Kapal bersandar di pelabuan Soekarno-Hatta jam setengah lima sore, tadi setelah Saka kembali ke kamar, Saka langsung memanggil teman-temannya, lebih tepatnya meminta pendapat Sonya, karena ini pertama kalinya Saka naik kapal dan Saka tidak tau modus penipuan yang terjadi di Kapal, makanya Saka menyerahkan ini semua pada Sonya yang sudah berpengalaman naik kapal laut.
“Tapi menurut aku coba aja, siapa tau memang orang baik yang ingin mengajak kita tour singkat,” Ucap Ghea setelah mendengar penjelasan Saka barusan.
“Kita harus hati-hati Ghe jangan gegabah.” Daffa menolak usulan Ghea.
“Ihhhh,, lo kenapa penakut sekali, sesekali coba jadi orang pemberani bisa dong,” Balas Ghea, Ghea yang pemberani, suka tantangan, dan spontan, berbanding terbalik dengan Daffa yang menghitung semuanya matang-matang sebelum bertindak.
“Aku bukan penakut, tapi aku tidak ingin ada hal yang tidak kita inginkan terjadi selama di perjalanan, kita para laki-laki memiliki tugas maisng-masing, aku sebagai sepupumu berhak dan wajib menjagamu selama di perjalanan memastikan kamu aman, baik-baik saja, tanpa luka sedikitpun, ngerti?.” Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala takjub mendengar ucapan Daffa barusan.
“Ekhmm,,,, sebaiknya kita bertemu dengan Tuan Damar terlebih dulu, baru kita bisa menilai Tuan Damar ini orang baik atau tidak, jadi jangan mengambil kesimpulan sendiri sebelum bertemu dengan orangnya,” Sonya menengahi perdebatan Daffa dan Ghea.
“Kita berdua setuju dengan Sonya,” Balas Bayu langsung, Saka hanya mengangguk saat di pandang Daffa dan Ghea.
“Mending kita siap-siap dulu, jangan sampai kapal udah bersandar kita masih ributin masalah ini disini dan belum bersiap-siap sama sekali.” Sonya kembali berbicara, Sonya memaklumi sekali sikap Daffa yang ingin melindungi sepupu dan teman-temannya, itu pernah terjadi dengannya dulu saat dia bersama teman satu daerahnya kembali ke Bintuni, banyak ajakan plesiran singkat namun Sonya sangat-sangat berhati-hati agar semuanya baik-baik saja tanpa ada hal-hal yang tidak di inginkan, namun setelah sekali dua kali dia naik kapal, akhirnya Sonya menyadari jika itu bentuk keramah tamahan orang-orang untuk menjalin silaturahmi sesame orang Indonesia. Bukannya ada pepatah yang mengatakan ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’.
****
Saka telah menghubungi Om Damar tiga puluh menit yang lalu, Saka mengatakan jika dia dan teman temannya akan menunggu di dekat pintu keluar, dan Om Damar menyetujuinya.
Saka melihat Om Damar berdiri di dekat pintu keluar bersama beberapa orang yang mungkin akan turun di Pelabukan Soekarno-Hatta Makassar.
“Om Damar,” Saka melambaikan tangannya pada Damar dari kejauhan, siapa tau Om Damar melihatnya.
“Saka, sini,” Om Damar ternyata melihat lambaian tangan Saka, membuat Saka dan teman-temannya mempercepat langkahnya agar sampai di tempat Om Damar berdiri, pasalnya di dekat pintu keluar cukup banyak orang yang mungkin mengantre untuk keluar, entah mereka ingin pelesiran atau memang tujuan mereka datang ke kota Makassar.
“Om Damar maaf lama, tadi cukup ramai jadi kami harus berdesak-desakan dengan orang yang ingin keluar juga,” Saka meminta maaf atas keterlambatannya, untung saja belum di tinggal.
“Tidak apa-apa, ohhh ya, ini semua teman-temanmu?.” Tanya Om Damar.
“Iya Om, ini Bayu, Daffa, Ghea, dan ini Sonya, teman sekamar Ghea, kita berempat baru mengenal Sonya saat di kapal.” Saka memperkenalkan keempat temannya dan tidak lupa memperkenalkan Sonya juga.
“Tunggu, sepertinya Om tidak asing denganmu Nak,” Om Damar mencoba mengingat ingat sebentar kiranya dimana dia melihat Sonya.
“Saya Sonya Om, yang dulu nganter Istri Om Damar ke rumah Om di Surabaya,” Jelas Sonya, karena Sonya belum lupa dengan Om Damar.
“Ahhh,, iya, Om ingat, Om tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi, setiap Om kembali ke Makassar atau berangkat ke Surabaya Om selalu berkeliling kapal, mungkin kita bisa bertemu lagi pada akhirnya Tuhan mengabulkan doa Om melalui Saka.” Ucpa Om Damar penuh syukur. Dulu saat pertama kali istrinya datang ke Surabaya dia sedang bekerja dan tidak ada orang yang bisa di mintai tolong untuk menjemput istrinya di Pelabuhan, beruntung saat itu istri Pak Damar bertemu dengan Sonya, dengan ikhlas Sonya mengantar istri Pak Damar sampai ke rumahnya.
“Setelah saya mengantar Ibu Emmy, saya memang tidak kembali ke rumah, selain saya kuliah saya juga bekerja, jadi sedikit sekali waktu libur yang saya miliki jadi saya tidak bisa pulang begitu saja, saya harus resign dari tempat saya bekerja agar saya bisa kembali sebentar ke Bintuni,” Sonya menjelaskan permasalahan yang dia alami kenapa dia tidak bisa kembali ke Bintuni setelah bertemu dengan istri Pak Damar saat itu, entah dua atau tiga tahun yang lalu Sonya lupa, saking lamanya dia tidak kembali ke Bintuni.
“Kita lanjut ngobrolnya di kedia makan istri Bapak saja, jangan disini,” Mereka berlima mengangguk membenarkan ucapan Pak Damar barusan.
*****
Kedai makan di pinggir pantai menjadi tempat persinggahan banyak orang untuk makan sekaligus menikmati angin spoi spoi di tepi pantai, aroma masakan khas Makasaar menguar di udara membuat siapa saja yang menghirup aroma masakan rasanya ingin mampir untuk makan,, mulai dari ikan hingga daging menjadi favorit pengunjung ditambah tempat yang rapi dan bersih menjadi tempat persinggahan yang sangat nyaman.
Taxi putih berhenti di depan kedai makan, enam penumpang langsung bergegas turun dari taxi setelah taxi berhenti di depan kedai makan Coto Nusantara
“Ayo masuk,, maaf kedainya seperti ini, tapi jangan salah menilai masakan yang tersaji, pasti kalian akan ketagihan.” Pak Damar mengajak mereka berlima untuk masuk kedalam kedai makan milik istrinya.
“Pak Sampai miki?, bagaimana perjalanannya ta?” (Bapak sudah sampai?, bagaimana perjalanannya,?) Tanya Istri Pak Damar ketika Pak Damar memasuki rumah makan milik istrinya.
“Baikji Bu tidak ada kendala sama sekali, lancarji semuanya, ini bawa ka juga tamu, karena mereka mau juga pergi jalan-jalan disekitar Pelabuhan bu,” (Baik Buk tidak ada kendala sama sekali, semuanya lancar, Bapak juga bawa tamu, mereka sekalian ingin pelesiran ke sekitar Pelabuhan.) Istri Pak Damar baru menyadari jika suaminya tidak datang seorang diri melainkan bersama lima orang, tiga laki-laki dan dua perempuan.
“Pak, kenapaki pulang bawa rombongan? Siapa itu? ” (Bapak pulang kenapa bawa rombongan? Mereka siapa?, ) Tanya istri Pak Damar yang penasaran dengan rombongan yang di bawa suaminya.
“Buk kenalin Saka, Bayu, Daffa, Ghea mereka dari Yogyakarta, kalau ini Sonya ibu masih ingat ta ingatji sonya toh? Yang pernah antar ki Ibu sampaina Surabaya?” (Ibuk, kenalin ini Saka, Bayu, Daffa, Ghea mereka berempat dari Yogyakarta dan ini Sonya, Ibu masih ingatkan dengan Sonya kan?, yang dulu nganter Ibu sampai di rumah Surabaya) Pak Damar memperkenalkan rombongan yang dibawanya.
“Astaga Sonya, maaf nah ku lupa, maki lama sekali maki tidak ketemu, kalau kita n” (Astaga Sonya, maaf Ibu sedikit lupa, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya, buat nak, siapa tadi, ibu sudah lupa lagi ) Ucap istri Pak Damar disertai raut penyesalan.
“Perkenalkan saya Saka, ini Daffa, sebelah saya Bayu dan di samping Sonya itu Ghea,” Saka memperkenalkan teman-temannya pada Istri Pak Damar.
Kalau saya Emmy istrinya Pak Damar, maaf nah kalau basahasa Indonesia ku berantakanki, begitu mi kalau sudah terbiasa miki tinggal Makassar jadi begini maki bicara.” (Saya Emmy istri Pak Damar, maaf kalau bahasa Indonesia saya berantakan, sudah terbiasa tinggal di Makassar jadi ya seperti ini bicaranya) Saka dan teman-teman yang lain hanya mengangguk paham.
“Ayoo,, ayo,, duduk, kalian harus cicipi masakan khas Makassar apa lagi masakan Istri Bapak, di jamin tidak kalah sama masakan hotel.” Pak Damar menyuruh mereka berlima untuk duduk, dan mencicipi masakan istrinya.
“Terima kasih banyak Om Damar,” Balas Bayu, Sedari tadi Bayu hanya diam matanya tertuju pada hiasan etnik yang terpasang di beberapa sudut kedai makan milik Pak Damar.
Kedai makan milik istri Pak Damar sore itu cukup ramai letaknya yang strategis dekat dengan Pelabuhan Soekarno-Hatta menjadikan kedai makan ini tempat makan kan yang mudah dijangkau keluar masuk Pelabuhan.
Sembari menunggu hidangan yang akan disajikan istri Pak Damar, Pak Damar asyik mengobrol dengan Saka, Bayu dan Daffa. Sementara Ghea dan Sonya Sibuk foto-foto, kedai makan milik istri Pak Damar cukup menarik dengan hiasan etnik yang jarang ditemukan di kedai makan lainnya Ghea yang baru pertama kali melihat ingin cepat-cepat berswafoto di beberapa sudut kedai makan ini, beruntung Sonya dengan suka rela menemani kegilaan Ghea.
“Kaka cantik, boleh lah main dengan kita-kita, kita traktir Kaka berdua makan dan minum,,” Dua laki laki mungkin seusia Sonya menghampiri Sonya dan Ghea yang sedang foto-foto di halaman samping kedai makan miliki Bu Emmy, memang ada area samping biasanya untuk anak-anak muda yang nongkrong sambil makan sembari menikmati pemandangan laut yang tersaji di depan mata.
“Ishhh apaan sih lo, ganggu aja,” Ghea langsung menarik Sonya pergi dari area samping kedai namun laki-laki itu mencekal tangan Ghea.
“Santai Kaka, kami hanya ingin mangajak Kaka minum, sayang sekali Kaka cantik tapi tidak ada laki-laki bersama Nona,” Balas Laki-laki di hadapan Ghea,
“Gue gak tau lo ngomong apa gue juga enggak perduli sama lo,, asal lo tau lo berdua itu ganggu banget, mending lo pergi dari sini,” Ghea mengusir dua laki laki yang mengganggunya, Ghea paling tidak suka di dekati orang asing, apa lagi di tempat baru seperti ini.
“Ada apa Ghea?.” Tanya Om Damar dari kejahuan, yang kebetulan ingin memanggil Ghea dan Sonya untuk menikmati es pisang hijau yang menjadi favorit di kedai makan milik istrinya.
“Enggak ada apa-apa Om,” Ghea langsung menyentak tangan laki-laki yang memegangnya, Ghea dan Sonya langsung berjalan cepat menuju Damar yang masih berdiri di pintu pembatas antara area dalam dan area luar kedai.
“Ada apa Om manggil kita?.” Tanya Ghea, ketika Ghea sampai di hadapan Damar.
“Ayo makan es pisang hijau, dan makan hidangan lainnya,” Ajak Damar, Ghea dan Sonya mengangguk mengiyakan ajakan Damar.
“Om Damar tidak perlu repot-repot seperti ini, Ghea jadi enggak enak dengan Om Damar dan Tante Emmy,” Balas Ghea.
“Banar Om, Om dan Tante Emmy tidak perlu menghidangkan banyak makanan untuk kita,” Sambung Sonya.
“Tidak ada yang repot, kami senang kalian bisa mampir ke rumah makan milik kami, ayooo, yang lain udah menunggu di dalam,” Om Damar mengajak Ghea dan Sonya masuk kedalam.
Saka, Bayu, dan Daffa, menahan nafas setelah melihat meja mereka di penuhi dengan banyak hidangan makanan khas Makassar, ini sih gila, mulai dari seafood hingga daging, dari camilan hingga makanan berat terhidang di hadapannya.
“Wow,,, astaga,” Daffa langsung menoleh ketika mendengar suara Ghea di belakangnya.
“Gila,, sebanyak ini?.” Ucap Ghea lagi, membuat Saka dan Daffa saling pandang, malu, tentu saja, Ghea dan sikap bar-barnya memang tidak di ragukan lagi.
“Ayo,, enggak usah malu-malu, kalian bisa langsung menikmati hidangannya, maaf Cuma ini yang bisa Om hidangkan untuk kalian.” Om Damar mengajak mereka untuk makan.
“Om Damar, ini lebih dari cukup, kami semua berterima kasih dengan hidangan yang Om Damar sajikan untuk kami,” Saka yang tidak enak hati akhirnya bicara.
“Tidak apa Saka, ayo langsung di nikmati saja, Ghea, Sonya Ayo duduk, kalian harus mencicipi Jalangkote, ini enak sekali,” Om Damar menggeser piring berisi Jalangkote ke tengah tengah meja, agar mudah di gapai oleh Saka dan teman-temannya.
“Iya,Om,” Bayu mengambil satu, langsung mencicipinya, bentuknya seperti pastel goreng jika di Yogyakarta, untuk isi di dalamnya juga hampir sama.
“Wahhhh ini enak sekali Om.” Ghea sudah mencicipi Coto Makassar yang tersaji di hadapannya.
“Ayooo Daffa, Saka, Sonya, jangan sungkan, kalian juga harus makan.” Om Damar menyuruh mereka bertiga untuk makan.
“Iya Om.” Daffa mulai mengambil makanan yang ada di meja.
“Ayo,, Om Damar juga harus makan, tidak enak rasanya jika hanya kami yang makan, ngomong-ngomong dimana Tante Emmy?.” Tanya Saka, karena Saka tidak melihat keberadaan Tante Emmy setelah mereka berkenalan tadi.
“Tante Emmy sedang membantu pekerja di dapur, menjelang makan malam biasanya kedai ini ramai, jadi mereka harus menyiapkan bumbu dan bahan masakan yang akan di masak nanti malam,” Jelas Om Damar.
Om Damar yang duduk disamping Saka juga ikut menikmati makanan yang tersaji di meja.
Satu masakan demi masakan yang tersaji di meja tandas di perut mereka berenam, Om Damar juga makan cukup banyak namun tidak sebanyak Ghea, kalau urusan makanan memang Ghea nomor satu, tidak ada lawannya.