Matteo menatap tajam wanita yang ia duga adalah calon istrinya. Tatapanya beralih dari wajah wanita itu ke tangannya yang berada dalam genggaman jemari Daniello.
Susan mengikuti arah tatapan Matteo, ia mengerutkan kening karena merasakan ketegangan dari gestur tubuh kekasihnya. “Aku tidak tau, kalau Daniello memiliki kekasih. Siapa wanita itu? Ia terlihat, seperti wanita udik.”
Matteo melirik tajam Susana dengan suara dingin ia berkata, “Wanita itu adalah calon istriku! Calon ibu dari anak-anakku. Dan dia bukanlah wanita udik, dia hanya terlindungi di tempat yang suci.”
Susan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Ia membalik badan Matteo, agar berhadapan dengannya. “Kamu pasti hanya becanda saja, bukan? Tidak mungkin wanita itu calon istrimu. Akulah yang seharusnya menikah denganmu!”
Matteo melepaskan pegangan tangan Susana di kemejanya. “Jangan bertingkah! Atau kau tau sendiri hukuman apa yang sanggup kuberikan kepada mereka yang menentang keputusanku.”
Matteo berjalan kembali dengan langkah yang pasti ke tempat di mana calon istrinya, yang bahkan nama wanita itu saja ia sudah lupa. Ia mengeratkan kepalann tangannya dengan mata yang menyala karena emosi.
Kuku-kuku jemari Helena terasa menusuk telapak tangan Daniello. Ia merasa takut melihat bagaimana pria yang menjadi calon suaminya
Begitu sudah berada dekat dengan Helena dan Daniello, Matteo menghentikan langkahnya. Rahangnya terlihat tegang dengan bibir membentuk garis tipis.
“Apakah kau mencoba menggoda sepupuku? Aku seorang Capo tidak akan menerima adanya pengkhianatan. Sekalipun itu dilakukan oleh sepupuku. Terlebih lagi kau wanita asing yang dipaksakan untuk kunikahi!” desis Matteo.
Daniello melepaskan genggaman jemari Helena di tangannya. Ia kemudian mengangkat kedua tangan. “Tenang, Matteo! Aku tidak akan mengambil wanitamu. Aku hanya menemaninya saja selagi menunggu kau datang.”
Setelah mengatakan hal itu Daniello berlalu pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Helena.
“Mengapa kau marah kepadaku? Dan mengapa kau datang bersama dengan wanita lain di malam pertunangan kita? Akulah orang yang seharusnya marah. Kalau kau tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, begitu pula dengan diriku!” seru Helena dengan mata menyala karena emosi.
Ia menolak untuk terlihat lemah, walaupun sebenarnya ia merasa ketakutan. Ia merasa sendirian tidak memiliki siapapun yang dapat membantunya.
Satu tangan Matteo terangkat diletakkanya di leher Helena. “Tidak ada seorang pun yang berteriak di depan wajahku dan tidak mendapat hukuman! Pernikahan kita akan tetap terjadi dan kau akan melahirkan pewaris, seperti apa yang diwasiatkan almarhum kakekku!”
Tangan Matteo berpindah menelusuri bibir Helena. “Dan wanita yang kau maksud itu adalah kekasihku! Aku tidak akan memutuskan hubungan dengannya hanya karena aku harus menikahimu.”
Helena menarik nafas dalam-dalam. Air matanya hampir tak tertahankan lagi hendak tumpah. ‘Papa! Mengapa kau begitu kejam mengeluarkan dari tempat yang selama ini menjadi duniaku yang tenang? Monster macam apa yang kau pilihkan sebagai suamiku?’
“Aku bisa apa, bukan? Kau terlihat begitu berkuasa dan kuat. Aku hanya bisa meminta kepadamu, tolong jangan permalukan diriku dengan membawa simpananmu di jamuan resmi saat kita menikah nanti,” sahut Helena dengan suara lemah.
Lengan Matteo mencekal pergelangan tangan Helena dengan kasar sampai membuat Helena meringis, karena merasa sakit. Ia berusaha untuk melepaskan cekalan itu, tetapi tenaganya tentu saja kalah dengan Matteo.
Dengan senyum yang terlihat menakutkan Matteo berbisik di telinga Helena, “Sekarang, mari kita umumkan pertunangan kita. Dan lihat setelah pernikahan kita apakah kau bisa segera memberikan seorang keturunan untukku! Karena aku tidak tahan untuk berhubungan dengan wanita sepertimu.”
Helena tidak dapat membantah apa yang dikatakan Matteo. Lidahnya terlalu kelu hatinya terasa mati rasa. Ia merasa direndahkan harga dirinya dihancurkan pria yang akan menjadi tunangannya hanyadalam waktu singkat.
Matteo meraih gelas berisi anggur, kemudian ia memukulkan sendok untuk menarik perhatian semua yang ada di ruangan tersebut.
“Perhatian, semuanya! Saya ingin mengumumkan kepada kalian kalau malam ini adalah pertunangan saya dengan …” Matteo menoleh ke arah Helena dengan dingin. “Siapa namamu?” Tanya Matteo.
Helena tersenyum kecut mendengarnya. Baru saja ia membuka mulut hendak menyebutkan siapa namanya, pria itu kembali berucap.
“Tidak perlu! Karena siapapun namamu bagiku tidak penting sama sekali. Tidak ada gunanya untukku,” ucap Matteo.
Matteo meraih tangan Helena dan menyematkan cincin di jari manisnya. Ia lalu melepaskan tangan Helena diambilnya gelas berisi anggur yang terletak di atas meja buffet. Diajaknya kepada mereka semua yang hadir untuk bersulang.
Helena pamit kepada Matteo, kalau ia akan pergi ke toilet. Pria itu mengabaikan ucapan Helena, ia justru lebih memilih untuk berbincang dengan pria yang ada di sampingnya.
Berdiri di depan kaca wastafel Helena memandangi wajahnya yang bercucuran air mata. Ia sudah tidak kuasa lagi membendung air mata yang sedari tadi ditahannya.
Tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu toilet terbuka. Melalui pantulan cermin wastafel ia dapat melihat, kalau yang masuk adalah wanita yang menjadi kekasih Matteo.
Wanita itu berjalan mendekati Helena dan berdiri tepat di belakang Helena. “Jadi kau wanita menyedihkan yang harus dinikahi Matteo. Kau tau siapa aku? Aku satu-satunya wanita yang dicintai Matteo dan kami pasangan yang tidak terpisahkan. Kau hanyalah sampah yang dengan terpaksa harus kekasihku jadikan sebagai istri.”
Susana mencekal lengan Helena, sampai meninggalkan memar di tangan putih dan lembut tersebut. “Kau ingat ini! Matteo hanya akan tidur denganmu sampai kau melahirkan pewaris untuknya. Setelah itu ia akan membuangmu dan menjual tubuhmu kepada orang lain! Itulah arti dirimu yang sebenarnya bagi Matteo.”
Susana mendorong Helena dengan kasar sampai kepalanya membentur cermin wastafel. Hinggga cermin itu menjadi pecah berhamburan. Dengan suara tawa kemenangan wanita itu meninggalkan Helena yang jatuh terduduk di lantai.
Helena memegangi keningnya yang berdenyut nyeri. Ada darah di tangannya dan itu karena luka di keningnya. Senyum mengejek terbit di sudut bibir Helena. ‘Betapa menyedihkannya diriku. Menjadi penghalang dari pasangan kekasih dan hanya sebagai alat untuk melahirkan.’
Bangkit dari terduduknya Helena berjalan memasuki kembali ruang pesta. Yang hanya dihadiri beberapa orang saja. Dilihatnya Papanya terkejut melihat keadaannya dan bergegas berjalan menghampirinya.
Helena meraih tangan Papanya ke wajah dengan suara lemah ia berkata, “Papa! Tolong jelaskan kepadaku siapa sebenarnya Matteo? Aku tidak mau menikah dengan pria yang tega mempermalukanku, Papa!”
Papa Helena meraih putrinya ke dalam pelukan. Diusapnya dengan lembut punggung Helena. “Sayang! Maafkan Papa, tetapi kau harus tetap menikah dengannya. Keluarg akita berutang banyak kepada keluarganya. Tidak ada jalan keluar bagi kita, selain pernikahan yang sudah ditentukan. Apapun yang dilakukan Matteo kau harus bisa menerimanya. Jangan pernah mengeluh dan mungkin kau tidak akan pernah melihat Papa lagi setelah besok.”