CHAPTER 5

1196 Words
“Akhirnya selesai juga,” kata Keana menghela napas lega sambil menepuk kedua tangannya agar debu-debu dari bola itu hilang, sedikit. Menoleh ke belakang, ia melihat Raka baru saja duduk di matras. Laki-laki itu menangkap pandangan Keana yang langsung diajaknya untuk istirahat sejenak di matras itu. buat Keana duduk di sampingnya dengan jarak yang cukup lebar. Maklum, Keana masih terasa kaku kalau hanya berdua saja dengan Raka. Terlebih laki-laki itu terbilang agak pendiam. Padahal mereka tetanggaan dan teman kecil juga. “Tumben lo mau mungutin bola?” Pertanyaan itu muncul dari bibir Raka yang membuat Keana sedikit terjengit dari tempatnya. Lelaki itu tertawa pelan melihatnya. “Nilai gue cuman delapan, Ka. Makanya gue minta kompensasi sama kak Ezra,” jawabnya sambil tersenyum masam. “Terus nanti nilai lo ditambahin?” “Gak tau juga, deh,” balas Keana bikin Raka tertawa lagi yang buat gadis itu menatapnya. Keana baru sadar, dalam jarak sedekat itu hidung Raka begitu mancung dan sangat manis. Matanya yang bulat dan besar namun terlihat mengintimidasi juga. “Mau gue ajarin ngeshoot bola?” Raka tiba-tiba menoleh buat gadis itu langsung melempar pandangannya ke keranjang bola di belakang Raka. “Gak usah, Ka. Makasih, hehe.” Keana menolak halus yang dibalas anggukan Raka. “Lo udah tau Kyle balik?” pertanyaan yang tidak pernah Keana duga muncul, terlebih temannya ini menyebut nama Kyle. “Udah,” Keana melanjutkan sambil mengangguk, “Semalam gue ke kafe, kaget ternyata dia udah balik aja.” “Lo seneng?” Raka menyulam senyum kecil sambil menatap Keana yang masih memandang keranjang bola. “Biasa aja, sih.” “Masa?” “Iyaa.” Benar. Jika diberi pilihan apa yang dirasakan Keana ketika bertemu kembali dengan Kyle, tentu saja “biasa saja” akan menjadi jawabannya. Meskipun—jujur—Keana senang jug mereka bertemu lagi, tidak menutup kemungkinan kalau rasa jengkel masih ada di benaknya. Maka, jawaban yang Keana memang tepat apa yang dirasakannya kini. Belum tahu, deh, nanti gimana. “Lo tau nggak kenapa dia pindah ke London dulu?” tanya Keana, tiba-tiba membahas Kyle yang pindah tanpa memberitahunya dan menjadi tanda tanya baginya. “Gak tau. Kenapa nggak tanya sendiri ke orangnya langsung? Pasti dia punya jawabannya.” Raka menoleh, dengan alis yang menukik satu membuat gadis itu mengulum bibirnya dan menelik. “Nggak berani?” “Iya,” jawab Keana jujur. Ia mengangguk kecil. “Terus kata mama Kyle, kalian nginep, ya, malamnya? Kok gue nggak diajak?” “Pengen banget?” Raka semakin tertawa kencang melihat Keana mendesis pelan. Meskipun begitu, laki-laki itu tetap menjawab walaupun terdengar kurang memuaskan. “Kyle yang suruh kita diem. Tapi kalo lo tanya kenapa, mending ke orangnya langsung.” Bibir Keana menekuk ke bawah. Ya, iya sih, semua jawaban yang menjadi tanda tanya Keana ada di Kyle. Tapi, alasan terbesar yang membuatnya malas untuk bertanya langsung ke orang itu adalah: Keana malas melihat ekspresi nyebelin Kyle yang membuatnya harus sabar untuk tidak menjambak rambutnya detik itu juga *** Keana melangkah santai dengan paper bag di tangan kanannya dan kantung plastik di tangan kirinya. Gadis itu baru saja keluar dari kantin dan kini menuju kelasnya berada. Keana ingin meletakkan baju olahraganya dulu lalu pergi ke ruangan Ezra. “Hai, Keana!” Itu Yuna yang menyapa Keana saat mau keluar dari kelas, yang dibalas dengan lambaian juga sebelum gadis itu kembali menggibah bersama temannya. Si rambut pendek alias Keana kembali berjalan ke arah ruangan Ezra. Ia menghela napas, pertemanannya dengan Yuna memang terbilang cukup dekat. Namun belum bisa dibilang dekat banget lantaran gadis itu jarang mengajaknya main atau nongkrong bareng. Terlebih Keana sulit untuk bersosialisasi kepada orang lain. Jika pun ia main sama Yuna, pasti tidak hanya berdua saja mengingat Yuna seorang gadis yang ramah kepada siapapun dan memiliki banyak teman yang populer. Tok tok! “Masuk!” Memutar kenop pintu, Keana menyembulkan kepala ke dalam ruangan sebelum badannya ikut masuk. Menutup kembali pintu, ia mendapati Ezra tampak sibuk dengan berbagai macam kertas-kertas berceceran di meja. Keana meringis melihatnya. Ia tak terlalu suka melihat hal-hal yang begitu berantakan. Ezra mendongak, Keana menunjukkan cengiran kecilnya lalu duduk di hadapan lelaki itu sambil meletakkan roti yang dibelinya tadi. “Sibuk banget, Kak?” tanyanya sambil melirik kertas-kertas itu. “Iya, nih,” Ezra mengangguk. “Mau bantuin nggak?” “Ada imbalannya, ‘kan?” kedua alis Keana naik-turun sambil tersenyum miring. Melihat reaksi Ezra yang menatapnya datar buat gadis itu menggeleng pelan. “Bercanda. Ya udah, bantu apa nih, Kak?” “Masukin nilainya ke dalam buku ini, ya.” Ezra menunjuk buku panjang di belakang Keana sambil kasih selembar kertas yang baru saja ia cetak. “Ini aja?” Netranya melirik Ezra yang menukik kedua alisnya. “Mau nambah?” “Nggak-nggak!” serunya langsung mengerjakan yang Ezra minta tadi. “Terus kalau saya kerjain ini, Kak Ezra ngapain?” Lelaki itu beranjak dari kursinya, lalu meregangkan jari-jari dan otot tangannya yang terasa kaku setelah satu jam lebih dia duduk di sana. “Mau makan dulu, belum makan dari tadi,” katanya mengambil roti yang dibawa Keana tadi. “Makasih, ya, walaupun nggak bikin kenyang.” “Hmm.” Hening. Keana fokus menyalin nilai dari setumpuk kertas kelas 11 ke buku nilai, sementara Ezra asyik makan rotinya dan menikmati alunan musik biar tidak terasa mengantuk. “Ken,” panggil Ezra yang dibalas dengan gumaman Keana. “Saya maih heran sama kamu, betah banget sendiri di sekolah selama tiga tahun?” Keana mendongak sejenak sambil mengangguk. Menatap Ezra yang sibuk mengunyah roti di hadapannya. Gadis itu menyingkap rambutnya sejenak dan kembali menunduk, lanjut nulis namun tetap membalas, “Sebenernya nggak sendiri banget, Kak. Cuman emang gak ada yang ajak saya aja hehe, tapi saya beruntung juga sih, soalnya susah bersosialisasi. Belum lagi pergaulan mereka tuh bebas, Kak.” “Biasanya seumuran kamu tuh seneng loh bisa main ke sana ke mari. Emang kamu nggak kayak begitu, Ken?” Keana meletakkan pulpen dan bersandar sambil menatap Ezra yang penasaran. “Jangan bilang ke guru lain, ya, Kak?” Ezra mengangguk. Melihat raut Keana yang serius, lelaki itu jadi memajukan kursinya dan bertumpu pada sikutnya di meja, menopang dagu. “Hampir kebanyakan mereka mainnya udah ‘bebas’ banget, Kak. You know what I mean.” “Serius?” Ezra membulatkan matanya, Keana mengangguk. “Kamu termasuk?” Spontan, Keana merotasikan matanya. “Kan udah dibilang, saya tuh nggak suka yang begituan, Kak. Belum lagi itu tempatnya rame. Pulangnya pasti pagi, kalau begitu yang ada saya diomelin sama orangtua saya.” “Tapi mereka masih di bawah umur,” kata Ezra. “I dunno,” sahut Keana sambil bergidik kecil. “Jangan kasih tau siapa-siapa, ya, Kak. It’s just you and me.” “Siap, Tuan Putri,” gurau Ezra lalu terkekeh pelan melihat delikan Keana. “Oh, ya, pulang sekolah mau bareng saya? Sekalian saya traktir deh habis bantuin saya.” Mata Keana sontak berbinar mendengarnya. Terlebih kata ‘traktir’ muncul dari bibir manis Ezra yang tersenyum geli melihat reaksi Keana. “Yakin nih? Saya kalau mesen nggak cuman satu macam aja, loh.” “Yakin lah. Kalau nggak, nggak mungkin saya tawarin kamu, Ken.” “OKE!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD