Bagai Air dan Api

1273 Words
Helena membuka mulut hendak menyangkal apa yang dikatakan oleh Matteo. Dan hal itu tidak disia-siakan oleh Matteo yang dengan mahirnya meraih tengkuk Helena, kemudian ia menyatukan bibir mereka berdua. Helena yang selama ini belum pernah merasakan ciuman dengan pria manapun juga, selain Matteo. Hanya bisa pasrah dan dengan mudahnya terhanyut rayuan bibir, serta tangan Matteo. Ia bahkan tidak menyadari dirinya didorong dengan lembut Matteo ke atas tempat tidur. “Apakah kau sudah kehilangan suara dan tenagamu untuk menolakku, Istriku?” bisik Matteo lembut. Mata Helena terbuka lebar, ia menatap Matteo dengan matanya yang berbinar karena hasrat yang sudah dibangkitkan suaminya. Kesadaran menghantam Helena, bagaimana dirinya begitu mudahnya terbuai dengan cumbuan dari Matteo. “Terima kasih, sudah menyadarkan diri. Harus kua akui kau memang sangat ahli dalam hal merayu wanita lugu seperti diriku. Dan diriku tidak akan berbohong atau menyangkal, tubuhku menyukai apa yang kau lakukan. Akan tetapi tidak dengan hatiku yang sangat membencimu!” tandas Helena. Didorongnya d**a Matteo yang kemejanya telah terlepas. Helena tidak mau memikirkan, kalau dirinyalah yang telah melakukan hal tersebut. Begitu ia menyentuhkan tangannya ke d**a Matteo yang ditumbuhi rambut berwrna keemasan. Ia merasakan tangannya bagaikan disengat arus listrik yang mengejutkan dirinya. Dan tentu saja usaha Helena tidak sebanding dengan tenaga yang dimiliki Matteo. Pria itu bergeming dari atas tubuh Helena. Senyum mengejek yang terlihat memuakkan bagi Helena, karena senyum itu membuat pria itu terlihat begitu tampan. Dengan lesung pipi yang membuat Helena terpukau. “Aku sudah mengatakan kepadamu, kalau kau akan menyerahkan tubuhmu secara sukarela kepadaku. Tidak peduli hatimu menolak diriku, karena aku tidak menginginkan hatimu. Yang kuinginkan hanyalah tubuhmu saja dan segeralah buat dirimu berguna dengan mengandung anakku!” ejek Matteo. Tangan Helena mengepal di samping tubuh, mata yang tadinya berbinar karena hasrat berubah menjadi dipenuhi kemarahan. “Mengapa kau tidak meminta kekasihmu saja untuk mengandung anakmu? Karena aku tidak sudi melahirkan anak dari pria jahat sepertimu!” seru Helena. Tangan Matteo terulur mencekau pipi Helena sampai terasa sakit. “Aku tidak mau membuat tubuh kekasihku menjadi rusak karena mengandung. Namun, kau memberikan ide kepadaku, agar kau mengandung anakku dengan kekasihku. Hingga tubuh kekasihku tetap indah dan menarik.” Dada Helena terasa sakit mendengar betapa Matteo memuji kekasihnya. Tanpa pikir panjang ia menggigit lengan Matteo. Sontak saja pria itu melepaskan cekauannya pada pipi Helena. “Aku membencimu! Pergilah kepada kekasihmu sana dan aku tidak sudi mengandung anak kalian berdua. Lebih baik aku mati daripada melahirkan anakmu bersama wanita itu!” seru Helena. Matteo melihat lengannya yang berdarah terkena bekas gigitan Helena. Matanya menyorot tajam selama beberapa saat tidak ada yang bersuara. Hanya deru napas mereka berdua dan mata yang saling beradu pandang. “Kau terlalu berani istriku! Kau mengira dirimu begitu istimewa hanya karena menikah denganku, bukan? Aku tidak akan pernah memperkenalkanmu kepada dunia, kalau kau adalah istriku. Selamanya kau hanya akan tersembunyi di mansionku ini. Orang-orang hanya akan mengenal kekasihku saja sebagai wanitaku. Sekarang, lakukanlah tugasmu dengan sukarela!” desis Matteo. Nafas Helena terdengar memburu karena emosi. Ia menolak untuk meneteskan air mata di hadapan pria itu. Walaupun hatinya terasa sakit. Matteo tidak pantas mendapatkan air matanya. “Lakukanlah, Matteo! Karena aku tidak akan pernah secara sukarela memberikan diriku kepadamu,” sahut Helena dengan suara bergetar. “Kau menantangku, Helena? Kau pikir siapa dirimu? Kau akan memohon kepada diriku untuk menyentuhmu, tetapi aku tidak akan mempedulikanmu dan akan kubiarkan kau berlutut memohon kepadaku untuk menyentuh, serta bercinta denganmu,” ejek Matteo. Helena menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia sempat memikir ulang apa yang akan dilakukannya. Tangannya terulur menampar pipi suaminya itu, hingga menimbulkan bunyi nyaring. “Lebih baik aku mati karena hasrat, atau aku mencari pria lain daripada menghasratkan dirimu,” desis Helena dengan gigi gemeratakan. Mendengar kata pria lain membuat wajah Matteo memerah karena emosi. Rahangnya mengetat dengan tangan yang mengepal di keddua samping badan pria itu. “Coba saja kau goda pria lain dan aku akan membunuh pria itu! Kau istriku, milikku! Aku tidak suka membagi milikku dengan orang lain.” Matteo mengguncang bahu Helena dengan kasar. Helena menggigit bibir mencegah dirinya berteriak karena sakit. Namun, secepat Matteo menyakiti pundaknya. Secepat itu pula ia mengakhirinya. Matteo menundukkan kepala sampaii bibirnya menyentuh leher Helena yang terbuka. Bibir dan lidahnya bermain dengan mahir di sana. Membuat tubuh Helena menggelinjang memohon. Ia menggigit bibir mencegah suara desahan kenikmatan terlontar dari bibirnya. Di saat Helena hampir menyerah dan memohon kepada Matteo, permohonan kepada pria itu agar tidak mempermainkan tubuhnya dan pikirannya yang suci. Matteo memaksakan dirinya menjauh dari Helena. Ia berdiri mencakung di atas Helena yang berbaring dengan rambut tergerai di atas bantal. ‘Sial! Kenapa ia terlihat begitu memukai dengan penampilannya sekarang ini? Aku tidak boleh tergoda kepadanya. Ia hanya berguna untuk memberikan keturunan saja bagiku,’ gumam Matteo. Matteo berjalan cepat menuju pintu untuk keluar dari kamar Helena. Tangannya sudah memegang kenop pintu saat ia mendengar suara Helena. Yang nyaris hampir tidak terdengar. “Ke-kenapa kau pergi begitu saja? Apa yang sudah kau lakukan pada tubuhku? Kau membuatku menginginkan dirimu dan sekarang kau pergi begitu saja?” lirih Helena. Matteo membalikan badan senyum kemenangan terlihat di wajahnya. “Sungguh kasian, istriku! Kau bisa mandi air dingin untuk mendinginkan badanmu. Sementara aku, akan pergi ke ranjang kekasihku yang hangat.” Mattep memutar kenop pintu berjalan keluar dari kamar tersebut dengan cepat. Yang tidak diketahui Helena adalah dirinya tidak pergi ke apartemen kekasihnya. Akan tetapi, dirinya berada di ruang kerjanya. Ia hanya memberikan pelajaran kepada Helena untuk tidak menolak kewajibannya sebagai seorang istri. Mata Helena menatap pintu kamarnya yang telah tertutup. Air mata yang tadi ia tahan tumpah juga. Dipukulnya berulang kali bantal meluapkan rasa frustrasinya. ‘Kenapa aku harus menikah dengan pria sekejam itu? Apa yang harus kulakukan untuk keluar dari pernikahan ini?’ gumam Helena. Lama-kelamaan rasa lelah dan kantuk menghampiri Helena juga. Ia tertidur dengan pulasnya. Melupakan rasa marah dan kesedihan yang sedang menimpa dirinya. Sementara itu, Matteo duduk di balik meja kerjanya. Sebatang cerutu ia hisap dengan nikmat. Dengan asapnya berhembus di ruangan tersebut. Suara langkah kaki terdengar mendekat, tetapi Matteo mengabaikannya. Ia tau siapa yang datang dari suara langkah kaki dan aroma parfum yang familiar. “Kau terlihat menyedihkan, sepupu? Apakah istrimu mengusirmu dari kamar, hingga kau berada di sini dan bukannya berada di kamar tidur bersama dengan istrimu yang lugu. Apakah kau menyesali pernikahanmu, Matteo? Aku …” Daniello tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Matteo yang balas menatapnya dengan sorot tajam. “Aku tau apa yang kau pikirkan dan kalau kau berani mengucapkannya. Aku akan mencambukmu, sepupu! Aku juga tidak perlu menjelaskan apa pun keadamu!” Daniello mengangguk. Ia duduk di kursi yang ada di hadapan Matteo. “Aku akan bergabung denganmu untuk minum. Aku ingin bersulang untuk istrimu, karena ia sudah berhasil membuatmu menjadi kacau. Aku tau kau akan menyangkalnya, tetapi aku belum pernah melihatmu bersikap begini. Kau begitu cemburu ketika ada pria lain yang mengagumi istrimu. Sementara kau terlihat begitu membenci Helena.” Matteo membuka mata dilayangkannya tatapan membunuh kepada Daniello. “Aku tidak akan mengatakan apa pun juga kepadamu.. Kau aman selama tidak menyentuh istriku, tetapi begitu kau melanggar aturanku. Jangan salahkan aku, kalau harus menuntut balas kepadamu.” Matteo bangkit dari duduknya. Langkah kakinya membawa ia kembali ke kamar Helena. Begitu pintu kamar itu terbuka dilihatnya, kalau Helena sudah tidur dengan lelapnya. Dengan pelan Matteo membaringkan badan di samping Helena. Diraihnya kepala wanita itu, hingga berbaring dengan berbantalkan lengannya yang kokoih. “Apa yang sudah kau lakukan kepadaku, istriku? Kau membuatku hampir kehilangan kendali dengan sikap lugumu. Kau tidak menyadari pesona dirimu yang membuatku ingin menghukum pria yang berani memberikan tatapan kagum kepadamu. Aku tidak mengijinkanmu untuk disentuh lelaki, selain diriku,” bisik Matteo, sambil memberikan kecupan di pundak terbuka Helena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD