“Lo,, Sonya disini? Sama Ghea?.” Tanya Bayu, Bayu memang keluar seorang diri karena Saka masih tidur dan Daffa tidak mau keluar dari kamar dengan alasan sedang beres-beres.
“Emmm,, tuhhh Gheanya lagi mabar,, akunya di cuekin dehh,” Sonya malah berkeluh kesah dengan Bayu.
“kenapa enggak ikut main sekalian?.” Tanya Bayu.
“Aku gak terlalu bisa main game, yang ada malah malu-maluin Ghea kalau ikut main,” Balas Sonya.
“Gimana kalau kita tinggalin Ghea, kayaknya nonton bioskop seru nihh, dari pada gak ada kerjaan,” Ajak Bayu.
“Emmmm boleh juga,, ayoookkk,,” Sonya dan Bayu meninggalkan Ghea yang masih asik mabar di ruang game,.
Menonton bioskop berdua cukup aneh bagi Bayu dan Sonya, mungkin karena ini pertama kali mereka benar-benar berdua, terlebih mereka baru mengenal kemarin.
“Lo berdua ya, gue cariin juga malah asik nonton bioskop,” Ghea cukup kesal dengan Bayu dan Sonya yagn tiba tiba menghilang begitu saja, untung tadi Ghea sempat membuka pesan dari Sonya kalau enggak mungkin Ghea udah kelimpungan mecari Sonya di kapal sebesar ini dengan ribuan manusia di dalamnya.
“Lo juga, kalau mau main game terus lo ngajak Sonya tapi Sonya lo abaikan mendingan jangan dehh, kasihan dia hanya menjadi penonton lo.” Apa yang di katakan Bayu benar adanya, tapi Ghea tetaplah Ghea perempuan keras kepala yang kekeuh pada pendiriannya kalau itu mungkin saja salah.
“Hehehehehe.... Aku minta maaf soal tadi, aku janji lain kali aku bakalan ngajakin kamu main game bareng,” Ghea minta maaf pada Sonya.
“Mending kita nongkrong di dek kapal aja sambil nikmati udara laut, langit gak begitu terik juga,” Ajak Sonya pada Bayu dan Ghea.
“Bener banget, yuk kita ke dek tapi beli makanan dulu gue laper lagi.” Usul Ghea.
“Lo kenapa sih makan sama main game yang lo fikirin? Gak ada yg lain apa?,” Tanya Bayu, lebih tepatnya Bayu jadi provokator Ghea.
“Lo, jangan bikin mood gue ancur deh, gue pengen seneng-seneng, gue pengen liburan, gue pengen menikmati liburan gue,” Ghea sepertinya sedang sensitif, sensitifnya, saat ini Ghea lagi mendapat tamu bulanan dan Bayu mungkin tidak tahu bagaimana sebagaian perempuan kurang bisa mengontrol emosinya saat mendapat tamu bulanan.
“Ghea,, tarik nafas yang dalam,, hembuskan perlahan, tarik lagi,, hembuskan, ulangi sampai rasa amarahmu mereda,” Sonya mencoba membantu Ghea untuk menggendalikan emosinya supaya tidak meledak-ledak.
Mengikuti saran dari Sonya, tarik nafas hembuskan berkali-kali hingga Ghea merasa tenang.
“Gimana udah reda emosinya?,” Tanya Sonya, setelah melihat Ghea beberapa kali mengatur nafasnya.
“Lumayan,” Balas Ghea.
“Ghe,, gue minta maaf, gue enggak tau kalau ada ucapan gue yang menyinggung lo, sebagai permohonan maaf gue, gue traktir kalian berdua makan sepuasnya kali ini,” Bayu meminta maaf pada Ghea, sebagai laki-laki bertanggung jawab, Bayu tentu mengakui kesalahannya, lagian minta maaf dan mengakui kesalahannya bukan hal yang sulit jika masih punya hati Nurani.
“Beneran lo traktir gue?.” Tanya Ghea untuk memastikan, siapa tau Bayu ngeprank dia.
“Iya,, gue traktir, terserah lo mau makan apa aja, gue yang bayarin.” Balas Bayu lagi.
“Asikkkk,, gue makan banyak hari ini,” Ghea langsung meninggalkan Bayu dan Sonya.
“Ehhhh,, Sonya ketinggalan,” Ghea yang sudah berjalan cukup jauh kembali lagi, karena Sonya ketinggalan, dasar Ghea.
Sonya dan bayu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd Ghea.
*****
Melihat ke bawa dengan mata setengah terpejam Saka merasa tidak ada orang sama sekali, mungkin pada pergi, pada akhirnya Saka kembali tidur, namun deringan ponselnya membuat Saka mau tidak mau kembali membuka matanya.
“Emmmmm,,,” Saka tidak melihat siapa yang menelfonnya, matanya hanya fokus pada layar hijau di kanan bawah layar ponselnya.
“Saka, kamu dimana? Papa sama Mama Ambar lagi di Jogja, kos kamu sepi gak ada orang.” Rasa kantuk Saka langsung hilang setelah mendengar suara Papanya.
“Saka lagi liburan,” Balas Saka dengan suara serak-serak basah, khas orang bangun tidur.
“Kamu liburan kemana? Kenapa enggak bilang sama Papa? Kan kita bisa liburan sama-sama Saka,” Ucap Papa Saka.
“Kita tidak se dekat itu sampai harus liburan bersama, selamat sore Tuan Anggara.” Saka langsung mematikan sambungan telfonnya.
Ponsel Saka kembali berdering, namun Saka tidak perduli, Saka hanya tidak ingin menambah luka di hatinya.
Memilih untuk mandi sore, dari pada melanjutkan tidurnya, itu seperti pilihan yang tepat buat Saka, setelahnya mungkin Saka akan mencari teman-temannya yang pergi entah kemana.
Membuka pintu toilet, Saka melihat Bayu sedang rebahan di tempat tidur dengan wajah kusutnya.
“Kenapa lo? Kusut amat wajah lo kaya baju belum di setrika.” Tanya Saka sembari berjalan menuju tempat tidur Bayu.
“Gara-gara Ghea kalap makan gue harus bayarin Ghea dan Sonya makan hampir empat ratus ribu, tu anak pinter banget kalau balas dendam.” Bayu mengusap-usap wajahnya, membuat Saka ingin menertawakan nasib Bayu yang kurang baik hari ini.
“Ahhhh,, tau gitu gue ikut lo tidur siang aja,” Bayu kembali menyesali nasib sialnya hari ini.
“Mending lo mandi dulu, udah sore juga, baru tidur, biar badan lo segeran dikit,” Bayu hanya mengangguk sekilas, saran Saka ada benarnya, dengan wajah kusut dan mata setengah terpejam Bayu bangun dari rebahannya.
Saka hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Bayu saat ini.
“Hati-hati tembok Bay, jangan lo tabrak.” Saka memberi peringatan pada Bayu, Bayu kalau udah ngantuk di paksa buat jalan bisa nabrak sana sini.
“Emmmm,,,” Bayu hanya bergumang sebelum menutup pintu kamar mandinya.
Saka memilih untuk keluar mencari camilan di cafétaria dari pada di kamar, sementara Bayu sedang tidur, Saka tidak ingin mengganggu Bayu.
Berjalan santai di lorong kapal, sembari mencari tempat yang nyaman untuk bersantai, tapi melihat makanan di cafetaria perut Saka jadi keroncongan, pada akhirnya Saka memilih untuk membeli makan terlebih dulu sebelum mencari tempat yang nyaman untuk menikmati keindahan laut sore di atas kapal yang berlayar di tengah laut.
“Permisi Nak, boleh Bapak duduk disini?.” Saka yang sedang duduk di tempat duduk cafetaria sembari menikmati keindahan laut dari tepi jendela di kagetkan dengan kedatangan laki-laki paruh baya.
“Boleh Pak, silahkan.” Balas Saka, Saka merasa ini tempat umum, siapa saja bisa duduk dan bersantai disini.
“Terima kasih banyak,” Balas laki-laki paruh baya di hadapan Saka.
“Sama-sama Om,” Saka tidak tau harus memanggil laki-laki paruh baya di hadapannya dengan panggilan apa, Om, panggilan yang mungkin cocok untuk laki-laki paruh baya di hadapannya.
“Anak muda yang ramah, ohh ya, kemana tujuan mu Nak?.” Tanya laki-laki paruh baya di hadapan Saka.
“Saya dan teman-teman mau pergi ke Teluk Bintuni untuk liburan sekaligus belajar Om, kalau Om sendiri ingin kemana? Ohh ya perkenalkan saya Saka,” Saka mengulurkan tangannya, berniat untuk berjabat tangan dengan laki-laki di hadapannya.
“Saya Damar Lestaluhu, panggil Damar saja, saya mau berkerja ke Makassar, wahhh jarang jarang ada anak muda yang mau liburan sampai kepelosok negeri, kan biasanya pada liburan ke luar negeri, sampai lupa dengan keindahan negerinya sendiri.” Damar berkomentar pada fenomena yang terjadi saat ini.
“Benar apa yang dikatakan Om Damar, memang banyak anak muda yang memilih untuk liburan ke luar negeri dari pada liburan di negeri sendiri, dari beberapa pengalaman teman-teman saya, loburan di luar negeri itu hanya untuk ajang pamer, kalau udah pernah ke negara A, B, C, mengunjungi tempat ini, itu, sementara teman yang lain, yang liburan di dalam negeri, mereka ingin mengenal negara yang mereka tinggali lebih dekat, Indonesia negara besar, dengan ribuan pulau dan ribuan budaya yang berbeda beda, menjadikan Indonesia sangat mengagumkan dan patut untuk di banggakan di kancah internasinal namun masih banyak kekurangan yang harus di perbaiki, seperti transportasi, infrastruktur, fasilitas public, dan masih banyak lagi,” Saka tidak menyangka kalau dia bisa juga bicara panjang lebar mengenai negara tempat tinggalnya.
“Benar sekali Saka, untuk mencapai hal itu butuh banyak orang untuk berkerja sama membangun Idonesia terutama generasi muda, Idonesia butuh generasi muda yang memiliki mental kuat, tahan banting, dan pekerja cerdas. Om sebagai generasi tua hanya bisa memantau dan menyemangati kalian,” Damar merasa nyaman bicara dengan Saka, pengetahuan Saka dan kemampuan bicara Saka sangat bagus untuk diajak diskusi.
“Iya Om, kalau generasi muda tidak memiliki mental membangun dan bertahan perlahan kita akan menjadi begundal di negeri sendiri, mungkin bagi satu persen orang di Indonesia yang hidupnya telah terjamin tidak masalah akan hal itu, tapi bagi kita-kita rakyat biasa kita hanya akan di jajah secara halus,.” Ucap Saka memelankan suaranya, bisa bahaya kalau Saka asal bicara, pasalnya sekarang banyak paparazzi tak bertanggung jawab asal rekam, post di sosial media.
“Yahhhh,, terkadang kita hanya tidak menyadarinya, kalau kita sedang di perbudak secara halus.” Damar ikut berkomentar dengan realita yang terjadi saat ini.
“Benar Om, semuanya kembali pada kesadaran diri masing-masing, dengan resiko yang mengikuti di belakangnya,” Ucpa Saka semabri menerima pesanan yang Saka pesan tadi.
“Om enggak pesan makan atau minum?.” Tanya Saka, melihat pesanan milik Sak asudah terhidang Saka merasa tidak enak jika Saka makan sementara Om Damar tidak makan atau sekedar minum,.
“Santai Saka, Om telah memesan makan dan minum, kamu jangan sungkan pada Om,” Balas Damar.
“Ohh ya, kamu masih kuliah atau udah kerja Saka?,” Tanya Damar.
“Aku kuliah di UGM Om,” Balas Saka, Saka merasa ada yang aneh setelah mengatakan jika Saka berasal dari UGM Damar langsung terdiam tanpa membalas ucapan Saka barusan.
“Ada yang salah Om?.” Tanya Saka.
“Ahhhh tidak, Om hanya sedang memikirkan sesuatu, kamu makan dulu saja, dari pada makananmu dingin.” Damar menyuruh Saka untuk makan terlebih dulu.
“Tidak Om, kita makan sama-sama, lagian makanan Saka masih panas, bukannya tidak baik untuk Kesehatan lambung.” Elak Saka, karena Saka masih memiliki manner pada orang yang lebih tua darinya.
“Ohhh ya, ini Om Damar mau kembali ke Makassar atau pergi ke pulau lain?.” Tanya Saka membuka kembali percakapan yang sempat terhenti.
“Iya,, Om akan mengunjungi anak dan istri Om di Makassar, sementara Om bekerja di Surabaya.” Saka mengangguk mendengar jawaban Damar.
“Kamu sendiri asli mana Saka?.” Tanya Damar balik.
“Saka dari Salatiga Om, kota kecil tapi sangat nyaman untuk di tinggali di bawah lereng gunung Merbabu,” Jelas Saka, akan kota tempat tinggalnya, pasalnya beberapa orang tidak tau akan kota Salatiga.
“Ohhh iya,, Om pernah mendengar kota itu, namun Om tidak ada kesempatan untuk pergi kesana.” Balas Damar.
“Saka, kamu disini sama teman-temanmu kan? Gimana kalau nanti saat kapal bersandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar kamu plesiran singkat di sekitar Pelabuhan, kebetulan istri Om punya kedai kecil-kecilan di dekat Pelabuhan.” Ajak Damar,
“Wahhh kebetulan sekali Om, katanya kapal singgah di Makassar cukup lama bisa dua sampai tiga jam kita-kita juga sudah berencana untuk plesiran singkat kalau memang waktu dan tempatnya cocok,” Saka dan teman-temannya memang sudah berencana untuk plesiran singkat di tiap kapal bersandar di Pelabuhan.
“Nahhhh itu tepat sekali, kamar kamu dimana?.” Tanya Damar.
“Saya tinggal di kelas 1A Om, kalau Om dimana?.” Tanya Saka balik.
“Om tinggal di 1A juga, ini kartu nama Om, kamu bisa hubungi Om,” Saka menerima kartu nama yang di sodorkan Damar.
“Iya Om, nanti Saka akan menghubungi Om Damar,.” Balas Saka.
Makanan yang di pesan Damar tiba.
“Ayo Saka, kita makan bersama, nanti makananmu enggak enak loh kalau terlalu dingin.” Ucap Damar, Saka hanya mengangguk.