Tak!
Tak!
Tak!
Keana mendengus kesal melihat tidak ada kehidupan di seberang kamarnya itu yang masih terlihat gelap. Sudah tiga kali dia melempar batu kerikil ke kamar Andin yang tepat di sebelah kamarnya—rumah mereka berseberangan.
“DIN!” teriak Keana tertahan karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dia tidak mau mengganggu banget.
Mendengus sambil bersandar pagar balkonnya, Keana berdecak melihat ponselnya yang masih di-charge.
“Andiinnnn!!!”
Ceklek
Senyum Keana terbit kala itu juga melihat pintu di seberang sana akhirnya terbuka dan menampilkan sesosok gadis dengan rambut acak-acakan tengah mengusap matanya.
“Apasi, Naa??” Andin merosot ke lantai. Kepalanya bersandar ke pagar balkon dan menatap ngantuk ke arah Keana yang duduk menyilang. “Apa? Lo mau curhat apa?”
“Hehe...” Keana menunjukkan cengirannya, “Gue ketemu Kyle tadi.”
“Oh, Kyle,” Andin mengangguk-angguk sambil menguap. Namun, begitu sadar satu nama yang sudah tak lama terdengar itu membuat Andin melebarkan matanya dan duduk tegap memandang Keana yang tersenyum-senyum, “Kyle? Yang bule itu?”
Keana mengangguk. “Iya, Kyle yang bule itu. lo tau nggak, sih, katanya dia udah di sini setahun masa.”
Andin menggaruk asal rambutnya. Bibirnya sedikit mencuat, “Kok gue nggak tau, ya?
Temannya itu bergidik pelan. “Mana saya tahu, bunda? Gue tadi juga sempet ngobrol sama mamanya,” katanya sambil menekuk kaki dan dipeluknya, lalu mengalirlah cerita Keana selama bertemu dengan mamanya Kyle dan Kyle sendiri. Dari A-Z nggak ada yang dilewatin. Mulai dari ia masuk ke dalam kafe, bertemu dengan Kyle, bersapa singkat dengan si pemilik kafe alias Satria.
Andin yang sedari tadi menyimak juga terlihat sangat antusias, bahkan rasa kantuknya mendadak hilang.
“Maksudnya apa coba bilang ‘can we start again?’” Keana sampai mendengus sambil mendongak. Menatap gelapnya malam yang ditemani kerlap-kerlip bintang.
Pikirannya masih tertuju ke sosok lelaki bernama Kyle itu. Memutar otak demi mencari makna yang pria itu ucapkan.
“Kangen kali sama lo,” ucap Andin sukes membuat Keana terkesiap dan memandangnya tidak percaya. “Tapi gengsi. Lo inget ‘kan dulu dia mau minta maaf tapi lewat surat? Nah, dari situ udah ketebak dia gengsi banget.”
Keana jadi merotasikan matanya. Tidak percaya apa yang Andin ucap. Sangat tidak masuk akal. Beneran. Apa maksud Andin cuman mau bikin Keana senang doang? Tapi, buat apa? Rasa sukanya dulu sudah hilang dan dia sadar itu hanyalah cinta monyet yang bahkan entah dirinya sendiri paham atau tidak pada fase itu.
“Males, ah, gue kalo lo gitu, Din.” Hanya itu yang bisa Keana balas. Tidak tahu lagi apa yang ingin dibalasnya. Di satu sisi, jauh di dalam hatinya Keana ingin mengiyakan ucapan Andin sebelumnya, tapi Keana tidak boleh mengakuinya.
“Ya terus? Yang gue tangkep dari cerita lo tuh ya itu, Na! Bayangin aja masa ada cowok yang hampir tujuh tahun nggak ketemu terus pas ketemu megang rambut lo? Wajar nggak? Harusnya ‘kan pasti ada rasa canggung banget di antara kalian. Kecuali, ya itu tadi. Salah satu di antara kalian emang beneran kangen.”
Keana kali ini sukses diam. Mulutnya tertutup rapat dengan wajah kakunya. Mendengar ucapan Andin, sepenuhnya benar. Mereka baru bertemu lagi setelah tujuh tahun lamanya dan lelaki itu sudah melakukan kontak fisik padanya yang bahkan untuk menatap wajahnya saja tidak berani. Padahal, dulu saja jika Keana dan Kyle bertemu, pasti hanya diisi dengan saling mengatai dan menjahilinya tiap waktu. Namun kini? Sudah menyentuh rambutnya malahan.
Seorang Kyle James Bluewhite berubah menjadi lembut padanya?
Andin tersenyum lebar melihat diamnya Keana. Merasa puas apa yang diucapnya berhasil menyentil logikanya, ia mengacungkan ibu jarinya pada temannya yang mendengus sebal.
“Semangat!”
“Nggak mau mikirin!!!”
“HAHAHAHA!”
---
Bel masuk sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu, tapi beberapa murid masih berkeliaran di luar kelas. Ada yang di koridor, kantin, perpustakaan, bahkan ada yang sengaja pura-pura sakit agar bisa berbaring bebas di UKS. Kelas Keana sudah hampir semuanya dipenuhi oleh murid yang baru datang. Beruntung guru masih belum masuk ke kelas.
Begitu Keana menoleh ke samping kanan, pintu kelas bagian belakang terbuka, menampilkan sosok Yuna dengan cengiran lebarnya. Mengayunkan tungkainya pada meja Keana berada. Sedikit informasi, Yuna adalah teman satu-satunya yang cukup dekat dengan Keana. Walaupun tidak terlalu dekat banget, mereka masih sering berbagi cerita random. Apa saja. Terlebih tentang lelaki tampan yang akan Yuna ceritakan kali ini.
Gadis kurus itu duduk di kursi kosong depan meja Keana—si empunya beruntungnya belum masuk—dan menopang dagu menatap Keana yang bersandar menantikan ceritanya.
“Nemu siapa lagi?” tanya Keana saat Yuna selesai mengikat rambut panjangnya. Tangan kirinya yang membawa dua buah cokelat batang, ia berikan satunya pada Keana yang dengan senang hati menerima.
“Gue dinotis masa sama cowok yang gue ceritain waktu itu,” kata Yuna geregetan sambil menghentakkan kakinya. Senyumnya kian melebar mengingat semalam ia menonton live i********: lelaki kesukaannya.
Keana mendengus pelan, lalu menggigit kecil cokelat. “Cowok yang mana nih? Cogan kesukaan lu banyak, Na.”
“Ituuu, yang rambutnya panjang.”
“Yang lo stalking pake akun spam?”
Yuna mengangguk cepat bak anjing puddle. Mulutnya semakin tidak bisa diam. Terus mengucapkan kata demi kata yang mengungkapkan betapa senangnya ia pada malam itu. Padahal hanya dinotis di live i********: namun senangnya seperti mendapat undian—membuat Keana tersenyum menatap Yuna. Dia turut merasakan senang. Bagaimana pun juga, mendengar kisah orang yang sedang jatuh cinta itu begitu menarik baginya.
Gadis itu tiba-tiba berhenti bicara lantaran guru olahraga mereka sudah masuk ke kelas. Semua murid pun langsung duduk di kursinya masing-masing. Keana mulai duduk tegap memerhatikan guru muda sementara mereka yang begitu digemari banyak siswi-siswi di seluruh sekolah ini.
Bagaimana tidak, sudah memiliki wajah yang tampan, senyuman manis yang berhasil memikat siapapun, belum lagi postur tubuh yang menjadi idaman para hawa. Keana hanya menggeleng kepala ketika ia melirik Yuna yang sudah memandang guru olahraga mereka begitu kagum.
“Oke, anak-anak kalian langsung ganti baju olahraga, ya. Yang perempuan, saya kasih lima menit,” kata Ezra, nama guru olahraga muda tersebut sambil melirik arloji mahal di pergelangan tangannya.
Salah satu siswi mengangkat tangannya, mencuri atensi Ezra yang menukik kedua alisnya. “Sepuluh menit, Kak?”
“Oke. Lebih dari itu, saya anggap tidak masuk.”
Pun, semua murid perempuan bergegas ke ruangan ganti dekat lapangan indoor yang akan mereka pakai nanti. Tak sampai lima menit, Keana sudah beres ganti baju. Ia segera keluar dari ruang ganti dan menuju lapangan yang sudah ramai dengan anak laki-laki dan beberapa gadis. Keana segera berbaris di belakang ketua kelasnya.
Selesai pemanasan, sekarang giliran mengambil nilai untuk basket. Sementara Keana duduk di tribun tengah sambil melamun, hingga ia tidak sadar kalau ini sudah waktunya untuk mengambil nilai.
“KEANA!”
Gadis itu tersentak. Beberapa pasang mata tertuju ke arahnya membuat gadis yang diperhatikan itu meringis kecil—malu. Seseorang yang tak jauh dari Keana berada, tersenyum kecil.
Jason yang baru selesai mengambil nilai basketnya, melempar bola ke arah Keana yang langsung ditangkap. Gadis itu tidak begitu mahir dalam olahraga, namun ia masih dapat mengikuti apalagi ini untuk nilainya sendiri.
“Berapa menit, Pak?”
Ezra yang sedang melihat Stop watch langsung menatap Keana malas. “Pak lagi...”
“Eh, maaf. Berapa menit, Kak?”
“Satu menit, minimal 27 poin.”
Mata Keana sontak melebar. “Mana bisa?”
“Bisa. Jason aja tadi dapet 30 poin,” jawab Ezra sambil tersenyum.
“Ya tapi ‘kan dia cowok, Kak. Saya cewek—“
“30 apa 27?”
Keana langsung menghadap ring basket sambil misuh-misuh dalam hati. Lalu mulai ngeshoot ke ring basket namun hasil yang didapatnya hanya 15 poin. Gadis itu menghela panjang lalu memutar tubuhnya menghadap Ezra yang sudah menatapnya dengan pandangan “iba”.
“Tambah kompensasi, Kak,” kata Keana memohon setelah kasih bola ke Lala yang akan mengambil nilai selanjutnya.
Ezra seakan tuli mendengar permohonan Keana. Membuat gadis itu mengintip buku nilai yang agaknya menyesal setelah melihat nilainya paling rendah dari murid lainnya. Masalahnya, semua murid kelasnya ini sangat jago di bidang olahraga.
“Kak.”
Keana menarik ujung baju Ezra, buat lelaki itu menunduk menatapnya. Keana langsung mengerjap sok imut—harapnya gurunya itu akan luluh jika ia beri aegyo yang sejujurnya gadis itu merasa geli pada dirinya sendiri. Namun, sayang sekali. Tidak sesuai harapannya, Ezra hanya mendengus kecil sambil geleng-geleng kepala melihat muridnya ini yang berusaha untuk membujuknya agar nilainya dinaikkan.
Bahu Keana merosot drastis, begitupun kepalanya langsung menunduk sambil berjalan ke arah tribun ke tempat duduknya tadi. Rasa malu tersebar ke seluruh wajahnya yang jadi memerah. Tapi, sebelum Keana benar-benar pergi, guru muda olahraganya itu sudah memanggilnya, buat Keana menoleh dengan cepat sambil tersenyum lebar.
“Kamu bantuin Raka, ya, kumpulin bola terus simpan ke gudang selesai jam saya,” katanya lalu tersenyum manis sambil mengacak rambut Keana sebelum pergi dari pandangan gadis itu.
Pun, kedua matanya terbelalak mendengar satu nama teman kecilnya yang jarang sekali mereka berkomunikasi meskipun mereka satu kelas sekalipun. Hanya sapaan singkat saja yang pernah mereka interaksikan. Memutar tubuhnya, Keana celingak-celinguk mencari sosok laki-laki bermata bulat itu.
Ketemu!
Nyatanya Raka sedang duduk bareng Jason di bangku tribun tengah sambil bermain nintendonya dan menyesap es kopi. Sementara Keana masih berdiri di tempat. Berdebat pada dirinya sendiri.
Haruskah Keana samperin duluan?