Rintik hujan membasahi tanah ibukota malam ini, suara gemuruh dan petir menyambar datang silih berganti bersamaan dengan ribuan tetesan hujan yang belum mau menyingkir sedikit pun sejak tadi. Alam seakan ikut sedih dan merasakan bagaimana perasaan seorang pria tampan yang sejak tadi berdiri di balik jendela ruangan di cafenya. Sudah hampir satu jam Jevan berdiri menatap ke luar jendela yang basah karena hujan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, pandangannya lurus ke depan namun terlihat menerawang memikirkan sesuatu. Ya. Pikirannya memang sedang melanglang buana memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya. Tadi—saat di ballroom hotel, Jevan mendengar semuanya. Telinganya masih berfungsi dengan sangat benar hingga ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan big boss

