Aroma kopi, suara gilingan biji kopi sebelum keluar menjadi bubuk halus menjadi khas di setiap kafe. Keana sangat menyukai bau kopi sampai ia membeli pewangi kamarnya rasa kopi di toko online.
Menyesap gelas cappucino-nya, matanya tak lepas dari sosok Kyle yang masih dibalik meja bar. Sedikit lagi cowok itu akan ke mejanya. Memberi pesanan mamanya dan Keana masih berdebat dengan dirinya sendiri. Suara langkah kaki mendekat ke mejanya, Keana pun tersadar dan tersentak saat melihat gelas kertas americano di mejanya.
“Kyle.” Keana berhasil bersuara saat cowok itu hendak kembali ke meja bar.
Kyle berbalik, sebelah alisnya menukik, menunggu ucapan Keana. Tetapi, gadis itu hanya diam saja sambil menatap wajah Kyle yang datar itu. Rasanya mereka kayak lagi tatap-tatapan selama beberapa menit sehingga suara cowok itu menyapa pendengarannya.
“Kenapa?” tanya Kyle begitu Keana hanya diam saja. “Ada masalah sama kopinya?”
“Enggak!” Keana tanpa sadar sedikit menaikkan suaranya. Ia menggeleng, “Itu....” suaranya mendadak hilang layaknya ditelan ombak kegugupan. Air keringat mulai meluncur dari dahinya. Duh, kenapa jadi makin gugup gini?
“Terus?” Kyle mendekat. Rautnya terlihat sangat tidak sabaran, “Buru, banyak pelanggan nih.”
Mendongak, iris cokelat kemerahan cowok itu tepat menatap iris hazel Keana. Ia mendesah pelan, “Nanti aja kalo lo udah nggak sibuk,” katanya pelan, “Sori.”
“Hm.” Kyle mengangguk singkat dan balik lagi ke meja bar. Meninggalkan Keana yang memukul pelan dahinya beberapa kali.
Keana jadi sangat-amat menyesal berkata demikian. Itu artinya, Kyle bakalan ke mejanya lagi kalau waktunya senggang dan masalahnya... dia bakalan ngobrolin apaan?
Masa kecil mereka? Keana terkekeh pelan. Udah tahu masa lalunya itu dibilang kelam banget. Hampir setiap hari diledekin mulu, mana julukannya selalu gonta-ganti dan aneh-aneh.
Bahas kenapa dia pindah ke Inggris? Tapi, bakalan terdengar aneh tiba-tiba Keana bertanya topik itu sedangkan mereka saja nggak deket banget, kecuali masalah ledek-meledek.
Keana mendengus pelan. Bingung hendak topik apa yang akan diobrolin nanti. Menopang dagu, Keana melirik Kyle lagi yang sedang mengobrol dengan pelanggannya yang duduk di bangku bar sementara dia terus meracik kopi. Si barista satu itu membuat Keana kebingungan.
Keana jadi berandai-andai kalau ia bisa seperti mereka. Mengobrol santai tanpa mikirin gendernya sendiri. Hanya saja, Keana memang sulit membuka percakapan kalau sama orang yang tidak dekat dengannya.
Entah kenapa, Keana jadi kangen dengan Kyle yang dulu daripada sekarang. Dulu, walaupun nyebelin bin ngeselin, dia masih keliatan ceria. Sedangkan yang sekarang, lebih pendiam dan selalu tak berekspresi. Kadang Keana susah bedain lantai sama muka.
Di Inggris, Kyle baik-baik saja, ‘kan?
Mata gadis itu mengerjap cepat kala Kyle selesai membuat kopi untuk pelanggan terakhir dan sekarang terlihat sedang senggang. Kyle melirik Keana sekilas dan mengobrol sebentar sama Satria, sebelum mendekati mejanya.
Debaran cepat jantungnya semakin tidak karuan.
“Kenapa?” suara decitan kursi tepat berada di depan Keana yang mengalihkan atensinya. Tangannya terlipat di atas meja dan tatapannya lurus memandang Keana.
Gadis itu mengontrol napasnya lalu mendesah pelan, Keana sedikit mencari posisi duduk ternyaman. Mencoba tersenyum tipis, malah dibalas dengan kedua alis yang terangkat.
Oke, cukup gugupnya Keana.
“Lo apa kabar?”
Gadis kecil di dalam tubuh Keana banting vas bunga. Bukan itu yang ingin Keana ucapkan!
Kyle sedikit mengernyit. Sumpah ini random banget. Keana mau pulang sekarang!
“Baik. Lo sendiri?” Kai bertanya hal yang serupa. Keana menghela napas, setidaknya cowok itu menjawab pertanyaannya dan bukan yang aneh-aneh.
“Kayak yang lo liat sekarang,” balas si gadis, tersenyum tipis. “Lo balik dari Inggris makin tinggi aja, ya? Hampir sama kayak tiang basket.”
Kyle tertawa pelan. DIA TERTAWA PELAN! Keana mengeratkan remasannya di bawah meja. “Dan lo, kenapa makin pendek? Udah nggak bisa tumbuh lagi ya tulangnya?”
BINGO!
Keana tanpa sadar mendesis sebal, tak lupa dengan delikan tajamnya yang bikin dia tersenyum miring. “Emang kenapa? Wajah kali cewek pendek.”
“Olahraga makanya.”
“Udah, kok!”
Cowok itu sedikit memiringkan kepalnya. Masih dengan senyum menyebalkannya itu. “Apa? Olahraga tiduran tengkurep?”
“Kok nyebelin sih?”
“Tapi kangen, ‘kan?” senyum cowok itu semakin lebar dengan kedua alis naik turun. Lupakan pemikiran Keana yang terlihat pendiam. Sifat nyebelinnya masih ada ternyata. “Bilang aja lo mau ngobrol sama gue kalau lo kangen. Oh, apa lo kangen diledekin sama gue? Apa ya julukan lo dulu? Keket bukan, sih?” jari telunjuknya mengetuk dagu pelan. Begitu ia melirik Keana, senyumnya terulas. “Ah iya, panggilan sayang gue kan keket.”
Keana melotot sudah. “Apaan?! Sayang? Ih, ogah!”
“Diih, jangan menampik gitu. Seneng kan lo dipanggil sayang? Gue tau kok lo walaupun gue katain, lo naksir gue. Iya, keket, gue tau.”
“Nggak yaa! Jangan sok tau. Ngapain juga gue demen sama lo? Mending sama bang Satria aja daripada sama lo,” kesalnya dan menunjuk Satria di meja yang paling ujung bersama teman masa kecil yang lainnya.
Kyle melirik sebentar dan sebelum menatap Keana dengan raut datar. “Lo mau jadi pelakor? Dia udah punya pacar kali.”
“Ya nggak mau lah!”
“Terus kenapa Satria?”
“Karena dia cowok yang gue kenal.”
“Di sana kan ada Yofan, Brian, Satria, bang Jeka, sama bang Yohan. Lo kenal mereka juga.”
Mulut Keana terbuka. Tak bisa berkata apa-apa lagi. “Terserah gue doang, kenapa lo yang sewot?”
Kyle jadi tergelak mendengarnya. Melipat tangan di d**a, ia bersandar dan mendengus pelan. Melihat Keana yang sekarang ini membuatnya terhibur. Sifatnya dulu yang mengalah, menurut, dan mudah nangis, kini hilang.
“Cieee, ada yang udah bisa ngelawan nih?”
Keana merotasikan matanya. “Gue harus patuh apa sama omongan lo?”
“Padahal gue kangen sama Keket yang dulu. Pendiam dan nurut kalau gue ledekin,” racaunya sambil memegang d**a kirinya sambil meremas pelan. Mendramatisir. “Sakit, ya?”
“Apaan?”
“Gak kok, bukan apa-apa.” Kyle merubah posisi duduknya. Menopang dagu, ia sedikit menelengkan kepala dan mengulas senyum tipis. “Lo sama sekali gak berubah, ya?”
“...hah?”
Kyle mengerjap pelan. Berdirinya dia yang tiba-tiba membuat gue mendongak dan terkejut kemudian saat tepukan pelan menyentuh kepala gue dan, “Kita bisa ‘kan mulai dari awal lagi, Ket?”
Keana terdiam. Syok. Mendengar kalimat yang entah harus Keana ambil itu sebagai pertanyaan atau pernyataan. Sosok Kyle yang datar kembali lagi begitu ia berada di balik meja bar sebelum duduk di salah satu meja yang terdapat beberapa teman kecilnya juga.
Keana memandang gelas cappucino-nya yang sudah habis. Pun, ia mengusap wajahnya pelan
“Yang tadi itu apa?”