Keluar dari Asrama
“Helena, ayahmu datang berkunjung. Temuilah dirinya di ruang tamu,” ucap Suster Maria pimpinan dari asrama wanita tempat Helena menghabiskan waktu sebagai guru.
Helena mendongak dari buku yang tengah dibacanya. Keningnya berkerut, karena ia sama sekali tidak mengharap akan mendapatkan kunjungan mendadak ayahnya.
“Sungguh aneh! Setelah bertahun-tahun ia membuangku di tempat ini tanpa pernah datang berkunjung sekalipun. Dan sekarang secara mendadak ia datang. Apa yang diinginkannya?” gumam Helena pelan.Maria
Suster Maria meraih jemari Helena menggenggamnya hangat. Dengan suara lembut ia mengatakan, kalau Helena harus percaya ayahnya sangat menyayanginya dan apa yang dilakukan oleh pria itu adalah demi kebaikan dirinya.
Ditariknya nafas dalam-dalam Helena mengangguk lemah. Ia melepas dengan lembut genggaman tangan Suster Maria. Dilangkahkannya kaki menuju ruang tamu dari sekolah asrama wanita, Satu-satunya tempat yang ia kenal dengan baik, selain rumahnya sendiri.
Langkah kaki Helena berhenti di tengah ruang tamu di mana ia melihat seorang pria paruh baya. Yang selama ini ia anggap hanya bayang-bayang samar saja karena tidak pernah hadir di setiap momen penting dalam hidupnya.
Sadar dari rasa tertegunnya Helena berlari menghambur kepelukan pria yang ia panggil Papa. “Papa! Kenapa kau begitu lama baru datang mengunjungiku? apakah kau sudah tidak menyayangiku lagi, Papa?”
Papa Helena mengusap lembut punggung putri satu-satunya dengan rasa sayang. “Papa menyayangimu dan Papa memiliki alasan sendiri membiarkanmu tetap berada di sini. Akan tetapi, semua itu sudah tidak menjadi masalah lagi. Sekarang kita pulang.”
Helena melepaskan pelukan papanya. Ia melangkah mundur dengan kening dikerutkan dan raut wajah curiga. “Mengapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres? Apa yang kau sembunyikan dariku Papa?”
“Tidak sekarang dan di sini, Helena! Kita akan membicarakannya di rumah!” tegur Papa Helena dengan nada suara tidak sabar.
“Baiklah! Akan tetapi, aku akan membereskan barang-barangku dulu, Papa,” sahut Helena.
“Tidak perlu! Kau tidak akan memerlukan semua barang itu di tempat barumu nanti.” Papa Helena berjalan dengan langkah panjang keluar dari ruang tamu tersebut.
‘Papa, bahkan tidak mengijinkanku untuk membereskan barang-barangl” seru Helena emosi.
Papa Helena hanya berjalan cepat memasuki mobil tanpa menoleh ke belakang. Tiada pilihan lain selain mengikuti papanya.
Sesampai di rumah Helena menatap foto almarhumah ibunya yang tergantung di ruang tamu. Betapa ia merasa asing dengan rumahnya sendiri. Sudah terlalu lama ia tidak menginjakkan kakinya di rumah tersebut.
“Istirahatlah dahulu kau! Nanti malam kita akan pergi ke mansion calon suamimu untuk pesta pertunangan!” seru papa Helena, sambil berlalu pergi menuju ruangan yang merupakan ruang kerjanya.
Helena menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Rasa sakit karena sikap dingin papanya harus ia tekan. Dirinya sudah terbiasa diabaikan, namun rasa sakit itu kenapa masih saja bisa terasa.
Dikerjapkannya mata mencegah air mata turun. Ia berjalan menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Helena membaringkan badan di atas ranjang yang selama bertahun-tahun tidak pernah ditidurinya.
“Semua yang ada di kamar ini masih terasa sama. Apa yang disembunyikan Papa dariku? Kenapa ia bersikap begitu dingin kepadaku putri satu-satunya?” batin Helena.
Suara ketukan berulang kali di pintunya membangunkan Helena dari tidur. Dengan suara serak ia pun memerintahkan kepada orang yang mengetuk pintunya untuk masuk. Karena ia memang tidak menguncinya.
“Cepat mandi dan berpakaian! Keluarga Salvatore sudah menunggu untuk pernikahanmu.” Papa Helena menaruh dengan kasar goodie bag yang ada di tangannya ke atas ranjang.
Helena membuka mulut hendak membantah perintah dari Papanya. Namun, ketika melihat wajah papanya yang merah dengan mata menyala membuat ia urung melakukannya.
“Baik, Papa!” Helena bangkit dari atas ranjang dengan langkah lesu menuju kamar mandi.
Diisinya bath ub dengan air hangat ia pun mandi berenda, sambil memejamkan mata. Mencoba membuat hatinya tenang dengan apa yang akan terjadi nanti.
Selesai mandi dan berpakaian Helena memulas wajahnya dengan make up tipis. Ia merasa dirinya tidak perlu berdandan untuk menarik perhatian dari pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Berjalan keluar kamar dengan langkah pelan nyaris tak terdengar. Helena sampai di ruang tamu di mana papanya sedang duduk dengan cerutu di tangan.
Menyadari kehadirannya Papanya mendongak. “Ayo, kita berangkat. Jangan buat keluarga Salvatore menunggu.”
“Mengapa Papa begitu takut dengan keluarga Salvatore? Bukankah tadi Papa berjanji akan menceritakan kepadaku alasanku dibawa pulang dari asrama?” tanya Helena dengan suara lemah.
Papa Helena melirik putrinya itu sekilas, kemudian menatap kembali lurus ke depan. “Kau akan menikah dengan pewaris keluarga Salvatore. Malam ini kau akan bertunangan dengan Matteo dan besok paginya kalian menikah.”
Helena membelalakan mata menatap tidak percaya papanya. “Mengapa begitu terburu-buru? Apakah dia pria yang baik, Papa? Apakah Papa tidak menyayangiku?”
Suara helaan nafas terdengar berat. “Papa mungkin tidak pernah mengunjungimu di asrama, tetapi itu semua papa lakukan demi keselamatanmu. Matteo pria yang tampan dan gagah. Hanya itu yang bisa papa katakan.”
Tak ada percakapan yang tercipta selama sisa perjalanan. Helena meremas jemari di atas pangkuan. Keringat dingin membasahi jemarinya. Rasa gugup itu semakin menjadi melanda dirinya. ‘Apakah pria itu masih muda atau sudah tua, Papa?’
“Kau akan melihatnya sendiri. Sekarang diamlah! Kau hanya membuat Papa menjadi marah dengan pertanyaanmu itu,” tegur papa Helena galak.
Helena mengkerut di tempatnya duduk. Ia takut mendengar suara papanya yang bernada tinggi. Ia sekarang hanya bisa berharap agar calon suaminya bukanlah pria yang jahat dan kasar.
***
“Bos! Anda harus segera pulang karena hari ini pertunangan Anda dengan gadis dari keluarga Rosetti,” ucap Daniello, sepupu Matteo yang juga merupakan tangan kanannya.
Matteo mengempaskan dengan kasar gelas yang ada di tangannya ke atas meja. Dihembuskannya dengan kasar asap cerutu yang tengah ia hisap. “Sial! Aku lupa kalau aku harus menikah dengan gadis itu. Ayo, kita pergi aku ingin tau wajah calon istriku yang selama ini disembunyikan keluarga Rosetti.”
Bangkit dari duduknya Matteo berjalan dengan gagah keluar dari kelab malam yang merupakan miliknnya. Daniello mengikuti di sampingnya.
“Kau terlihat bersemangat sekali bertemu dengan calon istrimu,” ejek Daniello.
Matteo menyipitkan mata menatap lurus ke depan. “Aku punya alasanku sendiri. Yang pasti wanita itu tidak akan mendapatkan cinta dariku. Ia hanya objek kesepakatan dari tetua yang harus kupenuhi.”
Daniello tertegun mendengar nada dingin dari sepupunya itu. Ia memang sangat dekat dengan Matteo dan mengetahui semua hal tentang sepupunya. Namun, baru kali ini ia tidak dapat mengetahui apa yang direncanakan Matteo. Ada hal yang disembunyikannya.
“Bagaimana dengan kekasihmu, Susan? Apakah kau sudah mengatakan kepadanya kalau kau akan menikah?” tanya Daniello dengan kening dikerutkan.