Hari minggu pagi itu vania dan sahabatnya selly berencana untuk menghabiskan waktu akhir pekannya untuk mendatangi toko buku terbesar yang ada dikotanya. sekita jam 9 pagi selly sudah tiba ditempat vania. dia berdiri sejenak memandangi sekitaran tempat itu, melihat sekeliling dengan pandangan takjub.
Bangunan mewah tiga lantai bak istana megah yang kokoh tepat berada ditengah2 halaman yg luas, didepannya terdapat beberapa mobil mewah yg terpakir rapi didalam bagasi yang berada di samping kiri rumah itu. diujung pagar yg tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini terdapat sebuat bangunan kecil yang iya yakini adalah tempat security keamanan dari pemilik rumah tersebut.
selama hampir 3 tahun berteman dengan vania,selly memang belum pernah sekalipun berkunjung kerumah sahabatnya itu, dan untuk pertama kalinya dia merasa bahwa sahabatnya ini adalah salah satu wanita yang sangat beruntung bisa menikmati kehidupan mewah dengan segala kekayaan yg dimiliki oleh orang tuanya.
tampa menunggu lama lagi selly segera memencet bel pagar rumah tersebut,selang beberapa saat seorang security menghampirinya.
"cari siapa neng..."?tanya security tersebut kepada selly.
"cari vania pak...saya temannya, selly".jawab selly memperkenal kan diri ke security tersebut.
"oh iya neng,langsung masuk aja neng,sudah di tungguin sama non vania di dalem..". security tersebut mempersilahkan selly untuk masuk kedalam.karena memang vania sudah membri tau ke security bahwa akan ada temanya yg mau datang kerumah.
"maksih pak.."ucap selly disertai dengan senyum manisnya.
"sama2 neng...".balas security tersebut
"duh manis sekali itu senyum..."guman security saat menrima senyuman dari selly yg sudah berlalu dr hadapanya.
setelah di persilahkan oleh security selly bergegas mengetok pintu rumah itu.
tok tok tok
perlahan pintu rumah itu terbuka dan menampak kan seseorang yg menurut selly tidak asing baginya,membukakan pintu rumah tersebut.varel kakak bungsu dr vania berdiri kokoh di hadapanya selly yg kebetulan hendak keluar rumah ,melihat siapa yg datang varel menaikan salah satu sudut bibirnya lalu berkata.
"mau ngapain kamu kemari.."?tanya varel dengan sinis.sambil tngan varel menghadang pintu untuk menghalangi selly.
"bukan urusan mu...yg jelas bukan nyariin kamu"balas selly tak acuh.
selly dan varel memang sudah beberapa kali bertemu saat varel mengantar vania kesekolahnya,tapi entah mengapa kesan pertama mereka bertemu begitu tak menyenangkan.varel selalu memasang wajah tak suka ke sahabt adeknya tersebut.
entah apa penyebabnya varel sendiri pun tak tau,atau mungkin karena penampilan sahabat adeknya itu terlihat seperti gadis2 remaja yg nakal pada umum.
"jngn ganggu selly..!"seru vania yg baru saja turun dr lantai dua hendak menyambut sahabatnya tersebut.
"cih siapa yg mau ganggu temen mu"ucap varel berlalu pergi.
"jelas2 mau mengganggunya..mengelak pula kau",gerutuh vania ke kakakny varel yg sudah berlalu pergi.
"duduk dulu sel..."suruh vania ke sahabatnya tersebut.
selly hanya membalasnya dengan anggukan kepala lalu mendudukan tubuhnya di sofa yg ada di ruang tamu tersebut,setelah mempersilahkan sahabatnya,vania berjalan ke dapur mennyuruh bi inah untuk membuatkan minuman ke sahabatny.
setelah itu vania menghampiri sahabatnya lagi
"tunggu bentar ya sel,gue ambil tas gue dulu di lantai atas..?"vania lalu berlalu dr hadapan sahabatnya menuju ke lantai atas.
setelah kepergian vania,selly masih tak henti2 nya mengagumi rumah mewah yg di miliki oleh sahabtanya nya tersebut,selang beberapa saat seorang pelayan keluar dr arah dapur menuju tempat selly dengan membawa nampan berisi minuman
"silahkan di minum neng..."ucap pelayan tersebut.
"maksih bi.."balas selly lalu mengambil alih minuman yg di persilahkan untuk nya dan meminumnya hingga tandas.
tak berapa lama vania pun kembali dengan tas slempangnya,lalu mereka berdua segra menuju ke tempat tujuan mereka hari ini dengan di antar sopir pribadi keluarga vania.
sesampainya di tempat tujuan mereka memilah milah buku yg akan mereka beli. setelah cukup lama mendapatkan apa yg mereka cari vania dan selly menuju cafe yg dekat dengan toko buku tersebut untuk makan siang.
setibanya dicafe yang telah mereka sepakati, mereka langsung memesan makanan sesuai kesukaan mereka masing-masing. vania memesan hidangan pasta seafood kesukaannya sementara selly memesan nasi goreng, dan untuk minumannya mereka berdua sama-sama memesan orange jus.
pengunjung cafe disana terlihat cukup ramai karena emang bertepatan dengan jam makan siang kantor. sambil menunggu makanan mereka selesai dibuat sesekali mereka mengobrol tentang hal-hal yang mereka lakukan tadi di toko buku sambil sesekali diselingi canda tawa.
tak berapa lama tiba2 terlihat kegaduhan yang cukup menyita perhatian mereka, karna tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini. terlihat seorang bapak tua yang menggunakan seragam office boy tersebut sedang berseteru dengan pria yang lebih muda darinya, sepertinya mereka meributkan masalah antrian untuk sistem makanan (DELIVERY/TAKEAWAY) ... aku lupa namanya hahaha... karna di cafe tersebut sistem take order terbagi menjadi dua, pertama sistem pengorderan dine in dan kedua sistem pengorderan takeaway.
"maaf pak saya mengantri duluan tadi" kata bapak tua itu dengan nada sehalus mungkin.
"Tapi saya sedang terburu-buru, istri saya sedang menunggu dimobil karna dia akan segera berangkat menuju kebandara" jawab pria yang sepertinya memotong antrian dari bapak tua tersebut.
"tapi maaf pak saya hanya disuruh atasan untuk membelikan makanan beliau, kalau saya telat nanti saya yang kena omel" jawab bapak tua itu jujur
"anda kena omel sedikit tidak masalahkan, anda bisa saja berkata kalau cafe disini sangat ramai sehingga telat mendapatkan makanannya" kekeh pria tersebut
"tapi saya sudah hampir setengah jam disini pak untuk membeli makanan ini" bapak tua itu masih mencoba meminta pengertian dari pria itu.
pria tersebut justru malah meremas botol minuman yang sedari tadi iya pegang dan membantingnya kelantai, air dari botol tersebut sebagian tumpah membasahi sepatu bapak tua itu, bapak tua itu cukup kaget dan bahkan beberapa pengunjung dari cafe juga sudah mulai melihat kearah mereka.
"memangnya kenapa kalau anda menunggu lebih lama lagi? anda hanya seorang office boy, dan bukannya sudah biasa bagi seorang office boy jika dimarahin oleh atasan mereka? saya lebih buru-buru ketimbang anda, emang kalau istri saya ketinggalan pesawat anda sanggup mengganti tiket pesawatnya lagi? sudahlah anda jangan membesar-besarkan masalah dan membuat keributan disini" bentak pria itu sambil membanting botol minuman ditangannya tadi.
selly yang tidak tahan melihat perlakuan orang kaya tersebut kepada bapak tua itu merasa geram, ia bahkan sudah berdiri untuk menghampiri kearah mereka. namun vania mencegah selly agar ia tidaklah ikut campur urusan mereka, terlebih itu urusan orang-orang yang sudah cukup dewasa.
"jangan sell, mereka itu udah dewasa pasti bisa menyelesaikan masalah mereka sendir." cegah vania
"ga bisa van, jangan mentang-mentang dia kaya terus bisa berbuat gitu dong sama orang kecil." jawab selly yang masih teramat kesal dengan orang kaya tersebut.
tak beberapa lama sebelum selly menghampiri ketempat keributan itu tiba-tiba datang seorang gadis muda yang terlihat sangat cantik sudah berada disana. dia membela bapak tua itu dengan kata-kata yang cukup tajam pula
"maaf pak, sepertinya keributan ini tidak akan terjadi bila bapak tidak memotong antrian dari bapak tersebut." ucap gadis itu sambil melihat kearah bapak tua yang terdiam tadi.
"anda siapa memangnya?" jawab bapak itu tajam
"saya hanya pengunjung disini, dan sebagai pengunjung saya juga berhak untuk menikmati segala kenyamanan tanpa kegaduhan yang bapak buat seperti ini." gadis itu menjawab lagi
" dan satu lagi, jika bapak terburu-buru dengan jadwal penerbangan istri bapak, seharusnya bapak harus bisa lebih mengatur dan menghargai waktu yang bapak buat, bapak memang lebih kaya ketimbang bapak tua ini dan mungkin lebih terhormat, tapi bila bapak tidak bisa menghormati orang yang lebih tua itu adalah perbuatan yang sangat buruk menurut saya. jabatan dengan segala kesombongan tidak cukup bagus untuk dibanggakan" tambah gadis itu secara tegas.
bapak tersebut terdiam dan cukup malu mendengar perkataan gadis tersebut, apalagi dilihat sekeliling orang-orang juga sudah memandanginya dengan tatapan tajam. dia pergi dengan tangan yang menggepal serta rasa malu yang ia trima dari gadis tersebut.
selly serta vania sangat kagum dengan kebranian yang dimiliki wanita itu. terlebih lagi vania, dari dulu betapa ingin dirinya bisa mempunyai kakak perempuan seperti itu, bisa saling berbagi tentang kehidupan perempuan dan bisa bermanja-manjaan, apa lagi jika diingat semua kakak yang ia miliki adalah laki-laki.
"van.vania...ni anak malah bengong"!seru selly mebuyarkan lamunan vania."eh iya.."balas vania kemudian.setelah keributan yg terjadi tadi vania dan selly melanjut kan makn siang mereka dengan tenang.wanita yg sempet ada di tengah2 keributan tadi sudah tak terlihat.
selesai acara makan siang vania dan selly melanjut kan acara mereka untuk menghabiskan waktu weekend nya bersama untuk membaca buku di toko buku yg tadi mereka datangi hingga menjelang sore hari.
***
di sisi lain sesudah kegaduhan yang berada didalam tadi wanita itu keluar dari cafe tersebut. ia berencana menemui pria yang sudah memiliki janji dengannya siang ini. tadinya ia bermaksud untuk sekedar menunggu temannya didalam sana tetapi setelah beberapa hal yang terjadi wanita itu memutuskan untuk menunggu diarea parkiran saja.
sebuah mobil datang menghampirinya, dan terbukalah kaca mobil itu. pria yang berada dimobil segera turun dan menyapa wanita itu.
"kenpa tidak menunggu didalam shel? sudah makan siang?" tanya pria itu perhatian
"tidak. disini saja sebaiknya kita makan ditempat lain saja yuk baru kita ketempat kakakmu." jawab wanita itu yang memiliki nama sebagai shela.
"yasudah yuk masuk" pria itu mengajak shela untuk menaiki mobilnya dan pergi ketempat lain untuk sekedar makan siang dan mengobrol mengenai keperluan mereka.
shela duduk disebelah pria itu. sesekali pria itu meliriknya dengan pandangan yang sedikit heran.
"kenapa memang dicafe itu? apa ada masalah?" tanya pria itu kembali karna merasa ada yang berbeda dengan raut muka teman wanitanya itu.
"hanya keributan kecil rel, seseorang yang kaya raya dan dengan seenaknya merendahkan orang kecil. bisa bisanya dia membentak orang tua. meskipun orang tua itu hanyalah seorang office boy lalu apakah orang kaya bisa seenaknya untuk merendahkan mereka?" tanya balik shela kepada temannya itu. dia masih sedikit tidak habis pikir dengan kelakuan orang orang kaya kebanyakan.
varel sedikit mengerti apa alasan dibalik muka teman wanitanya itu. shela memang tipe orang yang tidak bisa melihat hal hal yang tidak adil menurutnya. apalagi mengenai kasta seseorang.
"dan pasti kamu membantu orang itu untuk memaki-maki orang kaya tersebut?" tanya varel lagi
"tentu saja. huh menyebalkan bertemu dengan orang seperti itu" jawab shela
mereka berdua akhirnya memilih tempat untuk makan siang dan tibalah disebuah restoran sederhana dikota itu. memesan makanan favorit masing masing serta melahapnya hingga habis. siang ini mereka berencana untuk makan bersama. dan sorenya mereka akan pergi kesebuah cafe dimana cafe yang akan mereka tuju adalah milik kakaknya varel.
"aku sudah berbicara dengan kakakku shel, dan sore nanti kita bisa langsung bertemu dengannya." kamu bisa langsung bekerja besok, dan sore ini kamu bisa langsung mengabil seragamnya." ucap varel begitu mereka selsai dengan makan siangnya.
shela memang meminta varel untuk mencarikan tempat kerja part time untuk dirinya. dia ingin bekerja untuk mendapatkan sedikit uang untuk keperluannya sehari hari. dan kebetulan varel memiliki kakak yang mengelola sebuah cafe. jadi varel menawarkan perkerjaan part time untuknya.
shela adalah sesosok gadis yang sudah tidak memiliki orang tua. saat ini dia hanya tinggal bersama neneknya dirumah kecil milik sang nenek. kedua orang tuanya meninggal saat dia duduk dibangku Sekolah menengah pertama. ayahnya adalah korban kecelakaan. sedangkan sang ibu meninggal akibat sakit yang dideritanya. sejak saat itu dia tinggal bersama neneknya. sebenarnya shela memiliki paman yang terbilang cukup berkecukupan. dia adalah adik dari mendiang sang ibu. namun sikap sang paman sangatlah tidak ramah. shela pernah diminta tinggal sewaktu ibunya masih berada dirumah sakit. tapi dirumah sang paman shela merasa diperlakukan layaknya seperti sang pembantu. istri dari pamannya sangat tidak menyukainya sehingga shela selalu diberikan tugas tugas rumah tangga yang biasa dikerjakan oleh pembantu. semenjak shela tinggal dirumah sang paman, ia merasa sangat kesepian. tak ada satupun penghuni rumah itu yang perduli kepadanya. terlebih saat ibunya meninggal dunia. dia seperti dianggap parasit oleh seluruh keluarga pamannya. dari situlah shela memilih untuk tinggal bersama nenenknya dan dia tumbuh menjadi gadis yang kuat serta mandiri. dia akan berjuang dengan keras untuk mendapatkan segala hasil terbaik yang dia impikan.