Helena

1055 Words
Helena melepaskan pelukan pada papanya. Wajah pucatnya tampak terkejut mendengar pernyataan papanya barusan. “Apa yang Papa maksud kita tidak akan pernah bertemu lagi? Sebenarnya ada masalah apa, Papa? Tidak bisakah kau memberikan penjelasan agar aku bisa memahami semua ini?” Terdengar suara langkah kaki mendekat dan tanpa menoleh pun Helena sudah tau siapakah orang itu. Meskipun baru sebentar berada di dekat Matteo, inderanya dapat dengan menebak itu adalah tunangannya yang dingin. “Well! Apakah aku mengganggu reuni kalian berdua? Tapi sekarang sedang berpesta dan calon istriku pastinya merasa lelah. Ia harus segera beristirahat.” Matteo menjentikkan jarinya memanggil pelayan. Tak lama berselang seorang pelayan datang. “Selamat malam, Tuan! Apa ada yang bisa saya bantu?” “Antarkan tunanganku ke kamarnya! Dan pastikan ia tidak keluar dari kamar tersebut sampai besok pagi!” Perintah Matteo. Pelayan itu menganggukkan kepala. Ia mempersilakan kepada Helena untuk mengikutinya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. “Ini adalah kamar Anda, Nyonya! Besok pagi saya akan datang lagi untuk mengantarkan Anda kepada tuan. Sekarang, saya permisi dulu, Nyonya.” Pelayan berjalan keluar dari kamar tersebut. Helena berdiri di tengah kamar tersebut dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering, tetapi rasa sakit di hatinya masih basah. ‘Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini? Aku baru saja keluar dari asrama yang dingin hanya untuk masuk ke dalam tempat yang membuatku merasa terkurung lagi,’ gumam Helena. Dibaringkannya badan di atas tempat tidur. Rasa lelah setelah apa yang terjadi beberapa jam tadi membuat Helena dengan cepat tertidur lelap. *** “Sepupu Sayang dapat kulihat kalau kau tidak terlalu menyukai tunanganmu. Mengapa tidak aku saja yang menggantikanmu untuk menikah dengannya? Kau sudah memiliki Susana di sampingmu?” Daniello menepuk pelan pundak sepupunya. “Jangan pernah bermimpi kau menikahinya, Daniello! Aku tidak perlu menyukainya untuk menjadi istriku. Dia wanita yang tepat untuk melahirkan pewaris bagiku,” ancam Matteo. *** Suara ketukan di luar pintu kamar membangunkan Helena dari tidurnya. Disibaknya selimut bertepatan dengan masuknya pelayan yang tadi malam mengantarkannya. “Nyonya, saya akan menyiapkan air hangat untuk mandi. Setelah itu pakailah gaun pengantin Anda yang saya letakkan di atas tempat tidur,” ucap pelayan itu, sambil berlalu masuk ke kamar mandi. Helena yang duduk di pinggir tempat tidur langsung mengambil gaun pengantin yang dipilihkan untuknya. Ia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan seperti ini. Dirabanya gaun putih tersebut dan terasa lembut di tangannya. Satu jam kemudian, Helena sudah berada di halaman belakang mansion mewah tersebut. Berdiri di hadapan seorang Pendeta yang siap untuk menikahkanya dengan Matteo. ‘Mengapa tamu yang datang hanya sedikit saja? Kekasih Matteo juga tidak hadir, apakah ia tidak mengatakan kepada kekasihnya hari ini akan menikah denganku,’ gumam Helena. Melihat arah tatapan Helena, Matteo berbisik tepat di telinganya. “Siapa yang kau cari? Apakah kau merasa kecewa karena yang hadir hanya Papamu dan juga sepupuku, serta beberapa orang pegawaiku saja? Aku tidak merasa perlu memperkenalkanmu kepada orang lain. Dan aku juga tidak perlu mengumumkan kepada dunia diriku sudah menikah.” Helena menekan rasa sakitnya mendengar kata-kata dari Matteo. “Aku juga tidak ingin kau perkenalkan sebagai istrimu. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan yang tenang dan damai di asrama. Keramaian bukanlah kehidupanku.” Senyum smirk terbit di sudut bibir Matteo. “Baguslah, kalau kita sudah saling mengerti.” Pendeta yang berdiri di hadapan keduanya batuk kecil untuk menarik perhatian Matteo dan Helena. “Maaf, bisakah kita mulai upacara pernikahannya sekarang?” Pendeta pun mengesahkan pernikahan keduanya dan mempersilakan kepada Matteo untuk mencium pengantinnya. Matteo meraih bagian belakang kepala Helena menariknya mendekat. Bibirnya dan bibir Helena untuk pertama kalinya bertemu dalam satu ciuman singkat. “Wow! Wajahmu terlihat memerah, sepertinya gosip yang kudengar tentangmu memang benar. Kalau kau ini masih suci belum tersentuh pria manapun.” Bisik Matteo. Helena menatap tajam Matteo dengan suara tertahan ia menyahut, “Aku tidak suka memberikan diriku kepada sembarang pria, tidak seperti kekasihmu itu.” Wajah Matteo berubah menjadi merah karena marah. dicekalnya dengan kasar lengan Helena. “Kau tidak akan bertemu pria manapun tanpa seijin dariku! Jangan coba-coba kau berani menggoda lelaki lain! Kau hanya milikku seorang.” Dengan kasar Matteo mendorong Helena, kemudian berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Helena berdiri terpaku seorang diri. “Helena, Papa harus pergi. Jagalah dirimu baik-baik, Papa tidak bisa melindungimu.” Papa Helena memeluk putrinya, sebelum ia pergi. ‘Mengapa semua orang pergi dan mengabaikanku?’ gumam Helena pelan. Ternyata ucapan Helena dapat didengar oleh Daniello yang memang berjalan ke arahnya. “Aku tidak meninggalkanmu. Aku akan ada di sampingmu, tetapi apakah aku harus mengucapkan selamat berbahagia ataukah ucapan berduka untukmu?” Helena mendongak menatap Daniello dengan ekspresi sedih. “Kurasa tidak kedua-duanya, karena aku tidak mau diriku dikasihani.” “Kau tau, Matteo tidak seperti yang terlihat di permukaan. Ia seorang yang setia dan rela berkorban untuk orang yang dicintainya,” tambah Daniello. Suara tawa terlontar dari bibir Helena. “Dan sayangnya aku bukanlah wanita yang dicintai sepupumu itu.” Daniello meraih jemari Helena menepuknya pelan. Dengan nada suara tegas ia mengatakan kalau Matteo nantinya paspti akan jatuh cinta kepada Helena. Dari kejauhan Matteo terus mengawasi Helena. Entah kenapa mata dan hatinya tidak bisa mengalihkan fikiran dari Helena. Dengan langkah gagah Matteo berjalan menghampiri Helena. Digamitnya lengan Helena dibawanya menaiki tangga menuju lantai dua. Setiba di kamar utama, kamar yang menjadi kamar Matteo. Pria itu mendorong Helena hingga terduduk di pinggir ranjang. “Buka pakaianmu dan laksanakan tugasmu sebagai seorang istri untuk memberikan kepadaku keturunan!” perintah Matteo Helena menelan ludah dengan sukar, matanya menatap Matteo tidak percaya. “Tidakkah kau memiliki sikap lembut sedikit saja untukku? Aku tau kau terpaksa menjalani pernikahan ini denganku, tetapi bukan berarti kau berhak memperlakukanku sesuka hatimu.” Tangan Matteo terulur mencekau dagu Helena dengan kasar. Rahangnya mengetat dengan mata menyorot tajam ke arah Helena. Dibiarkannya suasana tegang tanpa suara hanya tatapan mereka saja yang beradu. Helena meremas seprai dengan erat. Denyut nadi di lehernya naik turun dengan cepat. Selama bertahun-tahun berada di asrama Helena memiliki kepribadian yang berani. Karena tentu saja di asrama ada anak yang merasa dirinya lebih hebat dan ia harus bisa melindungi dirinya sendiri. Dipejamkannya mata, sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar. Dibukanya mata dengan dagu yang ia angkat tinggi-tinggi menyatakan perlawanannya. “Kau yang menginginkan, maka kau sendirilah yang melakukannya! Aku tidak akan pernah secara suka rela memberikan tubuhku untuk pria b******k sepertimu!” tantang Helena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD