumah Kyle, ibunya bilang kalau Kyle sudah pergi kemarin malam. Teman-teman yang lainnya sudah pamitan sama Kyle sebelum pergi, samapi pada nginep di rumahnya. Hanya Keana saja yang tidak ada malam itu. Membuat Keana kesal dan menangis sebab hanya dirinya saja yang tidak diberi tahu tentang kepergian Kyle. Keana pun sadar saat itu dia menangis, tapi dia lebih tak mengerti dengan dirinya sendiri penyebabnya karena apa. Seharusnya dia senang karena cowok yang selalu mengganggunya pergi, malah menangis. Maka, mama Kyle mengajak Keana untuk ke kamar Kyle sementara ia mengambil minuman dan cemilan untuknya. Keana terduduk di bangku belajar Kyle, menemukan selembar kertas yang membuat Keana penasaran dengan tulisan Kyle. Keket, maaf, ya? Hehehe. Keningnya mengernyit membaca empat kata dalam satu kalimat yang membuatnya bertanya-tanya kenapa ada nama panggilan dari Kyle di sana. “Itu surat buat kamu.” Keana mendongak menyadari kehadiran mama Kyle dengan nampan berisi cemilan dan minuman. Mama Kyle tersenyum lembut sambil mengambil kertas tersebut. “Sebelum pergi, dia mau minta maaf karena udah ngatain kamu macem-macem. Tapi sayangnya gengsi sih.” Keana tetap diam dalam keheranan sambil menatap mama Kyle yang duduk di kasur Kyle, gadis itu pun ikut duduk di sebelahnya. “Saat temennya pada tidur, dia doang yang belum dan manggil aku terus cerita kalau dia selalu bikin kamu nangis. Kyle mau minta maaf, t*i dia malu sama gengsi. Gak berani ngomong langsung. Aku bilang aja bikin surat buat kamu dan langsung dibikin. Sayangnya, dia gak berani lanjutin.” Keana mendengarkan sambil tiduran bareng mama Kyle. “Tapi kenapa aku nggak dikasih tahu sama sekali?” tanyanya. “Dia takut bilang ke kamu. Takut makin nangis, katanya.” “Penakut,” sahut si gadis. Mama Kyle setuju. “Memang.” “Kyle di sana berapa lama?” Mama Kyle bergidik kecil. “Entahlah.” Dan seharian itu, Keana diceritain semuanya tentang Kyle yang akan pindah dan nangis selama dua hari. Keana tertawa geli mendengarnya sambil membayangkan cowok itu yang merajuk. Cowok yang selalu membuatnya menangis ternyata bisa nangis juga karena disuruh pindah. Membuatnya tanpa sadar tertidur di kamar Kyle lantaran terlalu mengasyikkan sambil memeluk guling Kyle. ** “Ha-hai?” Keana menggigit bibir bawahnya ketika pesanannya tiba dan yang nganterin itu Kai. Segelas cappucino dingin tersaji di mejanya, cowok bernama Kyle itu terdiam sejenak. “Hai,” sapanya balik, datar. Tangan gadis itu terkepal di bawah meja, meremas hoodie-nya mendengar nada monoton tersebut dari Kyle. Mendongak, kalimat selanjutnya yang hendak keluar menjadi tertahan diujung lidah saat melihat Kyle sudah berbalik menuju bar dan membuat pesanan selanjutnya. Keana menggigit pipi dalamnya. Merasa bodoh karena sudah dikacangin sama Kyle. Bodohnya lagi, kenapa dia harus menyapa duluan sementara balasan yang didapat hanyalah nada datar? Keana menggeram sambil menutupi seluruh wajahnya. Bodoh, rutuknya. Keana sedikit membuka sela jarinya dan mengintip sosok Kyle dibalik meja bar. Memerhatikan raut seriusnya saat meracik kopi, penampilan cowok itu berbeda banget. Tubuh gembulnya dulu sudah tergantikan dengan sekarang kurusan. Kulitnya masih tetap terlihat pucat, bibirnya merona, dan rambut panjang sebahu yang sengaja dia ikat model sloppy bun. Menyisakan beberapa helai rambut tipis terjuntai manis di sisi wajahnya. Dia... mempesona. Dan Keana sadar kalau dirinya mengagumi cowok berkulit pucat itu. Jujur saja, dia ingin lebih banyak mengobrol dengan Kyle dan mempertanyakan sendiri kenapa Kyle tidak mengatakan langsung kepadanya, meskipun dia sudah tahu alasannya dari mama Kyle. Berdiri dari duduknya, kedua tungkainya mengayun menuju kasir dimana terdapat Kai seorang di sana. Kepala cowok itu terangkat dan menatap datar Keana yang susah payah menahan suara anehnya di depan Kyle. “Mau pesan apa?” Kyle menatap datar Keana yang memijit jarinya dibalik kantung hoodie-nya. “A-americano panas satu.” Keana mengutuk dalam hati mengetahui suaranya yang kentara sekali sedang gugup. Kyle melirik dibalik punggung Keana, menemukan segelas cappucino masih terisi penuh. Ia memandang Keana lagi yang menggigit bibir bawahnya. “Minum sini?” Terdapat jeda dalam beberapa detik sebelum Keana tersentak kecil. “Dibungkus aja.” “Oke,” Kyle mengangguk-angguk dan menyebutkan nominal yang harus dibayar Keana. Gadis itu kembali ke tempat duduknya, menepuk dahinya begitu ia tidak bisa membuka percakapan dengan Kyle yang membuatkan pesanan untuknya. Nyalinya masih saja ciut jika dihadapkan dengan Kyle, apalagi mendengar suaranya tadi. Ugh, Keana mau tenggelam di sungai saja sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD