“Mengapa aku harus memutuskannya? Dalam wasiat almarhum kakek aku hanya diminta untuk menikah saja, tetapi tidak untuk setia. Aku mencintai Susan dan tidak akan melepaskannya demi gadis yang seumur hidupnya dikurung di asrama.” Matteo memberikan kode kepada Daniello untuk menutup mulutnya.
Daniello mengangkat pundak. Ia menyenderkan pundak pada sandaran jok mobil. Ditegakkannya duduk saat menyadari mobil yang dikemudikan sopir Matteo berbelok dari arah seharusnya. “Kemana kita?”
Secara mendadak mobil tersebut berhenti. Dengan nada suara dingin Matteo memerintahkan kepada Daniello untuk turun.
Dengan ekspresi bingung, tetapi tidak ingin menolak perintah dari Matteo. Daniello turun dari mobil tersebut. Ia berpindah masuk mobil yang dikemudikan oleh pengawal Matteo.
Mobil Matteo kembali melaju menuju apartemen mewah wanita yang selama ini menjadi kekasihnya. Dengan santai Matteo berjalan turun dari mobil memasuki gedung apartemen tersebut.
“Matteo Sayang sungguh suatu kejutan kau datang mengunjungiku. Aku merindukanmu sudah tiga hari kau tidak datang menemuiku.” Tangan Susan dengan jemarinya yang lentik dan diberi kutek berwarna merah meraba lembut d**a bidang Matteo.
Matteo menangkap jemari tersebut memindah ke bibirnya. “Gantilah gaunmu. Aku akan mengajakmu ke mansionku. Ada yang akan kuperkenalkan kepadamu.”
Susan mengerutkan kening. Ia mengusapkan jemarinya ke pipi Matteo. Bibirnya mendekat di telinga pria tersebut. “Apakah kau akan memberikan kejutan kepadaku? Aku tidak sabar untuk melihat siapa yang akan kau perkenalkan kepadaku.”
Matteo merendahkan kepalanya dengan bibirnya berada begitu dekat di telinga Susan. Bibir basah Matteo menelusuri leher jenjang Susan yang terbuka. “Sabar! Kau akan menyukainya.”
Satu tangan Matteo terulur memukul p****t Susan dan mendorongnya menjauh. Memberikan kode kepada kekasihnya itu untuk segera berganti pakaian.
Matteo duduk di sofa ruang tamu apartemen kekasihnya tersebut. Dibakarnya cerutu selagi menunggu kekasihnya berganti pakaian. Dihembuskanya asap dari cerutunya ke udara dengan tatapan mata yang terlihat dingin, serta raut wajah datar.
Tak berselang lama Susan keluar dari kamarnya mengenakan gaun berwarna merah menyala. Dengan panjang di atas lutut dan bibir yang dipoles lipstik merah.
“Aku sudah siap, Sayang!” Susan mengulurkan tangannya ke arah Matteo.
Yang langsung disambut Matteo. Ia bangkit dari duduknya menggandeng lengan Susan kelur dari apartemen tersebut. Selama diperjalanan Matteo duduk dalam diam mengabaikan celotehan dari kekasihnya.
Mobil berhenti di halaman mansion Matteo. Turun dari mobilnya Matteo menggenggam erat lengan kekasihnya. Seakan ia hendak memastikan kepada semua orang yang melihat wanita yang bersamanya adalah pasangannya.
***
Jantung Helena berdegup kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia merasa takut dan sendirian berada di antara orang-orang yang melihat ke arahnya dengan tatapan merendahkan.
‘Apakah ada yang salah dengan gaun yang kupakai? Mengapa mereka tidak ada yang terlihat bersikap ramah kepadaku? Papa, bahkan pergi begitu saja meninggalkanku seorang diri di antara orang-orang yang tidak kukenal,’ batin Helena.
Tatapan mata Helena terpaku pada sosok pria dengan perawakan tinggi rambut keriting sedikit panjang. Helena dalam hatinya memuji ketampanan wajah pria itu, Karena selama hidupnya berada di asrama ia dua orang sosok pria yang pernah dikenalnya. Papanya dan juga Pendeta.
‘Apakah ia calon suamiku?’ batin Helena.
Merasa ada yang menatapnya dengan begitu intens. Daniello pun mencari siapa yang menatapnya. Begitu matanya bertemu pandang dengan mata biru milik Helena yang terlihat lembut dan menyejukkan.
Daniello mengedipkan sebelah mata, ia berjalan mendekati wanita itu dengan langkah panjang. “Halo! Kamu pasti si ‘Suci Helena.’ Perkenalkan, namaku Daniello dan aku sialnya bukanlah calon suamimu.”
Dengan sedikit ragu Helena menyambut uluran tangan tersebut. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Ia merasa senang setidaknya sekarang dirinya bertemu dengan seseorang yang bersikap ramah kepadanya.
“Dan siapakah Anda, Tuan?” tanya Helena dengan suaranya yang lembut.
“Aku Daniello, sepupu dari suamimu.” Daniello meletakkan jemari Helena di bibirnya dengan tatapan mata tidak lepas dari wajah Helena.
“Sial! Mengapa sepupuku yang harus mendapatkan wanita secantik dirimu? Apakah kau mau kabur dan menikah denganku?” bisik Daniello tepat di telinga Helena.
Sontak saja Helena menjadi terkejut, secara refleks ia menarik kasar tangannya dari genggaman tangan Daniello.
“Kau tidak boleh berkata seperti itu! Dia adalah sepupumu dan saya tidak mau menyebabkan kalian bertengkar,” seru Helena dengan sedikit panik.
Daniello tertawa kecil, ia merasa senang kepada calon istri Matteo. Wanita itu terlihat begitu manis dan lugu. Ia tidak tau apakah Helena akan dapat bertahan menikah dengan Matteo yang dingin dan kasar.
Tiba-tiba saja ruang tamu di mansion tersebut yang dihadiri beberapa orang anggota keluarga utama saja menjadi hening. Membuat Helena mengikuti arah tatapan orang-orang ke pintu.
Tepat di depan pintu berjalan seorang pria dengan rambut hitam legam dipotong pendek rapi. Berjalan gagah dengan menggenggam tangan seorang wanita cantik. Mereka berdua terlihat begitu serasi dan begitu percaya diri dengan tatapan kagum dari mereka yang ada di ruangan tersebut.
Terdengar suara-suara gumaman dan rasa kagum dari beberapa wanita yang hadir. Betapa kedua pasangan itu begitu serasi dan mereka pasti akan mengumumkan rencana pernikahan mereka berdua.
Tanpa sadar jemari Helena meraih jemari Daniello dan menggenggamnya dengan erat. Hatinya membisikkan, kalau itu adalah pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang menggenggam erat jemari wanita lain seolah takut wanita itu menghilang dari sampingnya.
“Apakah kau penasaran siapa pria itu? Dan mengapa ia membuat ruangan ini menjadi hening. Ada suara, tetapi mereka berbicara dengan berbisik saja,” ucap Daniello pelan.
“Kurasa aku sudah dapat menebaknya tanpa kau beritahu. Itu calon suamiku, bukan? Dan siapakah wanita cantik yang datang bersama dengannya?” lirih Helena.
Meskipun belum pernah bertemu dan mengenal calon suaminya. Akan tetapi, Helena tetap saja merasa sakit. Di hari yang ia tau dari ucapan papanya ia akan bertunangan dengan pria itu, dan kemudian menikah. Namun, pria itu justru datang bersama wanita lain.
Daniello meremas lembut jemari Helena. “Tebakanmu benar. Dia adalah sepupuku, Matteo. Calon suamimu bersama kekasihnya. Kurasa kau harus tau mereka sudah menjadi pasangan selama bertahun-tahun. Kurasa Matteo tidak memutuskan hubungan mereka melihat dari caranya memperlakukan wanita itu.”
Helena melirik tajam Daniello. Ia yang tadinya mengharapkan sedikit simpati dari pria itu. Namun, Daniello justru mengatakan secara langsung tanpa menyaring ucapannya. Apakah yang ia katakan akan menyakiti hatinya ataukah tidak.
Helena mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dikerjapkannya mata mencegah air mata yang menggenang di pelupuk matanya tumpah. Ia tidak akan membiarkan ada yang mengasihani dirinya. Ia sudah terbiasa memendam perasaan sedih dan senangnya seorang diri.
“Jadi, apakah kau bersedia mempertimbangkan ajakanku untuk kabur dari tempat ini?” bisik Daniello dengan senyum mengejek di sudut bibirnya.