Amarah Matteo

1054 Words
Rahang Matteo mengetat wajahnya menjadi merah. Tangannya terulur mencekal gaun yang dipakai Helena, hingga membuat ia terangkat dari duduknnya. “Kau salah kalau berfikir aku tidak akan berani melakukannya! Kau bukan wanita yang kucintai yang perlu kupedulikan perasaannya.” Jantung Helena berdegup kencang. Dalam hatinya ia merasa gentar dengan sikap yang diperlihatkan Matteo. Akan tetapi, ia tidak mau membiarkan pria itu melihatnya. Ia akan mempertahankan sisa harga diri yang dimilikinya. DItelannya ludah dengan sukar, sebelum ia membuka suaranya dengan pelan. “Tentu saja aku tidak akan mengharap hal yang lain. Aku hanya akan mengatakan aku sangat membencimu, andai bisa aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!” Mata Matteo melebar, ia tidak percaya dengan keberanian wanita yang baru saja dinikahinya ini. Dia bertepuk tangan, sambil tertawa mengejek. “Kukira kau akan menangis ketakutan. Rupanya aku salah, kau bukanlah kucing penakut, tetapi singa kecil yang berani menunjukkan taringnya kepadaku.” Helena balas tersenyum mengejek dengan rasa percaya diri yang membaik, setelah mendengar ucapan Matteo. “Aku bukan kekasihmu yang bersikap manja dan merajuk. Aku akan membela diriku sendiri untuk sesuatu yang tidak kuinginkan!” Tangan kanan Matteo terulur memegang kasar mulut Helena sampai wanita itu mendesis karena rasa sakit. Kuku-kuku jari Matteo terasa menusuk daging Helena. Didekatkannya bibir dekat dengan telinga Helena. “Sekali lagi kuperintahkan kepadamu, buka pakaianmu untukku! Kau sudah menjadi istriku dan berarti nasibmu berada di bawah kendaliku. Kau tidak ingin membantahku bukan, Istriku? Karena kau tidak akan pernah tau hukuman apa yang bisa kuberikan kepada seorang pembangkang,” bisik Matteo. Anehnya di antara rasa takutnya akan Matteo. Tubuh Helena bereaksi dengan cara yang memalukan. Ia merasakan hangatnya embusan hangat nafas Matteo di lehernya. Dan itu membuat perutnya terasa hangat. Helena mengutuk reaksi tubuhnya akan kedekatan dengan Matteo. Ia bergumam dalam hati itu semua karena dirinya yang selama ini belum pernah berada dekat dengan pria. Lidah Helena terasa kelu tubuhnya terlalu kaku untuk bergerak. Ia membeku di tempat hatinya terbelah antara keinginan untuk mendorong suaminya itu menjauh, atau menariknya ke dalam pelukan. Cekauan tangan Matteo yang kasarlah yang menyadarkannya. Hingga membuatnya tersentak ke kenyataan. “A-aku bukanlah budakmu yang bisa kau perlakukan seenakmu. Sekalipun, aku bukanlah wanita yang kau cintai, tetapi aku manusia yang mempunyai hati dan perasaan. Namun, seperti yang sama-sama kita tau kau tidak memiliki perasaan, bukan?” Matteo menggigit lembut cuping telinga Helena membuat kesiap lolos dari bibirnya. Satu tangan Matteo meraih jemari Helena untuk ia tautkan dengan jemarinya. Matteo menumpangkan kepalanya di pundak Helena yang terbuka. Lidahnya bermain-main di leher wanita itu, sementara satu tangannya yang lain mengusap lembut leher dan bagian d**a Helena. “Betapa mudahya bagiku untuk mematahkan lehermu. Atau membuatmu merintih kesakitan. Kau bisa memilih sendiri apa yang kau inginkan Helena. Menjerit karena kesakitan ataukah karena rasa nikmat, sambil menyebut namaku berulang kali.” Matteo menggigit leher Helena meninggalkan tanda berwarna kemerahan. Helena yang memang lugu dalam hal percintaan, menggigit bibir untuk mencegah dirinya mengeluarkan suara desahan nikmat. Bagian bawah tubuhnya terasa hangat dan sialnya itu suami karena suami brengseknya. Helena memejamkan mata, ia tidak berani menatap Matteo. Suaminya itu pasti akan semakin besar kepala dan merendahkan dirinya, karena berhasil membuat ia merasa bingung dengan reaksi tubuhnya sendiri. “Buka matamu!” perintah Matteo dengan suara tegas. Helena memberanikan diri membuka matanya. Ia dapat melihat mata pria terlihat bercahaya. Dan dirasakannya bagian tubuh Matteo yang mengeras dan panas menekan tubuhnya. “Kau dapat merasakannya, bukan? Gairah tidak ada hubungannya dengan cinta, atau rasa kemanusiaan. Kau sudah berhasil membuatku ‘Bangun’ Istriku yang suci. Sekarang cepat buka pakaianmu dan akhiri drama tidak masuk akalmu. Aku tau kau juga sama bergairahnya denganku dan kau tidak dapat menyangkalnya,” bisik Matteo dengan suara serak. Jantung Helena berdebar semakin kencang. Ia sadar apa yang dikatakan oleh Matteo memang benar adanya. Namun, ia berusaha melawan rasa itu. Ia tidak boleh menyerah apalagi tunduk dengan hasrat yang ditimbulkan oleh Matteo. “Teruslah melawan hasratmu. Takdirmu menikah denganku dan memenuhi semua kewajibanmu sebagai seorang istri yang patuh.” Matteo mencium kasar bibir Helena. Ciuman yang tadinya kasar perlahan berubah menjadi lembut. Dalam hatinya Matteo tersenyum bangga. Ia tau istrinya sama sekali belum berpengalaman dalam berciuman dan bercinta. Ia lah yang pertama dan akan menjadi guru bagi istrinya untuk hal tersebut, Tangan Matteo yang besar terlihat begitu kontras dengan tangan Helena yang mungil. Namun, anehnya ia merasa dirinya begitu cocok dengan Helena, ‘Sial! Ada apa ini? Kenapa aku merasakan keinginan yang begitu kuat untuk melindungi Helena. Dan menjadikan dirinya hanya menjadi milikku seorang dan hanya aku saja yang boleh melihatnya dalam pakaian seksi,’ gumam Matteo. Dibimbingnya tangan Helena yang terasa ragu menelusuri bagian dadanya. Di mana beberapa kancing kemejanya telah ia lepas. Jemari Helena yang lembut saat mengusap lembut rambut di dadanya membuat ia harus menahan diri. Untuk tidak membaringkan paksa istrinya itu sekarang juga ke tempat tidur. Tatapan mata Matteo dan Helena bertemu, gairah dan hasrat terpantul dari mata keduanya. Pipi Helena yang mulus terlihat bersemu merah. Istri cantiknya terlihat malu-malu. Tangan Matteo terus membimbing tangan Helena bergerak ke bawah, hingga ke bagian bawah pusarnya. Ia meletakkan tangan Helena di bagian intimnya yang sudah tegak sepenuhnya. Suara kesiap lolos dari bibir Helena. Bibirnya terbuka seakan tidak percaya dengan apa saja yang baru dirasakannya. Ia berusaha menarik lepas tangannya menjauh, tetapi Matteo tidak mengijinkannya. Barulah ketika ia menggigit lengan Matteo, pria itu baru melepaskan tangannya, tetapi tidak membiarkan ia menjauh. Dirinya tetap berada dalam dekapan hangat Matteo. Yang anehnya sekarang Helena rasakan begitu nyaman dan membuatnya merasa aman, sekaligus takut. “Kenapa, Sayang? Kau merasakannya, bukan? Jangan menjadi malu untuk hal alami yang terjadi pada saat seorang pria sedang b*******h,” bisik Matteo. Helena mendongak menatap Matteo yang memang lebih tinggi beberapa inchi dari dirinya. “Tentu saja kau sudah terbiasa melakukannya bersama dengan kekasihmu!” Suara kekehan lolos dari bibir Matteo. Matteo menyadari bersama dengan Helena sebentar saja sudah berapa kali ia tertawa. Hal yang sangat jarang ia lakukan. Dan tawanya kali ini adalah tawa bahagia juga rasa senang. Ternyata istri luguku yang cantik sedang cemburu. Aku harus memberikan peringatan kepadamu seorang pria tidak harus merasakan gairah dan hasrat hanya kepada wanita yang dicintainya. Diriku memiliki darah panas yang sudah berhasil kau bangkitkan. Kuperingatkan kepadamu untuk tidak berada dekat dengan pria mana pun! Kau milikku dan hanya aku saja yang boleh menyentuhmu! Sekarang, bisakah kita lanjutkan, istriku yang galak dan lugu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD