2

1888 Words
2   SHILLA POV "huftt capek banget badanku" gumamku yang sedang membersihkan meja cafe, sementara tanganku yang lain memijit pundak karena lelah. 'Setiap malam minggu pasti selalu begini, cafe selalu saja semakin rame dan tambah rame pengunjung, jadi tambah capek kan gue' batin shilla mengeluh, dengan shilla yang masih tetap membereskan meja cafe dari piring-piring kotor bekas pelanggan cafe. Akupun berjalan berbalik ingin menuju dapur untuk menaruh piring dan gelas yang aku bawa ini, sambil mengarahkan pandanganku ke arah salah satu sudut cafe yang ku lihat ada beberapa anak muda yang tengah tertawa dengan terbahak-bahak, seperti ada sesuatu yang sangat lucu sekali yang membuat mereka tertawa seperti itu. 'Hemmmm..... Beruntung banget sih mereka bisa ngumpul-ngumpul sama teman-teman mereka kayak gitu, gak kayak gue yang harus kerja part time kayak gini' batinku yang masih tetap mengeluh. 'Isshh.... Apa sih yang gue fikirin. Tuhan..... Maafkan hambamu ini yang masih selalu kurang bersyukur atas apa yang sudah engkau kasih kepadaku ini' ucap batin shilla lagi dengan tertunduk lesu di dapur, dengan tangan yang sedang mencuci piring bekas pelanggan tadi. "Aiiissshh... Ayo shill, semangat!!" ucapku menyemangati diriku sendiri dengan menggenggam kedua tanganku dan mengangkat separuh tanganku ke atas. "Shilla,lo kenapa sih? Kok ngomong sendiri kayak gitu?" ucap naya teman kerjaku di cafe itu, yang hanya ku jawab dengan cengiranku. "Jangan-jangan, ini efek dari kelamaan lo jomblo,mangkanya jadi aneh gitu lo nya." tebak naya dengan menyipitkan ke dua matanya. "Apaan sih lo nay, orang dari tadi gue nyuci piring, gak ngomong sendiri kok." kataku sambil sedikit memajukan bibirku. "Yeeee..... Da ketahuan juga,masih aja ngeles kayak sopir bajai lo shil. Mangkanya jangan kelamaan jomblo dong lo. Jadi rada aneh kan lo kalau udah malming gini." cibir naya sambil memberikan Nampan yang berisikan 1 gelas minuman ke gue. "Shill.... Bawa pesenan ini ke meja nomor 7 ya?!" perintah naya. "Kok gue?? Kenapa gak lo aja,lagian gue juga masih belum selesai nyuci nih" kataku, yang di jawab naya dengan "udah,biar gue yang lanjutin, lagian pesenan di meja nomor 7 itu maunya yang nganterin pesenannya tu lo." "Hah??! Kenapa?" tanyaku dengan reflek membelalakkan mata dan membuka mulutku. "Udah kayak ikan koki lo, kalau kayak gitu." -naya "Hah?kookie?, jeon jungkook bias gue yang di BTS itu maksud lo?" -shilla "Hatdeehh... Lo tu yah tetep gak berubah,masih aja suka nyangkut pautin segala sesuatunya dengan BTS. Dasar fungirl." cetus naya dengan memutar bola matanya malas. Yang ku jawab dengan senyum yang ku manis-maniskan, dan berlalu menuju meja nomor 7. ---------- "Oh good" shilla kaget ketika sudah berada di meja nomor 7 tersebut, karena di sana sudah ada randy and the geng, teman satu sekolah shilla di pelita harapan.Hampir saja gelas yang di bawa shilla beserta nampannya itu jatuh ke lantai. "Emmm.. Ma-maaf mas permisi, ini minumannya." shilla berniat berlalu meninggalkan tempat itu secepatnya. Tapi tak di sangka, delon teman randy yang duduknya sejajar dengan shilla yang sedang berdiri itu pun, langsung menahan lengan shilla dengan cepat, yang membuat shilla kaget seketika. "Eh, mau kemana?! Buru-buru banget lo." ucap delon menahan lengan shilla. "E-emangnya kalian mau a-apa lagi? Tugasku kan udah selesai buat nganterin minuman i-itu ke kalian." ucap shilla dengan menundukkan kepalanya. "Sayang, jangan bikin cewek miskin ini takut dong. Tuh liat, mukanya aja udah ketakutan setengah mati gitu beb." sindir rani mengejek dengan nada yang dibuat manja ke delon. 'Ya ampun, mati gue, bagaimana bisa mereka tau kalau gue kerja part time di sini sih?!' gumam shilla dalam hati. "Oh jadi lo kerja di sini?! Gak nyangka gue, ternyata dunia sempit banget ya guys." kata randy tiba-tiba, dengan menunjukkan senyum miringnya. Shilla masih diam,tidak berani menatap mereka berlima. "Eh lon, lo pasti tahu kan sebenarnya kalau cewek ini kerja di cafe ini?" tanya raka ke delon sambil meminum kopinya. "Iya lon, kalau enggak kan mana mungkin lo ngajakin kita ke cafe ini. Soalnya kan biasanya kita ke cafe langganan kita nongkrong biasanya." sambung boby dengan wajah heran. "Ya iya lah dia tau, delon cowok gue kan emang selalu serba tau, apalagi soal cewek.miskin.gak.penting.ini." jawab rani sinis dengan nada penuh penekanan. "Aduh, kasian banget sih lo shill. Udah miskin, masih aja sok-sok an buat tetep sekolah di pelita harapan. Lo tu cuman ngebuat sekolah kita jadi tercemar karena keberadaan lo di sana." ucap rani sinis yang sudah berdiri dari kursinya dari tadi dengan tangan yang dilipat ke dadanya. "Hah, atau jangan-jangan lo emang sengaja sekolah di sana biar di kira orang kaya ya?! Dasar licik lo. Eh denger ya, lo tu walaupun bergaul dengan kita-kita juga gak bakal keliatan kayak orang yang papanya punya bisnis kayak kita-kita ini, tetep aja lo tu keliatan sebagai s.a.m.p.a.h dan kuman berjalan di sekolah kita." ketus rani berbicara dengan tangan yang menunjuk-nunjuk ke muka shilla. "Astaghfirullah, mulut lo ran pedes banget, udah kayak yang punya kebon cabe aja lu ran." ucap raka dengan gaya menggeleng-nggelengkan kepalanya. "Tapi kan emang bener apa kata gue ka." jawab rani yang sudah duduk kembali ke kursi dengan menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya. "Lagian, kenapa sih dia itu nggak keluar aja dari sekolah kita, bikin kotor SMA pelita harapan aja." sambung rani masih dengan posisi yang sama. Shilla yang sudah mati-matian menahan air mata yang dari tadi pengen jatuh itu pun akhirnya sudah tidak bisa lagi menahan kekesalan dan sakit hatinya. Karena selama ini dia sudah merasa bersabar banget menghadapi tingkah laku mereka di sekolah. 's**l' umpat shilla dalam hati. "Haha... Dasar benalu." sindir shilla tertawa miris ke rani yang sedari tadi terlalu banyak bicara, yang seketika membuat hati shilla semakin sakit hati di buatnya. "Apa lo bilang??" tanya rani yang seakan di buat tidak percaya dengan apa yang barusan shilla katakan, dan dengan posisi yang sudah berdiri dan satu tangan kanannya yang menjambak rambut shilla. "Lo udah berani sama gue?!! Dasar cewek miskin s****n" -rani Dan seketika itu pula, shilla yang selama ini hanya mendiamkan kelakuan rani yang semakin bertambah parah itu pun, dengan berani dia menghempaskan tangan rani yang sudah menjambak rambut panjangnya dengan kasar. "Cukup ran!! Udah cukup lo ngehina dan ngebully gue di sekolah setiap hari." bentak shilla penuh emosi. "Gue tau gue cewek miskin, gue nyadar itu. Tapi gue juga punya harga diri, dan gue nggak bakal ngebiarin lo dan kalian semua nginjek-nginjek harga diri gue lagi." jawab shilla penuh emosi. "Dan gue capek, kalian perlakuin gue kayak gini terus." lanjut shilla. Semua orang yang tengah berada di cafe itu mulai memperhatikan shilla, randy and the geng. Karena keributan yang di timbulkan antara rani dan shilla. Sementara randy dan gengnya yang cowok hanya memperhatikan pertunjukan yang mereka tonton di hadapannya. Rani mengangkat gelas yang berisikan minumannya itu, dan hendak menyiramkannya ke wajah shilla dengan berkata " udah berani ya lo nyol...." ucapan rani terpotong, begitu pula dengan tangannya yang terhenti,karena di tahan oleh randy. Di sisi lain shilla sudah memasang wajah kaget dan tidak percaya atas tindakan randy yang seakan seperti menolongnya itu. Begitu juga dengan delon,boby,raka, apalagi rani. "Randy, apa-apaan sih??!" tanya rani kesal karena tangannya di tahan randy. "Udahlah ran, jangn ribut di sini. Lo nggak lihat semua orang udah merhatiin kita sedari tadi?! Apa lo nggak malu?" jawab randy. Kemudian shilla pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang kesal dan sedih. Rani mendengus kesal dengan memutar kedua bola matanya malas, dan mengajak pacarnya delon pergi dari cafe itu. "Sayang, kita cari tempat lain yuk... Udah nggak mood banget aku di sini!" rengek rani ke delon. "Ya udah beb, aku juga udah malas di sini. Gimana kalau kita ke klub aja seneng-seneng sob?" tanya delon. "Ahh.... Mager gue." sahut randy dengan nada malas. "Gue juga." sambung boby dan raka bersamaan. "Ahh nggak asik lo pada." - delon "Udahlah beb, kan enak kalau cuman kita berdua yang pergi. Nggak ada yang akan ganggu kita buat pacaran dan romantis-romantisan berdua kan?! " ujar rani ke delon. "Oke kalau gitu gue duluan ya guys?!" pamit delon ke teman-temannya. "Oke sob." jawab randy, boby and raka. Delon dan rani berlalu dari cafe itu. Sementara kini mereka bertiga hanya ngobrol-ngobrol biasa saja. *** Sementara itu di dapur........ "Shill, lo nggak papa kan?" tanya naya sahabat shilla begitu tahu sahabatnya itu menangis. "Gue nggak papa kok nay." jawab shilla bohong sambil menghapus air matanya. "Shil, gue tahu kalau lo bo....." ucap naya yang di potong shilla. "Nay... Please.... Jangan bahas masalah ini, okey!! Jawab shilla yang terdengar memohon, dan hanya di jawab naya dengan senyum masam dan mengaggukkan kepalanya. Karena naya tahu, kalau sahabatnya itu pasti belum siap untuk bercerita kepadanya. Tapi naya tahu juga kalau shilla pasti akan bisa bercerita kalau hatinya sudah lebih baik nantinya. ___________ "Ahh akhirnya selesai juga." ucap shilla dengan merenggangkan kedua tangannya ke atas, karena dari tadi dia dan karyawan lain sedang membereskan cafe yang akan tutup. "Gila, capek banget ya shill." ucap romi yang juga temen shilla di cafe. "Bangeeeettt." -shilla Dan kini akhirnya mereka bersiap-siap untuk pulang. "Shill bareng gue yuk!!" ajak naya yang sudah berada di atas motor matic nya. "Eh gila ya lo, arah pulang kita kan beda nay." jawab shilla yang masih berdiri menunggu tukang ojek, atau angkutan umum yang Lewat. "Ya nggak papa shill, entar gue anter lo balik dulu, baru deh gue pulang." - naya "Udah nay, jangan maksa gue. Gue tetep nggak bakal mau, bentar lagi juga pasti lewat kok angkotnya." tolak naya halus. "Tapi shill......" -naya "Naya........." sahut shilla dengan menatapnya sedikit tajam. Naya mendengus kesal dengan tingkah sahabatnya itu yang selalu menolak untuk mengantarnya pulang. " oke-oke, gue nyerah. Kalau gitu gue pulang duluan shil,hati-hati ya shill di sini." " ck, tenang aja nay.... Lo jga hati-hati di jalan." jawab shilla dengan tersenyum. Naya pergi berlalu meninggalkan shilla yang masih menunggu angkot atau abang ojek lewat. Padahal sekarang sudah malam banget. Shilla melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. "Aduuhh udah hampir mau tengah malam lagi." gerutu shilla. Di sisi lain yang sedikit jauh dari tempat shilla berada, randy yang tengah berada di dalam mobil, tengah memperhatikan shilla dari kejauhan. Ya memang, randy yang tadinya di ajak pulang oleh ke dua temannya itu memutuskan untuk menunggu shilla sampai pulang dari cafe itu, dengan memberi alasan lain ke temannya. Randy juga heran, kenapa dia harus repot-repot melakukan hal itu. Dia hanya merasa sedikit khawatir dengan shilla yang akan pulang malam. "Gila kali ya tu cewek, ini udah hampir tengah malam, dan dia masih nunggu kendaraan lewat?! Dasar cewek b**o, kenapa dia nggak bareng temennya aja sih?! Lagian kan udah malam gini, bisa bahaya buat cewek kayak dia." gumam randy yang berada di dalam mobil dengan tangan yang memegang setir mobilnya. "Ehh anjing...... Ngapain juga gue nguwatirin dia. Waaaahhh udah nggak beres nih otak gue. Sial." ucap randy ke dirinya sendiri, dan dia memutuskan untuk pulang meninggalkan shilla di sana. Tidak lama kemudian..... Tiiiinnnn..... Shilla kaget, karena tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Seseorang dari balik kaca mobil yang terbuka hanya separuh itu pun mengajak shilla untuk mengantarkan shilla pulang. Tentu saja shilla tidak mau, tapi orang itu tetap memaksa dan membujuk shilla terus menerus, dengan beralasan bahwa sudah mau jam 12 malam. Dan akhirnya shilla bersedia, di karenakan orang yang tidak lain adalah bosnya itupun beralasan akan memotong gaji shilla jika dia tetap terus menerus menolaknya. "Emmm.... Pak, sekali lagi makasih ya pak alex sudah mau mengantarkan saya pulang." ucap shilla yang sedang duduk di samping bosnya itu. "Iya shill, kan ini udah malam banget. Mana mungkin saya ngebiarin kamu di sana sendirian, bahaya shill buat cewek secantik kamu. "Bapak bisa aja. Lagian saya juga udah biasa kok pak." jawab shilla dengan menunduk malu. "Shill, Udah berapa kali aku bilang ke kamu, kalau kita nggak lagi di cafe, manggilnya alex saja! Susah banget ya buat kamu? Umur kita kan cuman beda 3 tahun shil" ucap alex mengingatkan. "I.. Iya lex, maaf." jawab shilla sedikit gugup dan merasa tidak enak. "Nah... Gitu dong biar aku nggak berasa kayak bapak-bapak shill." kata alex dengan tersenyum senang, dan di balas shilla dengan senyum juga. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD